RSS

The World in Your Finger

31 Dec

Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa internet merupakan produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat. Tidak hanya peneliti, kalangan akademis, dokter, atau ilmuwan saja yang dapat memanfaatkan ’keajaiban’ internet, melainkan juga semua orang dapat mengakses dan dapat pula membuka dunia informasi dengan hanya menggunakan jari mereka. ”The world in your finger”.

Melalui The World Wide Web, hanya dalam hitungan detik, informasi apapun yang sedang dicari akan terpapar di layar komputer. Dalam hitungan detik pula kita bisa meloncat dari satu negara ke negara yang lainnya. Beragam informasi disediakan oleh internet yang pada dasarnya bekerja dengan merangkai satu komputer dengan komputer lainnya yang tersebar di seluruh dunia.

Internet tidak hanya dimanfaatkan untuk mencari atau mengunduh beragam informasi saja. Saat ini dengan hadirnya surat elektornik (e-mail), grup diskusi (mailing list), jurnal online (blog, friendster, Multiply), hingga ruang mengobrol (messenger, chat room) memberikan kemudahan bagi siapapun di manapun untuk berkomunikasi di dunia cyber.

Bahkan kehadiran sarana komunikasi melalui komputer ini (Computer Mediated Communication) menghasilkan sebuah komunitas baru. Komunitas yang terdiri dari pengguna internet (netter) yang saling bertukar informasi, melakukan transaksi bisnis, bekerja, berdiskusi, ataupun hanya sekadar mengobrol saja.

Untuk menyebutkan contoh, grup diskusi yang dikelola oleh kelompok pembaca Harian KOMPAS –beralamat di Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com -memiliki anggota 4757 netter; tidak hanya yang berada di Indonesia, melainkan juga mereka yang menetap atau sedang berada di negara lainnya seperti malaysia, Singapura, Jepang, Amerika, Mesir, hingga Yaman. Rata-rata dalam setiap bulannya, sejak grup diskusi ini diluncurkan pada Juli 2004, ada sekitar 2 ribu e-mail yang masuk.

Bisa dipastikan bahwa anggota milis yang ribuan tersebut hanya sebagian kecil yang pernah bertatap muka secara langsung, selebihnya hanya dikenal melalui perantara komputer seperti chat room atau bertukar foto melalui jurnal online. Malah ada yang tidak tahu sama sekali siapa netter tersebut sebab sang netter ternyata menggunakan nama samaran dan tidak ada data-data pendukung lainnya. Namun, proses interaksi dengan unindentified netter tersebut tetap berjalan seperti layaknya mereka yang telah berkenalan atau pernah bertatap muka.

Inilah kekuatan dari internet. Keberadaannya membentuk sebuah kultur baru di mana batas-batas geografis, demografis, etnisitas, ras, agama, hingga budaya menjadi tersamarkan. Semua netter berada dalam wilayah yang disebuat dengan cyberworld atau dunia siber.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh di antara netter adalah interaksi yang biasa terjadi di dunia nyata. Interaksi yang mempertemukan mereka secara fisik. Hanya saja dengan internet proses interaksi dan komunikasi dimediasi dengan kata-kata dan layar komputer. Pertemuan fisik menjadi sesuatu hal yang tidak menjadi syarat utama dalam dunia siber tersebut. Rheingold menyatakan “Virtual communities are cultural aggregations that emerge when enough people bump into each other often enough in cyberspace” (Robin, 1999).

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2007 in Media Sosial

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: