<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Kang Arul &#187; Penulis &amp; Buku</title>
	<atom:link href="http://kangarul.wordpress.com/category/penulis-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kangarul.wordpress.com</link>
	<description>365 Days to Becoming Success Writers...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Oct 2009 11:46:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kangarul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fe4b14b79136c4a94e7fb19cd53fa1c7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Kang Arul &#187; Penulis &amp; Buku</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kangarul.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Kang Arul" />
		<item>
		<title>13 Kesalahan (yang kadang Disengaja) Penerbit ==ADA LOMBANYA!==</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2009/02/07/13-kesalahan-yang-kadang-disengaja-penerbit-ada-lombanya/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2009/02/07/13-kesalahan-yang-kadang-disengaja-penerbit-ada-lombanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 23:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2009/02/07/13-kesalahan-yang-kadang-disengaja-penerbit-ada-lombanya/</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah daftar dari 10 hal yang nggak mungkin salah satunya pernah menimpa Anda, entah itu penulis pemula maupun penulis yang udah nggak pemula lagi  
1. Tidak pernah memberi kabar nasib naskah. Sesuai janji atau promosi yang sering dilakukan penerbit &#8220;naskah akan dinilai dan dikabari minimal satu bulan sampai tiga bulan&#8221;, tetapi udah berbulan-bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=113&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah daftar dari 10 hal yang nggak mungkin salah satunya pernah menimpa Anda, entah itu penulis pemula maupun penulis yang udah nggak pemula lagi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>1. Tidak pernah memberi kabar nasib naskah. Sesuai janji atau promosi yang sering dilakukan penerbit &#8220;naskah akan dinilai dan dikabari minimal satu bulan sampai tiga bulan&#8221;, tetapi udah berbulan-bulan kabar angin pun tidak ada.</p>
<p>2. Hilang ditelan bumi. Dulu awalnya sering nelpon, eh pas naskah di tangan sang penanggung jawab hilang ditelan bumi. Jangankan diangkat telpon, sms atawa email pun nggak di balas. Pas disamperin ke kantor penerbitnya; bilang nggak adalah, udah pindah lah, inilah&#8230; itulah&#8230; Eh, pas ketemu di pameran buku tu orang pasang wajah nggak berdosa&#8230;</p>
<p>3. Tak jadi terbit walau sudah tanda tangan perjanjian. Ini lebih menyesakkan lagi, udah tanda tangan perjanjian eh tahu-tahu dikasih kabar bukunya nggak jadi terbit. Padahal naskah itu sudah setahun nginep di penerbit. &#8220;maaf ya, karena kebijkan akhirnya naskah Anda kami batalkan terbitnya. Anda boleh kok nawarin ke penerbit lain.&#8221;</p>
<p>4. Pesen pepesan kosong. Ada penerbit yang mesen ini dan mesen itu. Sebagai penulis (apalagi pemula) percaya aja dengan pesen itu. Nah, setelah naskah jadi, malah nggak tahu kabarnya lagi.</p>
<p>5. Diplomasi yang bikin basi. &#8220;Coba deh Anda tulis dulu naskahnya. Ntar kita baca.&#8221; Maka si penulis buatlah naskah itu dengan serius, berbulan-bulan, menghabiskan modal, tenaga, dan tentu saja pikiran. Pas jadi, jawabannya &#8220;wah, nggak asik nih naskah. Kita tolak.&#8221; Duh, kenapa ngga dari awal bilang kalo penerbit nggak bisa janji, tapi semua akan diberlakukan sama bahwa naskah yang dinilai adalah naskah yang sudah ada/jadi.</p>
<p>6. Nggak pernah ngasih laporan. Ini banyak banget penerbit yang melakukan ini. Buku udah terbit, tapi laporan sekalipun nggak pernah ada. Jangankan royalti, harapan denger kabar berapa yang terjual pun nggak pernah.</p>
<p>7. Terlambat bayar hak penulis. Kalo udah minta naskah, bisa sehari beberpa kali nelpon. Kalo minta revisi, SMS pasti nyerang terus. Eh, pas ditagih pembayarannya&#8230; bilangnya tar sok &#8211; tar sok&#8230;</p>
<p>8. Laporan ganda yang bayarnya kecil aja. Ini soal kejujuran laporan penjualan penerbit. Penulis kadang dibohongi dengan penjualan resmi, mereka hanya dapat penjualan fiktif yang jelas-jelas serapannya kecil dan dampaknya royalti yang diterima pun kecil banget.</p>
<p>9. Yang tak jelas nasibnya. Buku sudah dicetak, sudah ada di pasar, sudah bertahun-tahun berlalu tapi tetap saja ada yang nggak jelas nasib buku itu selanjutnya. Tidak pernah ngasih kabar bagaimana kelanjutan kerjasama soal buku itu. Eh, tahunya denger kabar perusahaannya udah bangkrut, eh tahunya udah ganti nama penerbit, eh tahunya udah ganti kepemilikan, namun tetep saja nasib penulis nggak pernah dikasih kabar apapun.</p>
<p>10. Dipimpong melulu. Mungkin memang haknya menanya soal naskah, dan ansibnya tapi selalu aja jadi bulan-bulanan di pimpong. Hari ini nanya kepada si A dikasih tahu &#8220;tanya si B&#8221;. Besok nanya si B eh dibilang &#8220;wah itu urusan si C&#8221;&#8230; sampai pada &#8220;eh, maaf si A kemarin udah pindah kerja, jadi naskahnya kita baca lagi&#8221;. Deziiiiiiiiiiggg</p>
<p>11. Penulis dikenai kewajiban menjual beberapa ratus eks buku dan itu sudah menjadi kewajiban penulis. Nah lo, susah ngomong deh&#8230;</p>
<p>12. Bermain-main dengan surat perjanjian. Misalnya aja nih ya &#8220;Royalti akan dibayarkan kalo buku sudah kejual sebanyak 100 eks&#8221;. Bayangkan kalo selama 2 tahun buku yang kejual cuma 99 eks aja&#8230; sampai kapan juga tu royalti nggak bakal nongol Ini baru satu pasal, belum pasal yang lain&#8230;. soal pajak buku yang dibebankan ke penulis, soal hak melihat prof awal sebelum dicetak, soal jumlah pembayaran, soal&#8230; soal&#8230;</p>
<p>13. Tidak pernah membayar royalti dan hak naskah. Ini udah jelas, nggak perlu diperjelas lagi.</p>
<p>Nah, buat Anda penulis (pemula) yang punya pengalaman menyebalkan berkaitan dengan naskah dan hubungan ke penerbit, sila kirim pengalaman Anda itu ke redaksi@menulisyuk.com ( redaksi at menulisyuk dot com), 10 tulisan menarik akan mendapatkan Paket Buku, CD Writers Marketing seharga Rp100.000 dan Voucher HP Rp10.000.</p>
<p>Tulisan yang Anda kirim akan dipublikasikan di www.menulisyuk.com sebagai artikel yang bisa diakses semua penulis dan menjadi bahan renungan penerbit.</p>
<p>kangarul</p>
<p>ceo menulisyuk komunikata</p>
<p>tempatnya para penulis pemula</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=113&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2009/02/07/13-kesalahan-yang-kadang-disengaja-penerbit-ada-lombanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing: Seberapa Kuat Usahanya</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 06:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[BUUZZZ&#8230;
&#8220;Kang&#8230;!&#8221;
&#8220;Ya? Ada apa, Bos?&#8221;
&#8220;Sebel saya. Naskah ditolak ama penerbit. Ugh, sebel.&#8221;
&#8220;Oya, sabar aja ya.&#8221;
&#8220;Padahal kan saya sudah nulisnya empat bulan leebih.. dan bla bla bla.&#8221;
* * *
Keluhan demi keluhan rasanya sudah menjadi &#8216;kebiasaan&#8217; rutin yang dilontarkan penulis (pemula) berkaitan dengan penolakan yang dilakukan oleh penerbit terhadap naskahnya. Penolakan yang sebenarnya adalah hal yang wajar dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=83&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/76/49/17764928/42-17764928.jpg" alt="" width="115" height="170" />BUUZZZ&#8230;</p>
<p>&#8220;Kang&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya? Ada apa, Bos?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebel saya. Naskah ditolak ama penerbit. Ugh, sebel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oya, sabar aja ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal kan saya sudah nulisnya empat bulan leebih.. dan bla bla bla.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Keluhan demi keluhan rasanya sudah menjadi &#8216;kebiasaan&#8217; rutin yang dilontarkan penulis (pemula) berkaitan dengan penolakan yang dilakukan oleh penerbit terhadap naskahnya. Penolakan yang sebenarnya adalah hal yang wajar dan lumrah. Penolakan yang dalam dunia penerbitan adalah keputusan wajib yang harus diambil demi terus memutar roda industrinya.</p>
<p>Namun, biasanya penolakan tersebut dipandang berbeda oleh penulis (pemula). <em>Pertama</em>, penolakan sering merupakan pertanda bahwa itulah gong bahwa ia tidak cocok jadi penulis. Sehingga ketika mendengar/membaca penolakan penerbit motivasinya langsung runtuh dan depresi. Sebagai racun bahwa ia harus mulai berhenti menulis. Padaha kata om Stephen King, kegagalan pertama adalah ketika engkau berhenti menulis.</p>
<p><em>Kedua</em>, terlalu convidence banget. penulis sering berada di dunia khayalan. Maksudnya, tentu setiap mereka yang mengirimkan naskah ada harapan besar yang terselip di hatinya bahwa naskah ini akan diterima dan akhirnya diterbitkan. Nah, khayalan ini kebawa sampai dalam mimpi sehingga secara sadar atau tidak mengikis rasa percaya dirinya atau membangkitkan rasa pede secara ekstrim. Ketika datang penolakan, penulis (pemula) mulai mencari pembenaran, menyalahi penerbitnya yangn kurang profesional dan mengnerti sebuah naskah bagus, ngomong ke sana kemari kalau ia punya naskah bagus banget, dan minimal dalam dirinya tidak mengakui kalo naskahnya memang tidak layak.</p>
<p>Sebenarnya pertanyaan yang paling penting adalah &#8217;seberapa kuat usaha penulis (pemula) menghadapi penolakan tersebut&#8217;?</p>
<p><em>Apakah merevisi naskah yang ditolak itu sehingga menjadi jauh lebih bagus?</em> Biasanya penerbit yang profesional menyertakan lampiran alasan penolakan naskah. Dengan demikian, penulis (pemula) bisa tahu dimana mereka akan memulai memerbaikinya.</p>
<p><em>Apakah sudah menawarkan ke penerbit lain?</em> Kenyataannya jumlah penerbitan sangat banyak sehingga peluang menerbitkan naskah menjadi jauh lebih banyak pula dan tentunya pihak redaksi penerbitan z memiliki kriteria yang berbeda dengan redaksi penerbitan.</p>
<p>So, seberapa kuat usaha penulis (pemula) mengantisipasi dan mengatasi penolakan itu sebelum mengeluh soal naskah yanng ditolak?</p>
<p>Dan yang lebih &#8216;keren lagi&#8217; ngeluh ama penulis lainnya sementara penulis lainnya juga sedang pusing mikirin pembayaran dari penerbit yang belum turun-turun juga. Hahhaha&#8230;</p>
<p>Note: Foto dari corbis.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=83&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/76/49/17764928/42-17764928.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Minta Maaf untuk Buku JADI SELEB DI BLOG</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 10:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[kepada blogger Indonesia..
Selaku penulis buku dan juga blogger, saya minta maaf soal kasus gambar di halaman 112 di buku JADI SELEB DI BLOG
Sebegai penulis saya minta maaf kalo gambarnya digunakan di buku saya, sebagai penulis dan juga blogger saya juga minta maaf kalo saya &#8216;dianggap&#8217; copycat masalah gambar tanpa ijin dari pemiliknya, sebagai penulis saya cuma [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=78&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>kepada blogger Indonesia..</p>
<p>Selaku penulis buku dan juga blogger, saya minta maaf soal kasus gambar di halaman 112 di buku JADI SELEB DI BLOG</p>
<p>Sebegai penulis saya minta maaf kalo gambarnya digunakan di buku saya, sebagai penulis dan juga blogger saya juga minta maaf kalo saya &#8216;dianggap&#8217; <em>copycat</em> masalah gambar tanpa ijin dari pemiliknya, sebagai penulis saya cuma mau bilang.. kalo saya hanya menyerahkan naskah saja&#8230; tidak gambar, tidak ilustrasi, dan tidak berkaitan dengan perwajahan&#8230;</p>
<p>Sebagai penulis sekaligus blogger&#8230; saya adalah orang yang mendukung gerakan antipembajakan konten blog.</p>
<p>But, makasih atas masukannya&#8230; ini membuat saya harus banyak belajar. Belajar untuk mengetahui semua proses secara detail, belajar untuk melakukan tabayunklarifikasi, belajar untuk mengakui kesalahan&#8230; secepatnya saya akan menggubungi penerbitnya untuk memberikan &#8216;teguran&#8217; masalah ini. Tapi ijinkanah selaku penulis untuk mewakili penerbit, MOHON MAAF UNTUK KETIDAKNYAMANAN INI&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=78&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>menulis!com CARI NASKAH BUKU</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/11/menuliscom-cari-naskah-buku/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/11/menuliscom-cari-naskah-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 12:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2008/01/11/menuliscom-cari-naskah-buku/</guid>
		<description><![CDATA[Mengantisipasi tawaran permintaan naskah dari penerbitan yang sudah mapan di Jakarta dan Bandung, maka menulisyuk!com membuka kesempatan kepada siapapun yang memiliki naskah-naskah non fiksi untuk menawarkan naskah tersebut kepada menulisyuk!com yang nantinya akan dinegosiasikan kepada pihak penerbit.
Saat ini ada lebih dari 20 naskah per bulan yang harus di&#8217;suplay&#8217; oleh menulisyuk!com baik dari naskah untuk anak-anak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=67&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img border="0" align="left" width="170" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/79/27/17792720/42-17792720.jpg" height="132" />Mengantisipasi tawaran permintaan naskah dari penerbitan yang sudah mapan di Jakarta dan Bandung, maka menulisyuk!com membuka kesempatan kepada siapapun yang memiliki naskah-naskah <strong>non fiksi</strong> untuk menawarkan naskah tersebut kepada menulisyuk!com yang nantinya akan dinegosiasikan kepada pihak penerbit.</p>
<p>Saat ini ada lebih dari 20 naskah per bulan yang harus di&#8217;suplay&#8217; oleh menulisyuk!com baik dari naskah untuk anak-anak, remaja, wanita, keluarga, dan sebagainya.</p>
<p>Jika Anda punya naskah atau Anda ingin punya buku tetapi tidak tahu apa yang harus ditulis atau <strong><font color="#008000">Anda ingin bergabung menjadi jaringan penulis, editor, desainer-ilustrator</font></strong> di menulisyuk!com, maka segera kirimkan CV/riwayat hidup (plus naskah, kalau sudah ada) by email redaksi@menulisyuk.com atau bisa juga ke <a href="mailto:kangarul@menulisyuk.com">kangarul@menulisyuk.com</a></p>
<div style="text-align:center;"><img border="0" width="506" src="http://www.menulisyuk.net/logo.gif" height="88" style="width:442px;height:74px;" /></div>
<p>menulisyuk!com merupakan agensi freelance yang bergerak di bidang penerbitan; pencarian naskah, pengerjaan layout-desain, pengerjaan ilustrasi, konsultan, serta penyediaan SDM. menulisyuk!com bekerja secara independent serta profesional.<strong><font color="#ff0000">NOTE:</font></strong> <font color="#808000">Hubungan dengan penulis bersifat sebagai perantara; sampai tingkat penyusunan MoU dengan penerbit, dan kondisi lainnya yang dianggap perlu. menulisyuk!com untuk saat ini tidak menentukan sistem besaran pembayaran jasa dari penulis, besaran bayaran diserahkan secara sukarela kepada penulis.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=67&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/11/menuliscom-cari-naskah-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/79/27/17792720/42-17792720.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.menulisyuk.net/logo.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sincere dalam Menjual Naskah</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/09/sincere-dalam-menjual-naskah/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/09/sincere-dalam-menjual-naskah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 08:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2008/01/09/sincere-dalam-menjual-naskah/</guid>
		<description><![CDATA[Sincere. Dalam kamus Bahasa Inggris ketika menyebutkan kata ‘Sincere’, maka padanan kata tersebut antara lain adalah truthful, earnest, genuine, atau honest. Semua kata tersebut bermuara pada satu kesimpulan; dapat dipercaya!
Namun, tahukan bahwa sebenarnya kata ‘Sincere’ berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tanpa lilin’?
