RSS

Jualan ala Penulis; Membidik Pasar Komunitas

14 Sep

Banyak yang bilang kalau menjual buku ke konsumen ada batas psikologis yang harus ditembus, yaitu 3000 eks. Dan “… data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 eksemplar per judulnya.”(Kompas, Sabtu, 18 Juni 2005)

Jangan bandingkan dengan buku-buku yang menuai sukses di luar negeri, sebab bisa dipastikan bahwa akan pusing kepala kita memikirkannya. Bagaimana tidak, sebuah buku yang terkenal si Harry Potter itu bisa terjual lebih dari satu juta copy dalam 24 jam… sementara buku kita…. dapat 3000 dalam satu bulan pun sudah bikin syukuran di rumah.

Inilah kondisi terberat yang dihadapi oleh penulis dalam mengkomunikasikan pemasaran bukunya. Bagaimana sebuah buku harus bisa bersaing dengan erat dan sikut-sikutan di pasar buku yang sudah penuh dengan para pemain ini.

Apalagi, rasanya ini penting deh untuk direnungkan, jika kita menerbitkan di sebuah penerbit yang belum dikenal –dan celakanya nama kita juga nggak ada yang kenal . Brand image sebuah penerbitan sangat mempengaruhi serapan pasar. Dan masalah semakin bertambah dengan persaingan di toko buku. Rasanya bukan rahasia umum lagi bila toko buku terbesar yang ada di Indonesia dikuasai oleh satu brand dan ‘celakanya’ brand tersebut juga punya banyak unit penerbitan. Sehingga wajar dong kalau buku-buku penerbitan sendiri akan mendapatkan promosi yang luar biasa di toko buku sendiri.

Mengharap buku laris di pameran buku juga kurang layak dijadikan patokan. Sebab, pameran buku skala nasional tidak banyak. Paling banter tiga setahun; Indonesia Book Fair, Islamic Book Fair, Jakarta (dan daerah-daerah lain) Book Fair. Dan lagi-lagi dalam pameran itu saingannya bukan lagi hbitungan jari tangan dan jari kaki. Semua penerbit seakan-akan tumplek-bleg kayak penumpang kerata api jurusan Bogor-Jakarta di pagi hari.

Rumus penting bagi seorang penulis adalah “PENULIS PUNYA TANGGUNGJAWAB MELAKUKAN KOMUNIKASI PEMASARAN TERHADAP BUKU YANG DITERBITKAN!”

Lalu, sebagai penulis, apa yang mesti kita lakukan?

KOMUNITAS. Yup, lakukan komunikasi pemasaran buku yang kita tulis ke komunitas yang kita terlibat di dalamnya.

Sebagai makhluk sosial, tentu siapapun tidak bisa hidup sendirian. Perlu komunitas agar dirinya -dalam perspektif Mashlow- mendapatkan rasa nyaman, mampu mengaktualisasikan dirinya, diakui indentitas dirinya, terpenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. So, dalam pengertian mikro ada komunitas seperti keluarga, teman sekelas atau kuliah, gank nongkrong di ujung gang, temen main buu tangkis, atau kawan ngeronda malam. Sedangkan pengertian makro komunitas ada masyarakat, komunitas organisasi kemasyarakatan, komunitas sosial, komunitas politik, dan sebagainya.

Nah, kenapa tidak kita berdayakan komunitas-komunitas tersebut.

Misalnya nih ya, kita tergabung dalam KMSM alias Komunitas Motor Sering Mogok yang punya anggota sekitar 10 orang. Apa salahnya, saat buku kita terbit, kita tawarkan kepada anggota komunitas tersebut. Masak sih di antara 10 orang itu satu pun tidak ada yang beli, apalagi kalau kita adalah ketua gank-nya kan bisa tuh menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa semua anggota harus beli.

Bagaimana kekuatan komunitas itu juga diakui oleh beberpa penerbit, seperti dikutip Kompas, Sabtu, 18 Juni 2005

Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.

“Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 eksemplar,” kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.

Perencanaan promosi

Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang matang.

Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar tersebut. “Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan,” tutur Anton.

Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga diungkap Aris Buntarman. “Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas target marketnya berapa?” kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di bidang pemasaran buku.

Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah perang.

Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. “Tugas SPG kami untuk memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung,” kata Danang Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.

Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.

“Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik,” kata Hermawan menjelaskan.

Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai dengan keinginan pasar.

Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, ia tidak akan menjadi best seller.

Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja

Nah, masukkan kata KOMUNITAS dalam checklist komunikasi pemasaran Anda. Semoga saja dengan demikian buku Anda akan laku dipasaran!

Semoga…. saya juga dapat getah royaltinya… hehehhe!

 
1 Comment

Posted by on September 14, 2007 in Catatan, Writers Marketing

 

One response to “Jualan ala Penulis; Membidik Pasar Komunitas

  1. zukruf

    March 10, 2008 at 8:03 am

    wah saya dapat ilmu baru nih
    dikirain penulis cuma tinggal duduk diam nunggu royalti dari penerbit….

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: