<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Kang Arul</title>
	<atom:link href="http://kangarul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kangarul.wordpress.com</link>
	<description>365 Days to Becoming Success Writers...</description>
	<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 03:34:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>8 C KEY Writers Marketing: CONCEPT</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/09/16/8-c-key-concept/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/09/16/8-c-key-concept/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 03:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Di salah satu sesi workshop kepenulisan yang diadakan Forum Lingkar Pena Jakarta, diikuti oleh peserta umum dan pada saat itu saya sebagai fasilitator, sebuah pertanyaan saya ajukan kepada puluhan peserta: “Siapa yang sudah punya niat ingin menjadi penulis sejak dua atau tiga tahun yang lalu, tetapi sampai saat ini belum satu tulisan pun yang dipublikasikan?”
Awalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di salah satu sesi workshop kepenulisan yang diadakan Forum Lingkar Pena Jakarta, diikuti oleh peserta umum dan pada saat itu saya sebagai fasilitator, sebuah pertanyaan saya ajukan kepada puluhan peserta: “Siapa yang sudah punya niat ingin menjadi penulis sejak dua atau tiga tahun yang lalu, tetapi sampai saat ini belum satu tulisan pun yang dipublikasikan?”</p>
<p>Awalnya saya menduga bahwa hanya satu dua peserta seminar saja yang mengangkat tangannya, ternyata yang terjadi sebaliknya. Dalam ingatan saya ada lebih dari 10 orang.  Lho, kok bisa? “Saya bingung menyelesaikan naskah”, “Waktunya sering nggak ada, sibuk dengan urusan keluarga”, “Kuliah. Banyak tugas dari dosen” hingga “Capek nulis, nggak pernah bisa tembus media apalagi diterbitkan”. Itulah sebagian di antara alasan-alasan yang terlontar dari mereka.</p>
<p>Kemudian, saya pun bertanya lagi. Kali ini angka tahunnya saya naikkan menjadi di atas lima tahun; saya menduga angka dua atau tiga tahun sudah cukup lama bagi seseorang yang hanya punya niat menulis, namun belum bisa memublikasikan naskahnya. Rupanya, lagi-lagi membuat saya sedikit berkerut antara percaya atau apa ini sekadar becanda, ada seseorang yang mengangkat tanggannya.</p>
<p>Di kesempatan acara kepenulisan lainnya, saya mencoba mengajukan sebuah pertanyaan lain: “Adakah yang sudah menulis naskah di komputer atau laptop, tetapi sampai sekarang naskah tersebut tidak selesai-selesai?” Seperti dugaan, banyak peserta yang mengangkat tangan. Uniknya lagi, yang mengangkat tangan tersebut sambil tersenyum-senyum; entah karena senyum menyadari ‘kesalahannya’ atau karena malu karena ketahuan ‘berbuat salah’.</p>
<p>Dua pertanyaan di atas selalu saya ajukan di setiap diminta menjadi pembicara, fasilitator, atau narasumber acara kepenulisan. Seperti mengalami de javu, saya selalu menemukan kenyataan yang berulang-ulang.</p>
<p>Akhirnya saya bertanya, sebenarnya apa betul mereka ingin jadi penulis?</p>
<p>***</p>
<p>Banyak alasan yang membuat ‘pekerjaan’ menyelesaikan sebuah naskah tertunda-tunda. Dari semua alasan faktor kesibukan dan ketiadaan waktu luang untuk menyelesaikan naskah adalah alasan yang paling difavoritkan. Pekerjaan yang menumpuk, kelelahan karena seharian beraktifitas, tugas-tugas kuliah yang banyak, urusan keluarga yang bikin pusing, anak-anak yang mengganggu, hingga selalu saja ada acara dadakan adalah sebagian kecil dari penyebab dari gagalnya seorang (calon) penulis menyelesaikan naskahnya.</p>
<p>Kita bisa membayangkan seorang ibu rumah tangga yang bekerja, memiliki dua orang anak yang masih kecil, mengurus rumah, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya apakah sempat menyelesaikan sebuah naskah? Jika ditilik sekilas, pasti waktu yang ada banyak tersita oleh urusan-urusan di atas dibandingkan dengan hanya menyelesaikan naskah yang bukan menjadi prioritas atau menempati urutan kepentingan paing bawah. Ketika ada dua pilihan yang diajukan, menyelesaikan naskah atau memasak makanan untuk makan pagi anak-anak dn suami, sudah bisa dipastikan bahwa sang ibu tersebut akan memilih pilihan kedua tanpa perlu mempertimbangakan argumen-argumen lainnya.</p>
<p>Lalu, apakah itu pilihan yang salah?</p>
<p>Tidak, itu bukanlah pilihan yang salah. Memaparkan kondisi di atas bukan berarti sedang membahas aspek salah-betul sesuai dengan perspektif writers marketing, melainkan sekadar menawarkan sebuah konsep seorang penulis.</p>
<p>Ada dua konsep yang harus dipilih bagi mereka yang ingin menjadi penulis atau mereka yang sudah belajar menulis, yaitu apakah menulis merupakan pekerjaan atau sekadar mengisi waktu luang? Jawaban dari masing-masing pertanyaan ini tentunya memiliki konsekuansi logis. Konsekuensi yang secara sadar maupun tidak langsung membentuk pola kebiasaan seseorang (penulis) ketika berhadapan dengan calon naskahnya.</p>
<p>Memilih untuk sekadar mengisi waktu luang berarti menulis hanya dilakukan jika memiliki kesempatan waktu di antara kesibukan-kesibukan lainnya. Tidak ada target utama harus menyelesaikan satu naskah dalam satu minggu atau dua bulan. Yang terpenting adalah menulis dilakukan jika semua pekerjaan beres, jika ada ide bagus yang muncul, jika kebetulan ada keinginan menulis, dan atau jika sedang iseng-iseng memang ingin menulis.</p>
<p>Sementara yang memilih menulis sebagai sebuah pekerjaan berarti semua hal yang melekat di kata ‘pekerjaan’ sudah menjadi keharusan dan mesti dilakukan. Layaknya bekerja di kantor atau di rumah; semua waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang seringkali dikorbankan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bekerja berarti menyesuaikan jadwal dan mengasah kemampuan untuk dapat lebih profesional.  Bahkan, bila diharuskan pekerjaan tersebut menuntut kita untuk sekolah formal maupun non-formal, maka mau tidak mau hal tersebut harus dilakukan. Pekerjaan menuntut kita untuk menyingkirkan ganguang-gangguan yang ada dan mungkin akan muncul. Memberikan target yang cukup ketat untuk menyelesaikan tugas-tugas. Terkakhir, sudah tentu hasil yang didapatpun sesuai dengan ekspektasi atau harapan ketika memulai pekerjaan.</p>
<p>Begitu juga halnya dalam menulis. Pekerjaan menulis menuntut keseriusan yang jauh lebih tinggi, ketersediaan waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan hanya pekerjaan sampingan, memerlukan kerja keras yang memutar otak, pengorbanan ditolak dan ditolak oleh media/penerbit, mengasah kemampuan menulis dengan mengikuti workshop, seminar, atau pelatihan yang berhubungan dengan kepenulisan, masuk dalam organisasi kepenulisan atau setidaknya mengikuti kegiatan yang digelar oleh komunitas penulis, mempunyai database media/penerbit, hingga disiplin menyelesaikan naskah sesuai dengan target.</p>
<p>Dua pilihan konsep diri tentang kepenulisan inilah yang sekarang berada di tangan Anda. Tentu konsekuensi logis memilih salah satu konsep itu jelas ada. Juga, hasil akhir atau apa yang akan didapat pun akan berbeda atau satu dengan yang lain.</p>
<p>Saya jadi teringat sebuah buku yang bercerita tentang Stephen King. Penulis thriller kenamaan dari Amerika ini ketika menulis sebuah karya ia akan mengurung diri di dalam ‘kamar kerjanya’, menghilangkan ganguan demi gangguan yang akan muncul bahkan dari sang istri si penulis sekalipun , dan baru keluar jika pekerjaannya menulis naskah sudah selesai. </p>
<p>Inilah konsep diri seorang penulis.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=88&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/09/16/8-c-key-concept/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>8C Key Writers Marketing: CONSISTENCY</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/08/14/8c-key-writers-marketing-consistency/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/08/14/8c-key-writers-marketing-consistency/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 16:18:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Banyak penulis yang membuat buku dan laris di pasaran. Kaver-kaver buku mereka terpampang di rak Best Seller atau Terlaris sementara di luar gedung toko buku kaver buku dicetak besar dan dipajang bersama buku laris lainnya. Kemudian, nama sang pengarang pun mulai dikenal tidak hanya sebatas di komunitas serta di jaringan diskusi online melalui milis atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Banyak penulis yang membuat buku dan laris di pasaran. Kaver-kaver buku mereka terpampang di rak Best Seller atau Terlaris sementara di luar gedung toko buku kaver buku dicetak besar dan dipajang bersama buku laris lainnya. Kemudian, nama sang pengarang pun mulai dikenal tidak hanya sebatas di komunitas serta di jaringan diskusi online melalui milis atau melalui blog, melainkan karena ada wartawan yang mewawancarainya dan dimuat di media tempat sang wartawan bekerja di edisi penerbitan berikutnya lengkap dengan foto si pengarang. Keberuntungan belum berhenti, seorang pelaku industri disalah satu rumah produksi melirik buku tersebut dan menyatakan minatnya untuk mengadaptasikannya ke dalam bentuk sinetron.</p>
<p style="text-align:left;">Namun, itu adalah cerita tiga empat tahun yang lalu. Saat ini tak satupun karya pengarang tersebut dapat ditemui di rak-rak buku. Bahkan buku pertama yang dulu laris pun sudah susah di dapat. Tidak ada lagi yang ingat dengannya; atau setidaknya ketika disebutkan namanya orang selalu harus mengerutkan kening dan berpikir lama hanya untuk membongkar memori siapa dia. Ketika ada seorang teman dekat yang menanyakan kepadanya apa buku terakhir yang diterbitkan selama satu tahun ini, maka dengan meyakinkan dia pun bilang ‘sedang konsen dengan kerjaan’ sebagai ganti dari kata ‘sebenarnya sudah tidak menulis lagi’.<br />
* * *</p>
<p style="text-align:left;">Menjaga konsistensi dalam menghasilkan karya memang memerlukan komitmen, kedisiplinan, dan niat yang kuat. Cerita di awal bukan hanya menggambarkan bagaimana seorang penulis yang sudah menghasilkan karya pun tidak bisa menjaga konsistensi dari profesi yang sudah dipilihnya. Dan, kisah ini seringkali menerpa mereka yang baru coba-coba menjadi penulis atau disebut saja sebagai penulis pemula.<br />
Banyak sebab yang menjadi latar belakang mengapa penulis pemula tidak bisa menjaga konsistensi. Seperti yang telah disebutkan bahwa salah satu C dalam 8 C KEY WRITERS MARKETING untuk Culture berkaitan dengan budaya/kebiasaan seseorang untuk tetap menulis. Akan sangat sulit menjaga konsistensi waktu menulis jika sudah banyak alasan yang dilontarkan; sibuk karena tugas kuliah, banyakanya pekerjaan di rumah, mengurus anak-anak, tidak tahu bagaimana menulisnya, atau mood yang tidak ada merupakan alasan-alasan klise yang pasti didengungkan. Selalu saja ada alasan untuk menghindar dari pertanyaan soal kebiasaan atau kultur.
</p>
<p style="text-align:left;">Penyebab lainnya adalah karena faktor terlalu tingginya khayalan keinginan dibarengi dengan tidak siapnya menerima kagagalan. Ada penulis pemula yang ingin menulis karena bisa bangga melihat buku yang ditulis dipajang di rak-rak toko buku, merasakan betapa enaknya kepopuleran menjadi penulis terkenal, membayangkan berapa banyak royalti yang diterima jika bukunya laris di pasar, dan minimal akan banyak orang yang mengatakan ‘dia penulis’ atau sebaliknya terlalu menyenangkan mengatakan kepada semua orang bahwa ‘saya penulis’.</p>
<p style="text-align:left;">Namun, tingginya harapan tersebut akhirnya terbentur pada sebuah kenyataan,  naskah yang dikirim penerbit selalu kembali dengan dilampiri surat penolakan. Tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulangkali. Terpaan ini langsung membuat motivasi penulis pemula turun. (Khayalan) keyakinan yang sebelumnya teramat tinggi tentang naskahnya akan dicetak dan diterbitkan seperti menghempasnya ke dasar jurang. Hingga akhirnya sampailah pada sebuah titik kulminasi, ‘lebih baik berhenti menulis’.</p>
<p style="text-align:left;">Menjaga konsistensi memang bukan perkara mudah. Apalagi kalau dalam satu atau dua tahun yang ada hanyalah penolakan demi penolakan. Karena itu, sebagai penulis profesional ia harus mampu menjaga konsistensi dirinya, konsistensi selalu menghasilkan naskah, konsistensi untuk tetap semangat menulis walau selalu ditolak, konsistensi belajar beragam jenis-jenis tulisan, hingga konsistensi menyelesaikan sebuah ide menjadi naskah.<br />
* * *<br />
Namanya Rina Muttaqinah. Saya menengalnya melalui dunia maya sekitar tahun 2005 lalu. Ia adalah pegawai negeri dengan seabreg aktifitas di kantor dan sepulang kerja ia harus pula siap menyibukkan diri dengan mengurus rumah, mendampingi suami, dan memastikan anak-anaknya tumbuh kembang dengan baik. Seperti layaknya ibu-ibu lain, ia juga mencuci pakaian, belanja ke pasar, memasak makanan, hingga menyapu di pagi hari. Kesibukannya ditambah lagi dengan aktifitasnya mengurus sebuah yayasan sekaligus sibuk menjadi pembina plus pengajar di sekolah yang didirikan yayasan tersebut.
</p>
<p style="text-align:left;">Ketika sedang mengobrok online dengannya, Rina selalu bilang kalau ia ingin sekali menulis dan menghasilkan buku. Untuk itu ia membuat blog dan menaruh semua tulisan-tulisannya di diary online tersebut. Saya melihatnya begitu gigih untuk belajar; Beragam pelatihan menulis selalu diikutinya, setidaknya tiga kali pelatihan menulis yang saya sebagai fasilitatornya di dua tahun yang berbeda saya melihat Rina selalu menjadi peserta.</p>
<p style="text-align:left;">Suatu ketika di medio 2008 lalu saya mengunjungi toko buku. Iseng-iseng saya melihat sebuah buku mungil berwarna cokelat yang berjudul “Handbook for Mom” dan betapa terkejutnya saya bahwa nama pengarang yang ada di atas kiri sampul buku tersebut adalah Rina Muttaqinah. Saya tersenyum, mengambil buku tersebut, membayarnya di kasir, dan akan menunjukkan buku ini kepada istri di rumah untuk dibaca. Diperjalanan, saya pun sempat berujar dalam hati, ‘luar biasa, hasil dari tiga empat tahun belajar menulis’.<br />
Inilah yang dinamakan CONSISTENCY.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=86&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/08/14/8c-key-writers-marketing-consistency/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Artinya Memasuki Dunia Bisnis</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/07/13/menulis-artinya-memasuki-dunia-bisnis/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/07/13/menulis-artinya-memasuki-dunia-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 15:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, menjelang jam enam pagi saya selalu mengecek surat elektronik yang masuk di inbox. Iseng-iseng saya buka satu email yang ber-subject cukup menarik, ‘Mau Curhat’.
Kang… mau curhat, nih
Kok, sebel banget udah setahun naskah aku di penerbit
Tapi sampai sekarang kok belum diterbitin juga.
Dan aku lebih kaget lagi, ternyata nasib temenku sama
Bedanya dia sudah tanda tangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://202.3.216.20/www.menulisyuk.comm/images/stories/Writing/200421766-001.jpg" border="0" alt="" width="200" align="left" />Seperti biasa, menjelang jam enam pagi saya selalu mengecek surat elektronik yang masuk di inbox. Iseng-iseng saya buka satu email yang ber-subject cukup menarik, ‘Mau Curhat’.</p>
<p><em>Kang… mau curhat, nih<br />
Kok, sebel banget udah setahun naskah aku di penerbit<br />
Tapi sampai sekarang kok belum diterbitin juga.<br />
Dan aku lebih kaget lagi, ternyata nasib temenku sama<br />
Bedanya dia sudah tanda tangan surat perjanjian, namun<br />
Entah kenapa tiba-tiba redaksi nelpon dan bilang kalau naskahnya<br />
Nggak jadi diterbitin… ugh, kebayang nggak rasanya<br />
Coba deh bayangin,  nulis buku kan gak gampang,<br />
Perlu modal, tenaga, waktu… bla… bla…</em></p>
<p>Surat elektronik itu selanjutnya berisi tentang curhatan sang pengirim, yang sebenarnya saya juga baru baca dan belum pernah ketemuan langsung dengannya, soal nasib naskahnya yang  tiada kabar. Soal kekesalan setelah menunggu begitu lama dan bahkan sudah tanda tangan perjanjian, tapi entah kenapa penerbit yang bersangkutan mengubah ‘keputusan’-nya untuk menerbitkan naskah tersebut.</p>
<p>Surat elektronik senada juga sering saya terima, meski dengan nada dan kalimat yang berbeda. Persoalannya hanya satu, kenapa naskah yang sudah dianggap dan diyakini bagus oleh si penulis ternyata sesudah sampai di tangan penerbit  jadi hal yang biasa saja. Malah, dalam sebuah diskusi tentang kepenulisan di Silaturahmi Nasional FLP tanggal 11-13 Juli lalu di Depok seorang peserta melontarkan kalimat, ‘baru aja di baca judul dan sinopsisnya, eh udah ditolak’.</p>
<p>Lalu, apa jawaban yang saya berikan untuk surat elektronik yang isinya curhat tersebut?</p>
<p>* * *</p>
<p>Saya jadi ingat, pertama kali masuk dalam dunia penerbitan buku secara institusi sejak tahun 1997. Kala itu ada proyek hibah dari lembaga donor luar negeri untuk perguruan tinggi negeri tempat saya bekerja. Kemudian, beberapa tahun kemudian udara penerbitan dan seluk-beluknya mulai semakin saya geluti; mulai dari penerbit kecil-kecilan seperti Mimpiku dan MU3 selanjutnya mampir di penerbit mapan seperti Mizan, Salamadani-Grafindo, atau Zikrul. Terakhir, saya akhirnya membuka menulisyuk.com, bukan penerbitan melainkan agen naskah dan sumber daya manusia di bidang penerbitan.</p>
<p>Dari semua pengalaman itu, saya jadi tersadar rupanya banyak komponen yang memakan biaya tidak sedikit di sebuah penerbitan. Penerbitan kecil pun membutuhkan setidaknya biaya gaji karyawan bagian redaksi dan bagian pemasaran, kemudian komponen kantor seperti rekening listrik, pembelian ATK, penyediaan komputer dan pendukungnya, pulsa atau tagihan telepon, biaya ekspedisi, sampai pengeluaran biaya untuk produksi sebuah buku. Barulah komponen terakhir adalah hak penulis dalam bentuk royalti atau pembelian putus.</p>
<p>Yang membuat perhitungan semakin mencengangkan lagi adalah harga jual buku di rak-rak toko buku ternyata hampir 50 persen dari bandrol harga yang tertera rupanya adalah ‘hak wajib’ bagi toko buku tersebut. Artinya, sebuah buku yang berbandrol Rp20 ribu pihak penerbit hanya mendapatkan Rp10 ribu dari setiap buku yang terjual.  Nah, uang sebesar Rp10 ribu ini yang akan dibagi-bagi dengan puluhan komponen di atas tadi.</p>
<p>Syukur-syukur bukunya best seller, menembus angka penjualan di atas 10 atau 20 ribu, sehingga komponen tersebut tertutupi dan ada laba yang dikantongi penerbit. Apalagi kalu bukunya cetak ulang terus, wah bisa dibayangkan betapa modal yang telah dikeluarkan penerbit bisa break event point secepatntya. Jika tidak? Anda bisa jawab sendiri pertanyaan ini.</p>
<p>Atau saya paparkan pengalaman sewaktu mengelola sebuah penerbit; dari lebih 150-an judul buku hanya 3 yang mengalami cetak ulang, 147 judul lainnya bergerak di rak toko buku biasa saja. Dan ketika saya bertanya ke bagian keuangan, modal yang telah dikeluarkan dengan pemasukan dari penjualan buku-buku tersebut ternyata jauh dari harapan. Bahkan, jujur saja, kalau trend penjualannya seperti ini maka gudang akan penuh dengan buku dan tentu saja keuangan tidak stabil dan akhirnya perusahaan akan gulung tikar.</p>
<p>Kondisi seperti ini tentu sudah menjadi pertimbangan mereka yang bekerja di institusi penerbitan. Bagian redaksi tentunya sudah melakukan antisipasi agar tidak terjadi buku yang diterbitkan tidak laku, menumpuk di gudang, dan akhirnya perusahaan gulung tikar. Kenapa bagian redaksi? Ya, karena bagian inilah yang  menjadi penyaring awal naskah-naskah yang masuk, menyaringnya, mengedit, mengemas, mencari endorsment, hingga menentukan judul yang menarik dan unik. Bagian ini yang sangat menentukan kemasan buku yang akan dipajang di rak-rak toko buku. Bagian ini yang bertanggung jawab penuh ‘melahirkan’ buku.</p>
<p>Kalau sudah begini, siapapun di bagian redaksi tentu bukanlah orang yang asal berpikir naskah ini bagus saja secara tema dan penulisannya. Apakah akan diserap pasar dan juga kondisi keuangan perusahaan tempatnya bekerja juga menjadi pertimbangan lain. Maka wajarlah jika redaksi menolak sebuah naskah bahkan kalaupun perjanjian penerbitan sudah ditandatangani kedua belah pihak belum ada jaminan 100 persen sebuah naskah akan diterbitkan.</p>
<p>Sekarang, dengan harga-harga yang melambung dan naiknya harga ketas lebih dari 100 dolar serta daya pilih masyarakat terhadap buku yang selektif tentu membuat semakin ketatnya pertimbangan redaksi dalam menerbitkan buku. Dalam teori ekonomi ada istilah yang sangat terkenal di dunia bisnis, yaitu ‘mendapatkan pemasukan yang besar dengan pengeluaran modal yang sesedikit mungkin’. Penerbit, apapun bentuknya, merupakan institusi bisnis sehingga feeling bisnis lah yang menjadi prioritas utama. Urusan idealisme, perkenalan atau persahabatan, dan alasan-alasan lain diluar bisnis kadang bukan menjadi pertimbangan. Apakah ini wajar? Ya, wajar dan sah-sah saja.</p>
<p>***</p>
<p>Saya baru sempat membalas surat elektronik yang berisi curhatan tersebut dua atau tiga hari setelahnya. Bukan karena sengaja menelantarkan surat elektronik dari seseorang yang belum saya kenal (dan tentunya dia kenal saya makanya bisa tahu dan ngirim email… he he..) melainkan saya harus menemukan kalimat yang tepat agar pertama, saya tidak ingin si pengirim surat elektronik merasa bahwa dia tidak cocok menjadi penulis karena rupanya setelah disodorkan fakta demi fakta nantinya dia akan merasa sendiri bahwa sebagus dan seidealis apapun tulisannya mesti berbenturan dengan hitung-hitungan bisnis. Kedua, saya juga tidak ingin menyalahkan si pengirim surat elektronik tersebut . Kok, menyalahkan? Ya, karena ketidaktahuannya bahwa ketika memutuskan menjadi penulis berarti ia harus berani menanggung risiko yang datang; salah satunya ya naskahnya ditolak. Ketiga, saya juga tidak ingin asal membalas surat elektronik tersebut dengan kata-kata berbunga  dan memotivasinya untuk terus menulis sementara ternyata faktanya si pengirim surat elektroik tersebut tidak menjadikan menulis sebagai sebuah profesi, hanya iseng-iseng dan mengisi waktu luang saja.</p>
<p>Akhirnya, saya pun menulis surat elektronik balasan… dan inilah balasannya.<br />
Semoga si pengirim surat elektroik tersebut membaca tulisan ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=85&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/07/13/menulis-artinya-memasuki-dunia-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://202.3.216.20/www.menulisyuk.comm/images/stories/Writing/200421766-001.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Seminar, Menjadi Penulis Buku dan Skenario Profesional</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/27/seminar-menjadi-penulis-buku-dan-skenario-profesional/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/27/seminar-menjadi-penulis-buku-dan-skenario-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 04:14:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Membahas proses kreatif menulis naskah (Buku Fiksi/Non Fiksi, Skenario Program TV) ataupun mewujudkannya dalam sebuah gambar bergerak/film tapi juga akan dibahas pula bagaimana cara mendistribusikan semua karya kreatif itu, baik ke Penerbit, PH ataupun ke tokonya langsung secara cerdas dan pintar.
Fasilitator/Pembicara

Dono Indarto  (Penulis Skenario Program TV, &#8220;Azizah, Mimpi Manis, Cinderella&#8221;, dll.)
Asa Mulchias* (Penulis buku Fiksi &#8220;Kuntilanak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Membahas proses kreatif menulis naskah (Buku Fiksi/Non Fiksi, Skenario Program TV) ataupun mewujudkannya dalam sebuah gambar bergerak/film tapi juga akan dibahas pula bagaimana cara mendistribusikan semua karya kreatif itu, baik ke Penerbit, PH ataupun ke tokonya langsung secara cerdas dan pintar.</p>
<p>Fasilitator/Pembicara</p>
<ul>
<li><strong>Dono Indarto</strong>  (Penulis Skenario Program TV, &#8220;Azizah, Mimpi Manis, Cinderella&#8221;, dll.)</li>
<li><strong>Asa Mulchias</strong>* (Penulis buku Fiksi &#8220;Kuntilanak, Here I Come&#8221; &amp; Non Fiksi &#8220;Road to Happiness, Ada Singa Dalam Dirimu&#8221;)</li>
<li><strong>Jastis Arimba</strong> (Pemenang Eagle Award Documentary Competition 2007, &#8221;Kepala Sekolahku Pemulung&#8221;)</li>
<li><strong>Arul Khan</strong> (CEO Menulisyuk, Training Center &amp; Literary Agency, Bagaimana menawarkan naskah secara pintar yang dikemas apik dalam &#8220;Writer Marketing&#8221;)</li>
<li><strong>Ronny P Tjandra</strong> (Director Jive Collection, Distributor film format DVD. Kemanakah akhir muara film Indie kamu?)</li>
</ul>
<p>Pelaksanaan :</p>
<p>Minggu,06 Juli 2008,Pkl 09.00 wib–selesai<br />
Pusat Perfilman H Usmar Ismail*<br />
Jl.HR.Rasuna Said Kav.c No.22 Kuningan,Jak- Sel<br />
(Sebelah Pasar Festifal &amp; GOR Bojonegoro)<br />
*Jika peserta melebihi kapasitas, venue akan dipindahkan.<br />
 <br />
Pembukaan Acara dan pembacaa puisi oleh : Bpk. Igo Ilham (Ketua Komisi E, DPRD DKI Jakarta)  </p>
<p>Pendaftaran             : Rp 65.000,<br />
Benefit                    : Snack, lunch, doorprize, sertifikat.</p>
<p>Informasi :<br />
Adi        : 021-99682362<br />
Iecha     : 0813 1831 0869<br />
Tarnie   :  0856 97 545 900</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/84/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/84/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=84&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/27/seminar-menjadi-penulis-buku-dan-skenario-profesional/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing: Seberapa Kuat Usahanya</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 06:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Penulis &amp; Buku]]></category>

		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[BUUZZZ&#8230;
&#8220;Kang&#8230;!&#8221;
&#8220;Ya? Ada apa, Bos?&#8221;
&#8220;Sebel saya. Naskah ditolak ama penerbit. Ugh, sebel.&#8221;
&#8220;Oya, sabar aja ya.&#8221;
&#8220;Padahal kan saya sudah nulisnya empat bulan leebih.. dan bla bla bla.&#8221;
* * *
Keluhan demi keluhan rasanya sudah menjadi &#8216;kebiasaan&#8217; rutin yang dilontarkan penulis (pemula) berkaitan dengan penolakan yang dilakukan oleh penerbit terhadap naskahnya. Penolakan yang sebenarnya adalah hal yang wajar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/76/49/17764928/42-17764928.jpg" alt="" width="115" height="170" />BUUZZZ&#8230;</p>
<p>&#8220;Kang&#8230;!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya? Ada apa, Bos?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebel saya. Naskah ditolak ama penerbit. Ugh, sebel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oya, sabar aja ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal kan saya sudah nulisnya empat bulan leebih.. dan bla bla bla.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Keluhan demi keluhan rasanya sudah menjadi &#8216;kebiasaan&#8217; rutin yang dilontarkan penulis (pemula) berkaitan dengan penolakan yang dilakukan oleh penerbit terhadap naskahnya. Penolakan yang sebenarnya adalah hal yang wajar dan lumrah. Penolakan yang dalam dunia penerbitan adalah keputusan wajib yang harus diambil demi terus memutar roda industrinya.</p>
<p>Namun, biasanya penolakan tersebut dipandang berbeda oleh penulis (pemula). <em>Pertama</em>, penolakan sering merupakan pertanda bahwa itulah gong bahwa ia tidak cocok jadi penulis. Sehingga ketika mendengar/membaca penolakan penerbit motivasinya langsung runtuh dan depresi. Sebagai racun bahwa ia harus mulai berhenti menulis. Padaha kata om Stephen King, kegagalan pertama adalah ketika engkau berhenti menulis.</p>
<p><em>Kedua</em>, terlalu convidence banget. penulis sering berada di dunia khayalan. Maksudnya, tentu setiap mereka yang mengirimkan naskah ada harapan besar yang terselip di hatinya bahwa naskah ini akan diterima dan akhirnya diterbitkan. Nah, khayalan ini kebawa sampai dalam mimpi sehingga secara sadar atau tidak mengikis rasa percaya dirinya atau membangkitkan rasa pede secara ekstrim. Ketika datang penolakan, penulis (pemula) mulai mencari pembenaran, menyalahi penerbitnya yangn kurang profesional dan mengnerti sebuah naskah bagus, ngomong ke sana kemari kalau ia punya naskah bagus banget, dan minimal dalam dirinya tidak mengakui kalo naskahnya memang tidak layak.</p>
<p>Sebenarnya pertanyaan yang paling penting adalah &#8217;seberapa kuat usaha penulis (pemula) menghadapi penolakan tersebut&#8217;?</p>
<p><em>Apakah merevisi naskah yang ditolak itu sehingga menjadi jauh lebih bagus?</em> Biasanya penerbit yang profesional menyertakan lampiran alasan penolakan naskah. Dengan demikian, penulis (pemula) bisa tahu dimana mereka akan memulai memerbaikinya.</p>
<p><em>Apakah sudah menawarkan ke penerbit lain?</em> Kenyataannya jumlah penerbitan sangat banyak sehingga peluang menerbitkan naskah menjadi jauh lebih banyak pula dan tentunya pihak redaksi penerbitan z memiliki kriteria yang berbeda dengan redaksi penerbitan.</p>
<p>So, seberapa kuat usaha penulis (pemula) mengantisipasi dan mengatasi penolakan itu sebelum mengeluh soal naskah yanng ditolak?</p>
<p>Dan yang lebih &#8216;keren lagi&#8217; ngeluh ama penulis lainnya sementara penulis lainnya juga sedang pusing mikirin pembayaran dari penerbit yang belum turun-turun juga. Hahhaha&#8230;</p>
<p>Note: Foto dari corbis.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=83&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/18/writers-marketing-seberapa-kuat-usahanya/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/17/76/49/17764928/42-17764928.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MELAKUKAN JURNALISME NURANI</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/16/melakukan-jurnalisme-nurani/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/16/melakukan-jurnalisme-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan media cetak di Indonesia bisa dikatakan mengalami kemajuan yang cukup pesat beberapa tahun beberapa tahun belakangan ini.  Hal tersebut bermula pada saat pencabutan dua Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen), dilakukan oleh Menteri Penerangan kala itu, M Yunus Yosfiah, pada tanggal 5 juni 1998, yang dianggap sebagai ‘borgol’ yang membelenggu kebebasan pers. Sebagai gantinya diberlakukan 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Perkembangan media cetak di Indonesia bisa dikatakan mengalami kemajuan yang cukup pesat beberapa tahun beberapa tahun belakangan ini.  Hal tersebut bermula pada saat pencabutan dua Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen), dilakukan oleh Menteri Penerangan kala itu, M Yunus Yosfiah, pada tanggal 5 juni 1998, yang dianggap sebagai ‘borgol’ yang membelenggu kebebasan pers. Sebagai gantinya diberlakukan 2 Permenpen dan 3 Surat Keputusan yang baru yang lebih lunak. Salah satu Permenpen baru yang dianggap menjadi tonggak kebebasan pers Indonesia adalah Permenpen /Per/Mempen/1998 Tentang Ketentuan-Ketentuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Berbeda dengan Permenpen yang lama, permempen yang baru itu tidak mencantumkan sanksi pencabutan SIUPP atau pembredelan bagi pers yang dinilai melanggar peraturan.</p>
<p>Kebebasan dalam pengurusan SIUPP dan kelonggaran yang ada dalam Permempen yang baru tersebut mendorong berbagai badan  usaha maupun perorangan untuk menerbitkan media massa, khususnya media cetak. Dalam dua minggu pertama sejak diberlakukannya peraturan tersebut setidaknya sudah 20 SIUPP baru telan dikeluarkan Deppen. Selanjutnya pada pertengahan 1999 jumlah SIUPP baru yang dikeluarkan oleh lembaga ini menjadi  852.  Jumlah tersebut masih didominasi oleh media umum sebanyak 561 media atau 64,84 persen ; media bisnis dan ekonomi serta politik sebanyak 83 buah atau 9,74 persen ; media hiburan, olahraga serta pariwisata sebanyak 49 buah atau 7,75 persen ; media keluarga, kesehatan dan anak, gaya hidup dan perempuan sebanyak 40 buah atau 4,68 persen ; media hukum, keadilan kriminalitas dan HAM sebanyak 39 media atau 4,57 persen ; media pendidikan dan bursa kerja sebanyak 33 media atau 3,87 persen ; media keagamaan sebnayak 22 buah atau 2,58 persen ; media seni sastra dan kebudayaan 14 buah atau 1,64 persen serta lain-lain 11 buah atau 1,22 persen. Jumlah tersebut semakin bertambah ketika Deppen dibubarkan, diganti dengan Badan Koordinasi Informasi dan Komunikasi Nasional (BKIKN), serta tidak adanya lagi ketentuan yang mengharuskan setiap media massa yang terbit harus memiliki SIUPP.<br />
Banyaknya penerbitan yang baru muncul, khususnya media cetak, merupakan bukti betapa pentingnya keberadaan pers ditengah masyarakat. Bahkan secara ekstrim para pakar jurnalitik menyamakan pers sebagai udara yang dibutuhkan manusia. Pasalnya pers tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, melainkan juga sebagai sarana hiburan, melakukan kontrol sosial dan dianggap sebagai kekuatan ke empat (The Fourth Estate)  dalam mengawal demokrasi.</p>
<p>Akan tetapi, apa yang terjadi? Dalam beberapa kondisi pers bukanlah menjadi medium yang sekadar menyampaikan informasi. Media cenderung berafiliasi dengan kepentingan-kepentingan tertentu, media yang semakin mengobarkan perseteruan yang terjadi di masyarakat (Ibnu Hamad, Kabar-kabar Kebencian, 1999), maupun pemberitaannya yang hanya berdasarkan atas isu atau rumor &#8211;terutama sekali terjadi dan menimpa para selebritis&#8211; dengan hanya mementingkan kehebohan atau sifat luar biasanya tanpa mempedulikan bagaimana efek dari pemberitaan tersebut terhadap objek beritanya. Berita politik, bencana alam, perang, apalagi kriminal dan seks, telah dikemas dengan bungkus sensasional dan bombastis agar laku di pasaran. Beberapa media  yang terbit di Jakarta banyak menyajikan berita seputar perilaku kebinatangan manusia: kejam, sadis dan penuh nafsu. Berita perkosaan dan pembunuhan, misalnya, seringkali disajikan dengan detail, plus foto berdarah-darah atau komentar cabul. Layar kaca pun tidak ketinggalan. Di siang hari,  tayangan Sergap, Buser, dan Patroli menemani santap siang di rumah. Sore hingga malam hari ada Fakta, Buser Petang, Derap Hukum, Investigasi dan sebagainya. Belum lagi tayangan pamer aurat dan pamer aib yang dikemas dalam bingkai infotainment atau pentas musik hampir di semua stasiun TV. Tak mengherankan, selain sebagai medium yang memberikan pengetahuan, media juga dianggap sebagai alat yang tepat untuk provokasi terhadap keburukan atau akses negatif kepada khalayak.</p>
<p><strong>Realitas: Nilai Provokatif atau Nurani</strong><br />
Tidak semua peristiwa menjadi berita, tergantung dari karakteristik media massa yang bersangkutan. Akan tetapi, secara umum kriteria-kriteria yang dimiliki setiap media massa terhadap sebuah peristiwa yang layak berita adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Kepentingan</strong> (significance), yaitu peristiwa yang mengandung nilai penting bagi masyarakat yang bisa berdampak langsung kepada mereka.</li>
<li><strong>Kekinian (timeliness),</strong> yaitu peristiwa yang terjadi saat ini.</li>
<li><strong>Kedekatan</strong> (proximity), yaitu lokasi terjadinya peristiwa memiliki unsur kesamaan dengan lokasi pembaca.</li>
<li><strong>Ketenaran</strong> (prominence), yaitu peristiwa yang menyangkut individu, objek, ataupun tempat yang sangat dikenal oleh pembaca.</li>
<li><strong>Kebesaran</strong> (magnitude), yaitu peristiwa yang terjadi dianggap memiliki nilai besar bagi pembaca.</li>
<li><strong>Kemanusiawian</strong> (human interest), yaitu peristiwa yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.</li>
</ol>
<p>Apabila salah satu dari kriteria tersebut terpenuhi dalam sebuah peristiwa, maka dapatlah kiranya peristiwa tersebut menjadi sebuah berita. Semakin terpenuhi kriteria-kriteria yang ada, maka semakin layaklah nilai berita peristiwa itu.</p>
<p>Secara praktis,  biasanya terdapat kaidah umum yang dipakai di media massa dalam menentukan nilai sebuah peristiwa, yaitu pemeo ‘Anjing menggigit orang’ bukan berita sedangkan ‘Orang menggigit ajing’ itu berita. Ungkapan ini merupakan penggambaran bahwa sesuatu yang aneh ataupun luar biasa memiliki nilai berita yang layak dijual ke pembaca. Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kecakapan wartawan menemukan keanehan atau keluarbiasaan ini?</p>
<p>Inilah yang menjadi tugas utama seorang wartawan. Ia harus terbiasa dalam menentukan kelayakan sebuah berita saat melakukan tugas junalistiknya di lapangan. Apalagi seorang wartawan bekerja dengan tenggat waktu yang terbatas, kecekatan, kepraktisan dan kecepatan dalam menentukan layak tidaknya sebuah peristiwa diberitakan menjadi syarat utama seorang wartawan. Namun  kecakapan tersebut perlu pembiasaan dan pengulangan demi pengulangan. Apalagi bagi mereka yang baru terjun di media massa, kegamangan dan keragu-raguan dalam menentukan layak tidaknya sebuah peristiwa untuk diberitakan seringkali menjadi persoalan klasik yang muncul. Sehingga tidak mengherankan laporan jurnalistik yang mereka tawarkan seketika itu pula akan ditolak oleh redaktur.</p>
<p>Ketika sebuah peristiwa diputuskan memiliki nilai berita, maka tugas selanjutnya bagi  wartawan adalah  menentukan sumber berita serta memastikan kembali fakta-fakta yang didapatnya maupun mengungkap fakta-fakta yang belum ada. Inilah kerja seorang wartawan.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana menjalankan jurnalisme nurani?</strong> </p>
<p>• Beranjak dari pola pikir<br />
Sebelum seorang wartawan memutuskan akan memberitakan sebuah peristiwa atau kejadian, maka disinilah peran jurnalisme nurani itu dimulai. Wartawan harus beranjak dari dasar berpikir positif (positive thinking).<br />
Jurnalisme nurani menekankan pada berpijak pada fakta-fakta yang ada, barulah seorang wartawan mulai menentukan sudut pandang (angle) berita yang ingin ditulisnya. Memulai dari fakta yang diperlakukan secara positif, dalam arti menjauhi prasangka dan tuduhan-tuduhan tak mendasar.</p>
<p>Berbeda dengan jurnalisme provokatif. Jurnalisme jenis ini berangkat dari pola pikir negatif (negative thinking); berita yang baik adalah berita yang bombastis dan mengandung kejelekan individu atau institusi tertentu. Mengungkap perselingkuhan seorang pejabat menurutnya lebih memiliki nilai dan menaikkan prestise dirinya,  merasa menjadi wartawan hebat karena mampu melakukan investigasi dibandingkan wartawan lainnya. Sementara bila melaporkan kisah hidup penjaga pintu kereta api dianggap sebagai pekerjaan sebelah mata, tidak memiliki nilai bahkan akan menurunkan  gengsinya.</p>
<p>Wartawan memandang semua peristiwa atau kejadian hanya sebagai sesuatu yang mengandung nilai negatif semata. Praduga demi praduga juga merupakan hal utama yang dimunculkan seorang wartawan sebelum ia terjun untuk mengumpulkan fakta. Bahkan tidak mengherankan wartawan itu sendiri sudah menentukan arah berita yang akan dibuatnya, yang lebih parah lagi adalah sudah menentukan judul berita. Dengan demikian saat wartawan berada di lapangan ia akan berusaha mendapatkan fakta yang sesuai dengan keinginannya dan bukan seluruh fakta apa adanya. Apabila di tengah jalan ia mendapatkan fakta baru dan itu berbeda dengan keinginannya, besar kemungkinan fakta tersebut akan dikaburkan Wartawan membuat dirinya  berpihak (alianasi). Ia hanya memberitakan dari sudut mana atau siapa saja yang akan diberitakannya. Jelas saja berita yang dihasilkan adalah berita provokatif.</p>
<p>• Melihat dampak<br />
Tugas wartawan dalam jurnalisme nurani tidak hanya berhenti ketika ia telah telah mendapatkan fakta-fakta dan siap dipublikasikan. Wartawan saat mengolah fakta menjadi sebuah berita ketika itu pula ia mempertimbangkan  dampak yang akan terjadi pada pembaca setelah membaca atau menyaksikan berita yang dibuatnya.</p>
<p>Contoh kasus yang bisa diangkat di sini adalah kasus pemerkosaan. Perlukah menampilkan wajah pelaku maupun korban pemerkosaan? Bisakah ia memaparkan lokasi tempat tinggal pelaku maupun korban tersebut? Etiskah menyebutkan identitas korban? Layakkah menampilkan sosok korban  maupun pelaku meski sebagian wajahnya disamarkan? Bagaimana dengan memperdengarkan suaranya?</p>
<p>Sedangkan jurnalisme provokatif mengajarkan wartawan bahwa berita yang tragis, penuh sensasi dan bombastis  harus segera dipublikasikan atau disiarkan. Dengan demikian media massa tersebut tidak tertinggal kehangatan berita alias up to date. Tidak peduli bahwa peristiwa yang disajikan olehnya kurang didukung oleh fakta atau bukti-bukti. Yang terpenting tiras penjualan medianya atau rating acaranya bisa naik.</p>
<p>Alih-alih memposisikan dirinya sebagai alat yang objektif (memaparkan apa adanya) malah media massa tersebut menggunakanya untuk mempengaruhi opini, pendapat dan pola pikir masyarakat sebagai konsumen media. Masyarakat sepertinya hanya disuguhkan kaca mata kuda dalam menerima  berita, apa yang benar menurut sudut pandang serta kebijakan media massa tersebut itulah yang benar di masyarakat.</p>
<p>• Memperlakukan fakta<br />
Wartawan yang menjalankan jurnalisme nurani menghormati semua data, informasi, maupun  dokumentasi  yang datang dari siapapun dan dari pihak manapun. Ia selalu berpijak berdasarkan fakta-fakta yang ada. Bahkan terhadap segala hal yang belum terungkap pun akan ditelusuri, sehingga fakta yang dimilikinya akan semakin lengkap.</p>
<p>Berbeda dengan jurnalisme profokatif. Wartawan seringkali mempublikasikan sebuah peristiwa tidak berdasarkan fakta yang akurat dan cermat. Tak jarang fakta-fakta yang ada malah diabaikan atau setidaknya dikaburkan. Bila diperlukan wartawan yang bersangkutan menciptakan fakta-fakta baru yang fiktif. Merekayasa berbagai peristiwa, menentukan sudut pandang peristiwa hingga memunculkan nara sumber-nara sumber fiktif yang sesuai dengan apa yang dimaui wartawan atau media massa yang bersangkutan. Rumor, gosip atau prasangka diangap sebagai fakta yang sah, artinya dapat dijadikan dasar untuk dijadikan berita. Dan senjata yang digunakan oleh media massa ini adalah ungkapan ‘menurut sumber kami’ atau  ‘menurut sumber yang namanya dirahasiakan’. Juga, statement off the record yang seharusnya dihormati wartawan sering kali diabaikan dengan menggunakan ungkapan tersebut.</p>
<p><strong>Perbandingan Jurnalisme Nurani dengan Jurnalisme Provokatif</strong><br />
Jurnalisme Nurani <br />
• Beranjak dari pola pikir yang positif (Positife Thinking)<br />
• Melihat peristiwa atau kejadian sebagai suatu persoalan masyarakat<br />
• Menitikberatkan kepada dampak yang terjadi<br />
• Cenderung berimbang<br />
• Memaparkan fakta yang ada dan mengungkap fakta yang tersembunyi<br />
• Berdasar fakta<br />
• Berorientasi pada etika dan moral<br />
• Memposisikan jurnalis sebagai manusia seutuhnya</p>
<p>Jurnalisme Provokatif<br />
• Beranjak dari pola pikir yang negatif (Negative Thinking)<br />
• Melihat peristiwa atau kejadian sebagai suatu persoalan individu/kelompok<br />
• Menitikberatkan kepada apa yang terjadi saat ini<br />
• Cenderung berat sebelah dan memihak<br />
• Merekayasa fakta dan menyembunyikan fakta yang sesungguhnya<br />
• Berdasar praduga<br />
• Berorientasi pada permintaan pasar/pembaca<br />
• Memposisikan jurnalis hanya sebagai ‘alat penyampai berita’<br />
<strong>Media sebagai Alat Mencerdaskan</strong><br />
Tentu dalam tataran praktis institusi media massa, secara sadar maupun tidak, mengetahui elemen-elemen dalam jurnalisme nurani. Bahwa dalam teotitisnya setiap wartawan baru yang bergabung diajarkan bagaimana menjadi wartawan yang memiliki nurani, dan tidak diajarkan menjadi wartawan yang provokator.</p>
<p>Akan tetapi, kondisi ini akan berbeda ketika wartawan baru tersebut masuk dalam prosedur kerja yang telah melembaga, di mana hanya berlaku satu ungkapan bahwa berita yang baik adalah berasal dari peristiwa yang jelek atau yang bisa menjelek-jelekkan sesuatu. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran wartawan dan juga institusi media untuk melakukan jurnalisme nurani.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=81&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/06/16/melakukan-jurnalisme-nurani/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Minta Maaf untuk Buku JADI SELEB DI BLOG</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 10:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Penulis &amp; Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[kepada blogger Indonesia..
Selaku penulis buku dan juga blogger, saya minta maaf soal kasus gambar di halaman 112 di buku JADI SELEB DI BLOG
Sebegai penulis saya minta maaf kalo gambarnya digunakan di buku saya, sebagai penulis dan juga blogger saya juga minta maaf kalo saya &#8216;dianggap&#8217; copycat masalah gambar tanpa ijin dari pemiliknya, sebagai penulis saya cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>kepada blogger Indonesia..</p>
<p>Selaku penulis buku dan juga blogger, saya minta maaf soal kasus gambar di halaman 112 di buku JADI SELEB DI BLOG</p>
<p>Sebegai penulis saya minta maaf kalo gambarnya digunakan di buku saya, sebagai penulis dan juga blogger saya juga minta maaf kalo saya &#8216;dianggap&#8217; <em>copycat</em> masalah gambar tanpa ijin dari pemiliknya, sebagai penulis saya cuma mau bilang.. kalo saya hanya menyerahkan naskah saja&#8230; tidak gambar, tidak ilustrasi, dan tidak berkaitan dengan perwajahan&#8230;</p>
<p>Sebagai penulis sekaligus blogger&#8230; saya adalah orang yang mendukung gerakan antipembajakan konten blog.</p>
<p>But, makasih atas masukannya&#8230; ini membuat saya harus banyak belajar. Belajar untuk mengetahui semua proses secara detail, belajar untuk melakukan tabayunklarifikasi, belajar untuk mengakui kesalahan&#8230; secepatnya saya akan menggubungi penerbitnya untuk memberikan &#8216;teguran&#8217; masalah ini. Tapi ijinkanah selaku penulis untuk mewakili penerbit, MOHON MAAF UNTUK KETIDAKNYAMANAN INI&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=78&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/31/minta-maaf-untuk-buku-jadi-seleb-di-blog/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing: KATALOG Bag.2</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/09/writers-marketing-katalog-bag2/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/09/writers-marketing-katalog-bag2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 00:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ketiga yang diterbitkan Balai Pustaka pada halaman 515 disebutkan bahwa
ka.ta.log n 1 caik kartu, daftar, atau buku yg memuat nama benda atau informasi tertentu yg ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur, dan alfabetis: kartu&#8211; membantu memudahkan orang mencari buku di perpustakaan; 2 Man daftar barang yg dilengkapi dng nama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/19/77/49/19774917/42-19774917.jpg" alt="" width="170" height="113" />Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ketiga yang diterbitkan Balai Pustaka pada halaman 515 disebutkan bahwa</p>
<p><strong>ka.ta.log</strong> <em>n </em><strong>1 </strong>caik kartu, daftar, atau buku yg memuat nama benda atau informasi tertentu yg ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur, dan alfabetis: kartu&#8211; membantu memudahkan orang mencari buku di perpustakaan;<strong> 2</strong> <em>Man </em>daftar barang yg dilengkapi dng nama, harga, mutu, dan cara pemesanannya;</p>
<p>Berkaitan dengan penerbitan buku, katalog yang dicetak dan dibagikan secara gratis &#8211;biasanya pembagian gratis ini dilakukan pada saat penerbit bersangkutan mengikuti pameran-pameran buku atau <em>event</em> lainnya&#8211; kepada (utamanya) target pembeli produk buku mereka. Dengan pemberian katalog tersebut diharapkan pengunjung mengetahui apa produk bukunya, bagaimana kaver buku-bukunya, berapa harga yang mesti dibayar untuk sebuah buku, apa saja informasi yang terkandung dalam buku seperti ISBN, jumlah halaman, cetakan ke berapa, dan sebagainya, dan yang lebih penting adalah informasi tentang profil perusahaan penerbitannya.</p>
<p>Selain pengunjung mendapatkan informasi, pembagian katalog juga merupakan salah satu bukti seberapa terkenal dan kuatnya sebuah perusahaan penerbitan tersebut. Walau dalam kasus tertentu hal ini tidak bisa digeneralisasi, namun bagaimana katalog itu dibuat oleh penerbitan merupakan pertanda seberapa seriusnya mereka menjalankan usaha penerbitan tersebut. Ada katalog yang dibuat seperti buku; halamannya berwarna semua, kavernya dof, dan dari jauh keliatan sama saja seperti majalah yang keren. Ada katalog yang hanya dibuat di kertas selembar dan hanya memakai warna yang duotone alias dua warna. Dari dua jenis katalog yang dibuat, tentu yang pertama akan mendapatkan perhatian lebih.</p>
<p>Dalam ilmu Writers Marketing, katalog sebenarnya merupakan rahasia penerbitan yang layaknya harta karun. Sebab, dalam katalog banyak informasi yang bisa didapatkan;</p>
<p><em>Pertama</em>, <strong>Kontak Penerbit</strong>. Katalog harus memuat informasi alamat perusahaan penerbitan, nomor telepon yang bisa dihubungi, bahkan sampai alamat emailnya. Bagi penulis, dengan adanya informasi ini jelas memudahkan berhubungan dengan penerbit. Mengembangkan NETWORKING atau jaringan baik secara online maupun secara offline.</p>
<p><em>Kedua</em>, <strong>Tema Buku</strong>. Membaca katalog berarti membaca tema buku apa saja yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Nah, informasi ini sangat berharga bagi penulis karena penulis akan tahu tema-tema seperti apa saja yang &#8216;mau&#8217; diterbitkan oleh penerbit yang bersangkutan. Tentunya hal ini mengantisipasi kerugian sia-sia karena mengirim naskah dengan tema yang nggak sesuai. Misalnya penerbit yang hanya menerbitkan naskah-naskah nonfiksi, tapi dikirimi naskah fiksi. Jelas ini tidak nyambung.</p>
<p><em>Kedua</em>, <strong>Yang Belum Diterbitkan</strong>. Katalog yang dikumpulkan (apalagi penulis yang rajin mengumpulkan katalog penerbitan dari tahun ke tahun) adalah dokumentasi buku-buku apa saja yang pernah diterbitkan oleh penerbit bersangkutan. Informasi ini jelas berharga karena penulis jadi tahu apakah naskah yang (akan) ditulisnya apakah penerbit tersebut pernah menerbitkan yang sejenis atau tidak. Sebab dalam dunia marketing penerbitan &#8216;untuk apa menerbitkan naskah yang sama?&#8217; Nah, dengan demikian penulis bisa lebih sensitif untuk tidak asal saja mengirimkan naskahnya.</p>
<p>Itulah katalog. Jadi kalau jalan-jalan ke pameran buku jangan hanya nyari yang diskonnya aja, tapi kumpulan katalog yang selalu&#8230; GRATIS!</p>
<p>Note: Foto dari <a href="http://www.corbis.com/"><span style="color:#818181;">www.corbis.com</span></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=76&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/09/writers-marketing-katalog-bag2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cachens.corbis.com/CorbisImage/170/19/77/49/19774917/42-19774917.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Blogbrary dari Para Blogger</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/05/blogbrary-dari-para-blogger/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/05/blogbrary-dari-para-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 15:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 04 Mei 2008
Mereka rajin menulis di blog. Mereka saling berkomunikasi. Dan, mereka menyumbangkan buku. 
Menulis dalam blog pribadi di internet sudah menjadi kebiasaan Arul Khan. Aktivitas di dunia maya itu banyak menyita hari-harinya. Tidak tanggung-tanggung, ia memiliki sedikitnya 25 blog di internet. &#8221;Semua aktif,&#8221; kata alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.
Tak sekadar menulis di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://republika.co.id/images/header/header1.gif" alt="" width="215" height="60" /><em>Minggu, 04 Mei 2008</em><br />
<span class="upperdeck">Mereka rajin menulis di <em>blog</em>. Mereka saling berkomunikasi. Dan, mereka menyumbangkan buku. </span></p>
<p><span class="deskripsi">Menulis dalam <em>blog</em> pribadi di internet sudah menjadi kebiasaan Arul Khan. Aktivitas di dunia maya itu banyak menyita hari-harinya. Tidak tanggung-tanggung, ia memiliki sedikitnya 25 <em>blog</em> di internet. &#8221;Semua aktif,&#8221; kata alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.</p>
<p>Tak sekadar menulis di <em>blog</em> pribadi, master ilmu komunikasi lulusan Universitas Moestopo (Beragama), Jakarta, ini pun selalu aktif menjalin komunikasi dengan sesama <em>blogger</em>. Komunikasi rutin itu ia lakukan melalui <em>mailing list</em> (<em>milis</em>) <em>blogger/</em><em>. </em>Sekitar dua tahun lalu, <em>blogger</em> yang tergabung dalam <em>milis</em> itu bermufakat menyamakan langkah dalam wujud kepedulian dengan sesama. Mereka berniat mengumpulkan buku-buku dan bahan bacaan lainnya untuk disumbangkan kepada lembaga pendidikan atau masyarakat yang membutuhkan. Dari upaya itu, terkumpul sekitar 400 judul buku dan bacaan lainnya.</p>
<p>Buku terkumpul, permufakatan kembali dijalin. Mereka mencari lembaga pendidikan yang dianggap amat membutuhkan. Ada yang mengusulkan, bantuan diteruskan ke yayasan yang ada tempat-tempat kumuh. Usul itu diterima. Setelah melakukan pengamatan di lapangan, buku-buku dan bahan bacaan itu kemudian disalurkan ke sekolah yang berada di kampung kumuh dan taman bacaan di Bekasi dan Bandung.</p>
<p>Tapi, kegiatan itu berhenti begitu saja setelah penyaluran buku rampung. Aktivitas yang sama tak ada lagi, meski komunikasi dengan sesama <em>blogger</em> di <em>milis</em> terus berjalan. Tahun pun berganti. Dari komunikasi yang mereka jalin, ternyata banyak anggota <em>milis</em> yang mengaku memiliki banyak buku dan majalah. Arul tersentak. Ia teringat upaya yang pernah mereka lakukan tahun sebelumnya, mengumpulkan buku-buku dan bahan bacaan lainnya untuk diteruskan kepada sekolah atau lembaga masyarakat yang membutuhkan. &#8221;Saya lalu berpikir, <em>kenapa</em> tidak dibuat gerakan saja?&#8221; katanya.</p>
<p>Tak ingin berlama-lama didera tanya seperti itu, pria yang mengaku sebagai pendiri Indonesian Muslim Blogger ini segera melontarkan gagasannya itu melalui <em>milis</em>. Dia mengemukakan keinginannya membuat <em>Blogbrary</em> &#8211;perpustakaan untuk anak Indonesia dari para <em>blogger</em>. Ini adalah kegiatan sosial para blogger: <em>Blogger Social Responsibility</em> (BSR)) untuk anak Indonesia.</p>
<p>Tak ia bayangkan, respons segera muncul di <em>milis</em>. &#8221;Satu jam pertama, sudah ada yang respons,&#8221; ucapnya. Perespons pertama adalah Aulia Halimatussadiah, direktur toko buku <em>online</em>, <em>Kutukutubuku.com</em>. &#8221;Ibaratnya gayung bersambut, itu sesuai dengan misi kami,&#8221; ucap Aulia, perempuan yang akrab disapa Ollie itu.</p>
<p>Ollie menyatakan tertarik dengan program ini karena sejalan dengan misi toko buku <em>online</em> yang dikelolanya. Selama itu ia merasa ingin berbagi buku-buku dan bahan bacaan lainnya, tapi belum menemukan jalan yang tepat. Karena itu, sesaat setelah membaca gagasan itu dari <em>milis blogger</em>, ia segera memberikan respons sebagai wujud dukungan.</p>
<p>Rupanya, langkah Ollie diikuti juga oleh para anggota <em>milis</em>. Dua hari setelah gagasan itu dilontarkan, delapan penerbit buku sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut berpartisipasi. Menurut Arul, sampai hari kesepuluh, sudah terkumpul tak kurang dari 250 judul buku, sekitar 200 buku di Jakarta dan kurang lebih 50 judul buku lainnya di Bandung. Dari buku-buku yang terkumpul itu, diperkirakan ada 30 persen dari penerbit dan 70 persen dari para <em>blogger</em>.</p>
<p>Merasa memperoleh banyak dukungan, Sabtu (26/4) dilakukan peluncuran program <em>Blogbrary</em> di Asia Bistro, Grand ITC Permata Hijau, Jakarta. Peluncuran ditandai dengan pemberian sumbangan secara simbolis dari <em>Kutukutubuku.com.</em></p>
<p><strong>Proyek contoh</strong><br />
Setelah peluncuran program, Arul dan kawan-kawan sudah berencana menyalurkan bantuan buku-buku yang terkumpul untuk perpustakaan di sebuah sekolah di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. &#8221;Sekolah ini akan menjadi proyek percontohan,&#8221; jelas Arul.</p>
<p>Penentuan sekolah calon penerima, menurut Arul, berdasarkan informasi dari Septi, salah seorang anggota <em>milis</em> yang berdiam di sekitar sekolah tersebut. Itu pun setelah lebih dulu diperoleh profil dan foto-foto sekolah. Arul, memang tidak jalan sendirian. Saat ini, kata dia, sedikitnya sudah ada tujuh perwakilan para <em>blogger</em> yang menjadi sentra pengumpulan, tersebar di berbagai kota: Jakarta, Bandung, Banten, dan Yogyakarta.</p>
<p>Selain itu, masih ada sejumlah <em>blogvolunter</em> yang siap berpartisipasi, mendatangi para penyumbang bila tak sempat mengirim langsung ke sentra pengumpul. &#8221;Teman-teman <em>blogger</em> banyak yang mahasiswa, yang bersedia mengambil,&#8221; kata Arul. burhanuddin bella</p>
<p><strong>Sentra Pengumpulan Buku </strong></p>
<p>Jakarta Pusat: Nanang (08128624488/71271367)<br />
Jakarta Selatan: Septi/Ummi Safna (08561131243) Jl Swadaya I No 42, RT 13 RW 09, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jaksel</p>
<p>Bandung: Teny Indah Susanti (08170210787) Jl Kemala No 5 Taman Cipadung Indah, Soekarno-Hatta, Bandung 40614 atau Rina Mutaqinah (085221141700), Yayasan Baiturrahman Jalan Babakan Radio No 52 RT 01/07 Kec Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung 40394</p>
<p>Banten: Novia (0817804088), Kompleks Pondok Pucung Indah II Blok B5 No 10, Poncok Pucung, Tangerang Yogyakarta: A Rhama S (08562800950) Sekretariat myQuran Jogja, Jl Jembatan Merah, Prayan Wetan No 26 (Puri Gejayan Indah) Condongcatur, Depok Sleman, Yogyakarta 55283</p>
<p>Surabaya: Aridaistia (081331705940)<br />
Kalimantan Barat: Rasiam 081345250999</p>
<p></span><em></em><em></em></p>
<p><em></em><em></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=75&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/05/05/blogbrary-dari-para-blogger/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://republika.co.id/images/header/header1.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Writers Marketing: KATALOG Bag 1</title>
		<link>http://kangarul.wordpress.com/2008/04/30/writers-marketing-katalog-bag-1/</link>
		<comments>http://kangarul.wordpress.com/2008/04/30/writers-marketing-katalog-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 04:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novelis</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Writers Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangarul.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[
Adalah hal yang lumrah apabila penulis (pemula) sering kebingungan soal &#8216;nasib&#8217; naskah yang ditulisnya.  Dia sudah berusaha dengan segenap jiwa, tenaga, bahkan sampai ke finansial untuk menggarap sebuah naskah, tetapi hasil yang didapatkan sepertinya jauh dari harapan sebuah pengorbanan itu. Sebuah kalimat yang kerap dilontarkan adalah &#8216;kok, naskah saya ditolak lagi&#8217;.
Pada umumnya, walau ini tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="item_body" class="bodytext">
<p>Adalah hal yang lumrah apabila penulis (pemula) sering kebingungan soal &#8216;nasib&#8217; naskah yang ditulisnya.  Dia sudah berusaha dengan segenap jiwa, tenaga, bahkan sampai ke finansial untuk menggarap sebuah naskah, tetapi hasil yang didapatkan sepertinya jauh dari harapan sebuah pengorbanan itu. Sebuah kalimat yang kerap dilontarkan adalah &#8216;kok, naskah saya ditolak lagi&#8217;.</p>
<p>Pada umumnya, walau ini tidak bisa digeneralisasikan, sebuah naskah jarang ditolak hanya karena alasan salah titik komanya, nggak betul menggunakan tdana kutip, atau ada kalimat atau kata yang salah ketik. Apalagi cuma karena judulnya yang kurang menarik. Atau yang lebih parahnya lagi nama penulisnya yang nggak <em>marketable</em> banget.</p>
<p>Obrolan kang arul dengan<a href="http://www.alimuakhir.multiply.com/"><span style="color:#818181;"> ali muakhir</span></a> pagi ini menemukan sebuah muara bahwa penolakan naskah itu lebih kepada (1) tema yang diangkat, (2) bagaimana kepiawaiaj merealisasikan tema itu kedalam naskah yang ditulis, dan yang lebih penting lagi (3) apakah naskah yang diterbitkan ini akan laku di pasaran atau tidak.</p>
<p>Tiga kategori ini dalam <em>writers marketing</em> menempati posisi yang cukup penting. Seorang penulis (pemula) selayaknya menjadikan tiga kategori ini sebagai pertimbangan yang dipikirkan masak-masak sebelum menawarkan naskah ke penerbit; bahkan jauh sebelum naskah itu ditulis.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengetahui bahwa ketiga kategori yang diinginkan oleh penerbit ini?</p>
<p>Dalam pembahasan soal <em>writers marketing</em> terdahulu (bisa dilihat di situs <a href="http://www.menulisyuk.com/"><span style="color:#818181;">www.menulisyuk.com</span></a>) bahwa tiga rumus yang harus dimiliki oleh penulis adalah SoPaN, yaitu Skill or Popular, and Networking. Dalam kasus ini kata Networking menjadi tema utama. Kita bisa mengetahui kategori ini apabila memiliki jaringan yang bagus dan baik dengan pihak penerbitan. Apalagi sudah nge-<em>friend </em>dengan orang-orang redaksinya, jadi kita bisa diskusi panjang tentang &#8216;apa yang dibutuhkan penerbit&#8217;, &#8216;tema apa yang sedang laris&#8217;, &#8216;berapa halaman yang diinginkan&#8217;, dan sampai &#8216;daftar isi apa yang dimaui&#8217;.</p>
<p>Lalu, bagaimana kalau kita sebagai penulis (pemula) belum mahir soal jarinngan ini?</p>
<p>Jawabannya mudah dan selama ini ada di depan mata; KATALOG buku.</p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kangarul.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kangarul.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangarul.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangarul.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangarul.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangarul.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangarul.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangarul.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangarul.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangarul.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangarul.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangarul.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangarul.wordpress.com&blog=1541644&post=74&subd=kangarul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangarul.wordpress.com/2008/04/30/writers-marketing-katalog-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/novelis-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Arul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>