Dahulu kala setiap pengrajin kayu gemar menggunakan lilin. Sebab, tidak semua kayu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=66&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/59/21/18592168/42-18592168.jpg" align="left" height="170" width="121" />Sincere. Dalam kamus Bahasa Inggris ketika menyebutkan kata ‘Sincere’, maka padanan kata tersebut antara lain adalah truthful, earnest, genuine, atau honest. Semua kata tersebut bermuara pada satu kesimpulan; dapat dipercaya!</p>
<p>Namun, tahukan bahwa sebenarnya kata ‘<b>Sincere</b>’ berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘<b>tanpa lilin</b>’?</p>
<p>Dahulu kala setiap pengrajin kayu gemar menggunakan lilin. Sebab, tidak semua kayu yang mereka dapatkan memiliki kualitas terbaik dan tanpa cacat ketika dijadikan bahan rumah tanggah mulai dari lemari, kursi, sampai pintu. Lilin sangat membantu untuk menutupi cacat tersebut. Sebelum di cat, bagian kayu yang bolong –entah karena termakan rayap atau retak— terlebih dahulu ditutupi oleh lilin. Ketika selesai, tak tampak semuanya terlihat sempurna.</p>
<p>Namun, yang terlihat sempurna itu akhirnya terbongkar pula. Barang-barang kayu yang berada diletakkan di tempat bersuhu panas atau disengat matahari menyebabkan lilin yang dipakai meleleh. Celakanya, hal ini terjadi di hampir semua rumah. Sejak saat itu mereka kehilangan kepercayaan terhadap pengrajin kayu.</p>
<p>Melihat gelagat yang tidak baik ini, para pengrajin pun sadar. Mereka pun  mulai membuat barang-barang dari kayu tanpa menggunakan lilin. Dan untuk meyakinkan pembeli, semua pengrajin dan penjual barang-barang dari kayu memasang tulisan ‘SINCERE’ atau tanpa lilin, berasal dari kata ‘sine’ berarti lilin dan ‘cere’ yang berarti tanpa.</p>
<div align="center">* * *</div>
<p>Tidak berlebihan dikatakan bahwa selama ini hubungan yang dilakukan antara penulis dan penerbit berkaitan dengan naskah adalah hubungan yang dibangun secara kobvensional. Artinya, seorang penulis –entah itu penulis pemula hingga penulis profesional— mengajukan naskah yang sudah jadi ke pihak penerbit; menyerahkan  sepenuhnya penilaian naskah jadi tersebut di tangan redaksi penerbitan dan menunggu antara satu hingga enam bulan sampai keputusan itu datang.</p>
<p>Bagi banyak penulis ini adalah mekanisme yang wajar. Namun, bagi banyak penulis juga, apalagi bagi mereka yang baru menghasilkan satu naskah, hal ini kadang merupakan penyiksaan. Satu hingga enam bulan adalah waktu yang terasa lama hanya untuk mendengar kata ‘IYA’ atau ‘TIDAK’. Dan penyiksaan itu semakin bertambah apabila penolakan yang disampaikan oleh penerbit tanpa disertai penjelasan apapun. Lalu, apa yang kurang dari naskah ini? Kalau ada bagian yang kurang bagaimana memperbaikinya agar sesuai dengan selera ‘IYA’ redaksi? Atau tema yang kurang trend, lalu tema apa yang sedang laku di pasar?</p>
<p>Pertanyaan yang terjawab adalah kenyataan, walau kadang pahit. Namun, apabila pertanyaan hanya bisa dijawab oleh pertanyaan pula, maka itulah misteri. Mimpi buruk semalam. Dan Anda harus keluar dari mimpi buruk itu!</p>
<p>Caranya? Ubahlah mekanisme konvensional yang selama ini diyakini. Ubahlah hubungan penulis dengan penerbit dalam hal naskah  menjadi hubungan yang satu tingkat naik ke atas; jangan tawarkan naskah jadi ke penerbit, tetapi tanyakan naskah apa yang diinginkan oleh penerbit yang bisa Anda siapkan!</p>
<p>Mungkin ajuan ini terdengar asing, tetapi mekanisme modernis ini telah dilakukan oleh banyak penulis di Indonesia. Ada banyak penulis yang menikmati uang di muka dari naskah buku yang belum ditulis. Juga, ada banyak penerbit yang mulai senang melakukan cara ini.</p>
<p>Hanya saja untuk sampai pada tahap ini tidaklah mudah. Setidaknya ada beberapa kondisi yang memang menjadi landasan utama untuk membangun hubungan antara penulis dan penerbit dalam hal naskah ke tahap selanjutnya.</p>
<p>Pertama, antara penulis dan penerbit sudah ada hubungan yang baik. Ketika disebutkan si penulis A, maka pihak penerbit tahu bahwa yang dimaksud adalah si penulis A itu, bukan penulis R, penulis U, atau penulis L. Hubungan ini terjadi dalam dua kondisi, penulis yang mencoba membuka pintu perkenalan ke pihak penerbit atau pihak penerbit yang tahu tentang penulis karena telah membaca karya-karyanya.</p>
<p>Kedua, penerbit punya bagian research and development, bagian yang melakukan penelitian demi penelitian untuk mengetahui buku-buku bertema apa yang sedang laku di pasar. Data yang dikumpulkan oleh bagian ini menjadi pertimbangan utama –walau bukan satu-satunya— bagi redaksi untuk menentukan kebijakan buku apa yang akan diterbitkan selanjutnya. Karena itu pihak penerbit akan menghubungi penulis-penulis yang bisa menggarap naskah bertema tersebut.</p>
<p>Anda bukan penulis yang telah punya nama dan terkenal, jadi jangan berharap durian runtuh, penerbit tiba-tiba tahu nomor kontak, langsung menghubungi, dan langsung meminta Anda untuk menulis naskah pesanan. O ho… <i>it’s a miracle</i>!</p>
<p>Namun, tidak perlu menjadi terkenal untuk bisa menerapkan mekanisme modernis hubungan penulis dan penerbit dalam hal naskah. Siapapun juga, bisa saja mengajukan draft, usulan, pemikiran, rancangan, hingga tema-tema yang marketable ke pihak penerbit. Sebaliknya, penerbit merasa yakin bahwa naskah yang ditawarkan tersebut adalah naskah yang mereka inginkan.</p>
<p>Lakukan IDAMAN! <b>Introducing </b>(perkenalkan) diri ke penerbit manapun yang bisa menjadi atau memungkinkan untuk ditawarkan kerjasama ini. <b>Discuss </b>(berdiskusilah) dengan pihak redaksi tentang rencana-rencana naskah buku yang ditawarkan, atau bertanyalah tentang apa yang sedang dibutuhkan oleh penerbit. <b>Assuring</b> (yakinkan) pihak redaksi bahwa Anda bisa menghasilkan naskah yang bagus dan sesuai dengan yang dibutuhkan. <b>Making</b> (buatlah) naskah dengan serius. Terakhir, <b>No-doubt!</b> (tidak disangsikan lagi) bahwa naskah yang telah jadi adalah naskah berkualitas yang terbaik dan diserahkan ke penerbit sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan bersama.</p>
<p>Inilah yang dimaksud dengan menjual naskah sebelum ditulis.</p>
<div align="center">* * *</div>
<p>Namun, ketika Anda melakukan hal tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilanggar. Bahwa kepercayaan yang diberikan oleh penerbit untuk menulis naskah jangan dibayar dengan hasil yang mengecewakan, tidak sesuai dengan keinginan penerbit, halaman yang kurang, sampai batas waktu yang terlewat. Ini sama saja seperti menaruh lilin untuk menyamarkan kualitas diri sebagai penulis –yang sebenarnya tidak mampu— di mata penerbit.</p>
<p>Ketika dalam proses diskusi kesepakatan yang dicapai bahwa naskah yang diingkan harus jadi dalam waktu satu bulan, maka satu bulan kemudian naskah itu harus jadi. Tidak boleh tidak. Malah menjadi nilai lebih apabila sebelum genap satu bulan naskah sudah diserahkan ke penerbit. Ada kepercayaan yang menjadi pertaruhan di sini.</p>
<p>Apabila kepercayaan tersebut dinodai, yakinlah bahwa pihak penerbit memiliki memori yang kuat untuk mengingat ‘kecelakaan’ tersebut. Banyak perencanaan yang berantakan akibat ulah Anda; mulai dari rencana pengembangan dan produksi, jadwal pengerjaan naskah, jadwal cetak, rencana promosi dan penjualan, serta rencana keuangan. Efek domino yang menyesakkan bagi pihak penerbit. Lalu, penerbit pun menaruh nama Anda sebagai orang yang tidak layak dan patut dihindari apabila ingin melakukan kerjasama. Beruntunglah Anda apabila penerbit tidak meniup isu (yang benar) ini kepada kolega penerbitnya yang lain.</p>
<p>Yang lebih ekstrem lagi, tidak ada kesempatan kedua bagi Anda memperbaiki hal ini, meski Anda datang ke penerbit dengan membawa sertifikat bertuliskan ‘SINCERE’, tanpa lilin!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/66/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/66/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=66&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/09/sincere-dalam-menjual-naskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/59/21/18592168/42-18592168.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing : Di antara Buku-buku</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/01/writers-marketing-di-antara-buku-buku/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/01/writers-marketing-di-antara-buku-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 07:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2008/01/01/writers-marketing-di-antara-buku-buku/</guid>
		<description><![CDATA[“Yakin kau semua yang dikubur di sini adalah Pahlawan?” (dari Film Nagabonar Jadi 2)
Dulu, sewaktu masih sekolah dasar, setiap Senin pagi semua anak-anak sekolah kumpul di lapangan sekolah. Tentu saja, kumpulnya para bocah itu untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera; yang sudah menjadi kegiatan wajib hingga sampai saat ini. Dan di setiap Senin pagi itu, ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=23&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“<i>Yakin kau semua yang dikubur di sini adalah Pahlawan</i>?” (dari Film Nagabonar Jadi 2)</p>
<p>Dulu, sewaktu masih sekolah dasar, setiap Senin pagi semua anak-anak sekolah kumpul di lapangan sekolah. Tentu saja, kumpulnya para bocah itu untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera; yang sudah menjadi kegiatan wajib hingga sampai saat ini. Dan di setiap Senin pagi itu, ada dua hal yang wajib dikenakan; topi dan dasi. Kalau saja ada murid yang tidak memakai topi dan dasi, maka ia akan terlihat beda; dan perbedaan tersebut bisa disaksikan oleh siapapun yang menolehkan kepala di lapangan tempat berlangsungnya upacara bendera itu.</p>
<p><img ALIGN="left" HEIGHT="170" WIDTH="136" BORDER="0" SRC="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/18/43/96/18439613/42-18439613.jpg" />Kita bukan berbicara soal pelanggaran ketentuan; yang kalau ada murid tidak memakai topi serta dasi, maka dipastikan ia akan malu karena dihukum berdiri di depan menghadap  ratusan murid selama upacara berlangsung.  Dalam Writers Marketing, menjadi lain karena tidak ‘memakai topi dan dasi’ adalah strategi dalam memenangkan persaingan penjualan buku. Namun, dalam menjual buku harus ada stopping power, yaitu kekuatan mengarahkan calon pembeli/pembaca untuk menoleh, membaca kaver buku, dan akhirnya memutuskan membeli buku tersebut. Dan stopping power yang paling efektif adalah menjadi aneh dan unik di antara yang lain.</p>
<p>Bayangkan, di antara ratusan murid-murid yang berbaris ada satu kepala yang tidak mengenakan topi. Tentu murid itu menjadi yang paling ‘aneh dan unik’ di antara yang lain. Begitu juga dengan buku. Sebuah buku merupakan barisan ratusan buku lainnya di barisan rak, ribuan di antara buku-buku yang ada di lemari buku, dan satu di antara jutaan buku yang terdapat di toko buku. Bagaimana memenangkan hati calon pembeli/pembaca kalau buku yang kita tulis sama seperti yang lain?</p>
<p>Dalam film Nagabonar Jadi 2, ada dialog menarik antara Nagabonar (diperankan oleh Deddy Mizwar) dengan seorang supir bajaj, Umar(diperankan oleh Lukman Sardi), ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kalibata.</p>
<p>“Ini taman makam pahlawan?” tanya Nagabonar.</p>
<p>“Iya, Pak,” jawab Umar mantap.</p>
<p>Mendengar iru Nagabonar spontan memberikan penghormatan. Namun, beberapa saat kemudian Nagabonar bertanya kembali kepada Umar, “Yakin kau semua yang dikubur di sini adalah Pahlawan?”</p>
<p>Komentar satire yang mengandung keragu-raguan ini pasti tidak akan muncul apabila seorang Nagabonar memiliki keyakinan bahwa semua yang dimakamkan itu adalah pahlawan. Begitu juga dengan calon pembaca. Mereka harus memiliki keyakinan bahwa buku yang mereka pegang di toko buku tersebut adalah buku yang harus mereka bawa ke kasir dan dibawa pulang untuk dibaca. Jika itu yang terjadi, maka buku tersebut sudah keluar sebagai pemenang dalam persaingan.</p>
<p>Nah, memenangkan persaingan penjualan buku haruslah dengan menjadi buku yang paling aneh dan unik. Menjadi buku yang tidak memakai topi dan dasi di antara barisan buku yang seragam. Buku yang sesuai dengan kebutuhan dan yang diperlukan oleh calon pembaca. Buku yang memiliki desain kaver –depan, belakang, dan punggung buku—yang jauh lebih menarik, eye catching, dan mendukung topik yang ditulis. Buku yang memiliki judul buku yang singkat, kadang hanya satu hingga 4 kata saja, tetapi menggambarkan kandungan buku. Buku yang  ditulis oleh ANDA!</p>
<p><img ALIGN="right" HEIGHT="113" WIDTH="170" BORDER="0" SRC="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/15/60/74/15607498/42-15607498.jpg" />Semua yang berkaitan dengan buku, mulai dari siapa yang menulis hingga berada di rak toko buku harus menjadi kekuatan sebuah buku. Stopping power yang menentukan apakah buku X lebih layak dibeli daripada buku Z. Sebuah pertimbangan membeli buku yang lebih sering diputuskan hanya dalam hitungan beberapa detik.</p>
<p>Don’t judge a book by it covers adalah himbauan untuk tidak menilai kualitas sebuah buku hanya berdasarkan pada tampilan sampul buku tersebut. Akan tetapi, banyak calon pembaca yang selama ini datang ke toko buku dan membeli buku hanya karena satu alasan: kavernya bagus!</p>
<p>Sebagai penulis, kita harus punya keyakinan dan keberanian. Keyakinan bahwa naskah yang kita tulis layak untuk diterbitkan. Keberanian meyakinkan pihak penerbit bahwa kita sangat senang dilibatkan dalam proses pengolahan naskah, desain, bahkan sampai strategi promosi apa yang mungkin dilakukan bersama penerbit.</p>
<p>Dengan begitu, buku yang kita tulis akan menjadi unik dan aneh di antara buku-buku yang lain.</p>
<p><strong>REFERENSI&#8230;</strong></p>
<p>1. <a TARGET="_blank" HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Stopping_power">Tentang Stopping Power dari  Wikipedia, the free encyclopedia</a></p>
<p>2. <a TARGET="_blank" HREF="http://arul.multiply.com/journal/item/20">Writers Marketing, Namanya SMS dari arul.multiply.com</a></p>
<p>3.  <a TARGET="_blank" HREF="http://www.writersbreak.com/Marketing/Articles/article_marketing_sellnobookbeforeitstime_1.htm">Sell No Book Before Its Time by Brian Judd</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=23&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/01/01/writers-marketing-di-antara-buku-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing, di Luar Itu</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/18/writers-marketing-di-luar-itu/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/18/writers-marketing-di-luar-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 00:58:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2007/09/18/writers-marketing-di-luar-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Baca atau menyaksikan berita nggak hari ini? Entah itu melalui koran, majalah, radio, televisi, media online, atau bahkan lewat bisikan tetangga?
Nah, sebuah berita biasanya dikatakan menarik dan layak diberitakan karena peristiwa tersebut mengandung beberapa unsur penting dalam kaidah jurnalistik; kedekatan peristiwa, melibatkan orang-orang terkenal, mengandung human interest, uni, ada konflik, kadang lucu, dan sebagainya.
Rumusan unsur-unsur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=7&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baca atau menyaksikan berita nggak hari ini? Entah itu melalui koran, majalah, radio, televisi, media online, atau bahkan lewat bisikan tetangga?</p>
<p>Nah, sebuah berita biasanya dikatakan menarik dan layak diberitakan karena peristiwa tersebut mengandung beberapa unsur penting dalam kaidah jurnalistik; kedekatan peristiwa, melibatkan orang-orang terkenal, mengandung human interest, uni, ada konflik, kadang lucu, dan sebagainya.</p>
<p>Rumusan unsur-unsur ini menjadi pegangan penting bagi setiap jurnalis dalam melaksanakan tugasnya. Dan bagi seorang jurnalis profesional, dalam sekilas saja dia melihat suatu peristiwa, maka bisa dipastikan dia bisa memutuskan bahwa peristiwa ini layak diberitakan.</p>
<p>Akan tetapi, Mc Namus (Market Driven Journalism, Let The Ciizen Beware) menegaskan bahwa ketika dipublikasikan melalui media, ada banyak hal dari sekadar unsur-unsur yang disebutkan tadi, yang dalam banyak kasus berada di luar peristiwa serta tidak ada kaitannya dengan pekerjaan jurnalistik.</p>
<p>Apa itu? McNamus mengatakan <span style="font-weight:bold;">&#8220;intervensi pemodal, keinginan pemilik, tuntutan publik/khalayak&#8221;.</span></p>
<p>Dalam seri Writers Marketing saat ini (wah, kayak sesi latihan motivasi aja neh&#8230;<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/wink.png" /> ) dua yang pertama menegaskan bahwa apabila seseorang punya banyak duit atau digit rekeningnya berderet panjang, maka segala yang berkaitan dengan ketentuan konvensional sebuah naskah bisa saja dilupakan. Apakah naskah itu bagus atau tidak, temanya menarik atau tidak, layak dilempar ke publik atau jangan, bagus dipromosikan atau tidak, dan sebagainya menjadi tak berdaya apabila yang menentukan yang megang duit itu sendiri.</p>
<p>Jadi tidak perlu repot-repot menimbang, mengingat, dan menetapkan soal tulisan Anda. Punya duit ya terbitin dan promosiin aja sendiri.</p>
<p>Tapi kan yang namanya penulis, rata-rata nih dan kebanyakan aja dan asumsi saya aja lho, kantongnya pas-pasan. Jangankan untuk nyetak buku sendiri, mau nge-print naskah aja kalo bisa ada yang numpang alias gratis ya dilakonin. Terlebih lagi &#8211;ini kenyataan pahit yang harus diterima semua penulis, lho&#8211; tidak semua penulis bernasib baik bisa menggantungkan pemasukannya dari menulis. Sebuah koran nasional yang honornya sampai satu jete juga belum tentu bisa ditembus, palingan yang bisa media-media yang ngasih honor 100 sampai 300 rebu. Lumayan? Hmm&#8230; kalo sebulan dimuat minimal 4 kali sih emang luamayan, lha ini kalo tiga bulan baru dimuat? Gubraks dot com deh.<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/tongue.png" /></p>
<p>Nah, makanya point ketiga itu yang diambil. Tuntutan publik/khalayak atau bahasa kerennya &#8220;KEINGINAN PASAR&#8221;.</p>
<p>Maksud lo?</p>
<p>Sebagai penulis, trend buku di pasar atau di toko buku bisa dijadikan standar rujukan sebelum Anda membuat sebuah tulisan atau naskah. Biasanya beberapa penerbit mau kok ngobrol dan diskusi kepada penulis soal buku-buku jenis apa yang banyak diserap dan laku di pasaran.</p>
<p>Terlepas dari perdebatan bahwa mengikuti keinginan pasar sama saja menggadaikan idealisme penulis. Atau jenis buku yang menjadi best seller bisa tidak diduga-duga. Namun, satu hal yang bisa Anda pertimbangkan, setidaknya dengan membuat naskah yang banyak diminati pembaca membuat kaki Anda menapak satu anak tangga menuju seorang penulis yang memasarkan produknya. Dan yang paling penting, sebelum naskah itu jadi dan diserahkan ke penerbit Anda sudah melakukan strategi awal.<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/lightbulb.png" /></p>
<p>Ingat, penerbit sama halnya dengan lembaga-lembaga ekonomi yang menjadikan profit sebagai alasan utama menerbitkan buku. Jadi, perhitungan ekonomis dan profitable adalah rumus penting menilai sebuah naskah menjadi layak diterbitkan.</p>
<p>KECUALI jika penerbit itu punya Anda sendiri karena Anda banyak duit.<img src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=7&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/18/writers-marketing-di-luar-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/wink.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/tongue.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/lightbulb.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jualan ala Penulis; Membidik Pasar Komunitas</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/14/jualan-ala-penulis-membidik-pasar-komunitas/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/14/jualan-ala-penulis-membidik-pasar-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 02:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis & Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Public Relations]]></category>
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/2007/09/14/jualan-ala-penulis-membidik-pasar-komunitas/</guid>
		<description><![CDATA[
Banyak yang bilang kalau menjual buku ke konsumen ada batas psikologis yang harus ditembus, yaitu 3000 eks. Dan &#8220;&#8230; data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=5&subd=kangarul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><img src="http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?" /><img src="http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?" /><img width="304" src="http://www.cartoonstock.com/lowres/dre0185l.jpg" height="326" /></p>
<p><font size="2">Banyak yang bilang kalau menjual buku ke konsumen ada batas psikologis yang harus ditembus, yaitu 3000 eks. Dan &#8220;&#8230; data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 eksemplar per judulnya.&#8221;(</font><font size="2">Kompas, </font><font size="1" color="#cc0000" face="Verdana"><strong>Sabtu, 18 Juni 2005</strong></font>)</p>
<p>Jangan bandingkan dengan buku-buku yang menuai sukses di luar negeri, sebab bisa dipastikan bahwa akan pusing kepala kita memikirkannya. Bagaimana tidak, sebuah buku yang terkenal si Harry Potter itu bisa terjual lebih dari satu juta copy dalam 24 jam&#8230; sementara buku kita&#8230;. dapat 3000 dalam satu bulan pun sudah bikin syukuran di rumah.</p>
<p>Inilah kondisi terberat yang dihadapi oleh penulis dalam mengkomunikasikan pemasaran bukunya. Bagaimana sebuah buku harus bisa bersaing dengan erat dan sikut-sikutan di pasar buku yang sudah penuh dengan para pemain ini.</p>
<p>Apalagi, rasanya ini penting deh untuk direnungkan, jika kita menerbitkan di sebuah penerbit yang belum dikenal &#8211;dan celakanya nama kita juga nggak ada yang kenal <img src="http://images.multiply.com/common/smiles/tongue.png" />. <em>Brand image</em> sebuah penerbitan sangat mempengaruhi serapan pasar. Dan masalah semakin bertambah dengan persaingan di toko buku. Rasanya bukan rahasia umum lagi bila toko buku terbesar yang ada di Indonesia dikuasai oleh satu <em>brand</em> dan &#8216;celakanya&#8217; brand tersebut juga punya banyak unit penerbitan. Sehingga wajar dong kalau buku-buku penerbitan sendiri akan mendapatkan promosi yang luar biasa di toko buku sendiri.</p>
<p>Mengharap buku laris di pameran buku juga kurang layak dijadikan patokan. Sebab, pameran buku skala nasional tidak banyak. Paling banter tiga setahun; Indonesia Book Fair, Islamic Book Fair, Jakarta (dan daerah-daerah lain) Book Fair. Dan lagi-lagi dalam pameran itu saingannya bukan lagi hbitungan jari tangan dan jari kaki. Semua penerbit seakan-akan tumplek-bleg kayak penumpang kerata api jurusan Bogor-Jakarta di pagi hari.</p>
<p>Rumus penting bagi seorang penulis adalah &#8220;PENULIS PUNYA TANGGUNGJAWAB MELAKUKAN KOMUNIKASI PEMASARAN TERHADAP BUKU YANG DITERBITKAN!&#8221;</p>
<p>Lalu, sebagai penulis, apa yang mesti kita lakukan?</p>
<p>KOMUNITAS. Yup, lakukan komunikasi pemasaran buku yang kita tulis ke komunitas yang kita terlibat di dalamnya.</p>
<p>Sebagai makhluk sosial, tentu siapapun tidak bisa hidup sendirian. Perlu komunitas agar dirinya -dalam perspektif Mashlow- mendapatkan rasa nyaman, mampu mengaktualisasikan dirinya, diakui indentitas dirinya, terpenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. So, dalam pengertian mikro ada komunitas seperti keluarga, teman sekelas atau kuliah, gank nongkrong di ujung gang, temen main buu tangkis, atau kawan ngeronda malam. Sedangkan pengertian makro komunitas ada masyarakat, komunitas organisasi kemasyarakatan, komunitas sosial, komunitas politik, dan sebagainya.</p>
<p>Nah, kenapa tidak kita berdayakan komunitas-komunitas tersebut.</p>
<p>Misalnya nih ya, kita tergabung dalam KMSM alias Komunitas Motor Sering Mogok yang punya anggota sekitar 10 orang. Apa salahnya, saat buku kita terbit, kita tawarkan kepada anggota komunitas tersebut. Masak sih di antara 10 orang itu satu pun tidak ada yang beli, apalagi kalau kita adalah ketua gank-nya kan bisa tuh menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa semua anggota harus beli. <img src="http://images.multiply.com/common/smiles/wink.png" /></p>
<p>Bagaimana kekuatan komunitas itu juga diakui oleh beberpa penerbit, seperti dikutip <font size="2">Kompas, </font><font size="1" color="#cc0000" face="Verdana"><strong>Sabtu, 18 Juni 2005</strong></font></p>
<p><em>Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.</em></p>
<p><em>&#8220;Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 eksemplar,&#8221; kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.</em></p>
<p><em>Perencanaan promosi</em></p>
<p><em>Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang matang.</em></p>
<p><em>Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar tersebut. &#8220;Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan,&#8221; tutur Anton.</em></p>
<p><em>Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga diungkap Aris Buntarman. &#8220;Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas target marketnya berapa?&#8221; kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di bidang pemasaran buku.</em></p>
<p><em>Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah perang.</em></p>
<p><em>Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. &#8220;Tugas SPG kami untuk memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung,&#8221; kata Danang Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.</em></p>
<p><em>Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.</em></p>
<p><em>&#8220;Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik,&#8221; kata Hermawan menjelaskan.</em></p>
<p><em>Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai dengan keinginan pasar.</em></p>
<p><em>Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, ia tidak akan menjadi best seller.</em></p>
<p><em>Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja</em></p>
<p>Nah, masukkan kata KOMUNITAS dalam <em>checklist </em>komunikasi pemasaran Anda. Semoga saja dengan demikian buku Anda akan laku dipasaran!</p>
<p>Semoga&#8230;. saya juga dapat getah royaltinya&#8230; hehehhe! <img src="http://images.multiply.com/common/smiles/omg.png" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=5&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2007/09/14/jualan-ala-penulis-membidik-pasar-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f662739614522178d7ff4a1e12e2695a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?" medium="image" />

		<media:content url="http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?http://images.arul.multiply.com/image/6/photos/3/500x500/3.jpg/m-cewek_sombong_banget.jpg?" medium="image" />

		<media:content url="http://www.cartoonstock.com/lowres/dre0185l.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/tongue.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/wink.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.multiply.com/common/smiles/omg.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>