RSS

Labirin

05 Jan

Genre: Mystery & Thrillers
Author: Arul Khan
Penerbit: DAR! Mizan, April 2005
Tebal: 194 halaman
Genre: spy-fi

di tengah maraknya invasi chicklit-dan-sejenisnya di ranah sastra
nasional, . arul khan datang mengagetkan kita
semua lewat sebuah novel yang sangat berbeda dengan imej arul sebagai
penulis romantis-melankolis selama ini.

setelah menakik nama di peta novelis nusantara lewat `senja yang
menghilang’, `romantisme masa lalu’, serial gang buntu 13 (`bintang
sinetron’ dan `hati yang terluka’) serta `cewek sombong banget
(semuanya dari dar! mizan) dan `carikan aku istri’ (fba press), maka
arul — yang sering merasa mirip dengan shah rukh — khan ini
mengunjungi imajinasi pembaca ala robert ludlum, frederick forsyth,
tom clancy, atau yang lebih klasik, somerset maugham.

arul datang mengibarkan bendera spy-fiction yang diulek lagi dengan
adonan thriller, dan sedikit taburan bumbu konspirasi: sebuah formula
gado-gado yang merangsang adrenalin pembaca untuk tetap
merasa `kepedasan-tapi-nikmat’. dan bagi kita, orang indonesia, siapa
sih yang nggak suka dengan gado-gado? karena yang aneh dengan gado-
gado adalah bukan sekadar rasa nikmat yang dicari, tapi juga rasa
pedas, terlebih after taste di ujung lidah setelah gado-gado itu
mendekam tenang di lambung. ada sisa rasa, entah bumbu kacang, atau
potongan cabe, yang seolah enggan pergi dari rongga mulut.

baiklah, first thing first.
kenapa harus dibandingkan dengan ludlum, forsyth, atau clancy?

apa boleh buat, sependek pengetahuan saya, belum ada novel-novel spy-
fi yang ditulis penulis lokal yang pantas dikenang, selain genre ini
termasuk `the road less traveled’, jalan sunyi jarang disusuri oleh
para penulis kita. maka dari sudut ini, arul punya nyali memasuki
jalan lengang yang sesungguhnya sangat menakjubkan untuk
dieksplorasi, dengan ketekunan riset, kepiawaian memuntir logika
pembaca, dan kepandaian menyimpan rahasia sampai akhir cerita.

maka berceritalah arul tentang sebuah biro intelijen fiktif bernama
seabi (south east asia bureau of investigation) yang sedang
digerojok dari dalam (baca: krisis kepemimpinan dan pengkhianatan).
biro goyah setelah sang bos besar (prabu) mengalami percobaan
pembunuhan. para agen (arul menyebutnya `profiler’) bingung dengan
keadaan itu sehingga beberapa profiler senior mengontak lagi seorang
profiler legendaris yang sudah pensiun beberapa tahun silam: irfan.
[kita tidak tahu apakah tokoh ini kang irfan hidayatullah atau bang
irfan mansyur🙂, karena arul tampaknya merasa cukup memberikan nama
tunggal ini tanpa tambahan embel-embel lain].

irfan adalah satu dari lima profiler kondang yang mendapat julukan
pandawa lima dari seluruh biro, karena reputasi mereka yang gemerlap.
seluruh tugas berhasil dituntaskan pandawa lima dengan baik, kecuali
sebuah kecelakaan di perbatasan laos-vietnam.
singkat kata, dengan kehadiran irfan, yang sempat maju mundur, semua
rahasia terbongkar.

dengan setting novel yang berpindah-pindah jakarta, singapura, lalu
di perbatasan laos-vietnam tempat instalasi pengayaan uranium
(uranium enrichment) berada, arul punya bahan gado-gado yang bisa
menggoyang lidah pembaca. apalagi ada bumbu-bumbu peristiwa 9/11 dan
sikap amerika serikat yang mengeras terhadap terorisme yang [ingin]
dikesankan sebagai anteseden terbentuknya seabi.

sekali lagi, karena ini `the road less traveled’, biasanya berlaku
hukum `pencari mutiara’: the first man gets the oyster, the second
gets the shell. arul punya peluang untuk mendapat `oyster’ dari
langkanya penulis yang menggeluti genre ini.

sayangnya, ibarat bumbu gado-gado, racikan yang dibuat arul masih
terlalu encer. sebagai penyelam samudera, arul masih terlalu takut
menyelam ke dasar samudera, sehingga ia masih perlu menunggu waktu
sebelum mendapat `oyster’ yang dicari, yang syukur-syukur belum
diambil penyelam (baca: penulis) lain kalau dia tidak hati-hati.

di halaman 18, misalnya, arul mencoba menggambarkan sebuah adegan
dramatis penembakan di lift hotel indonesia, terhadap bos seabi yang
dilakukan oleh seseorang yang berpakaian pelayan hotel. ini awal
peristiwa yang menjadi pemicu ketegangan di sepanjang tubuh novel
yang terdiri dari 14 bab ini (kenapa juga disebut ‘chapter’, rul?)

petikannya: “sejenak drigo tak merasa curiga, namun seseorang
berseragam pelayan hotel itu mendorong mejanya sehingga berada tepat
di antara pintu lift, seperti sengaja untuk menahan pintu lift
tersebut … tangan drigo segera meraba jas dalam-dalam. mencoba meraih
senjata. tapi, seseorang berseragam pelayan hotel itu jauh lebih
cepat. sebuah senjata berperedam telah diarahkan kepada mereka. dor!
… drigo tersadar ada bahaya yang sedang mengancam mereka. seketika
itu juga kaki kanannya menendang meja dorong tadi kuat-kuat, dan
bersamaan dengan itu, sekali lagi suara itu terdengar. dor! untungnya
drigo sempat merunduk. Lapisan kaca lift di belakangnya hancur
berantakan…”

dramatis sekali, tapi jelas arul kurang melakukan riset sehingga
kita, pembaca, hanya seperti melihat video game, bukan sebuah upaya
pembunuhan yang terasa menggetarkan.

masalahnya adalah adanya sebuah kontradiksi yang besar, yaitu (1)
lift di hotel indonesia (sebelum hotel ini dibongkar untuk renovasi)
adalah salah satu lift terkecil dalam ukuran luas. panjangnya mungkin
hanya 1,5-2 meter. tidak lebih. dan (2), arul barangkali `lupa’,
bahwa kecepatan sebuah peluru, yang dinyatakan dengan feet per second
(fps) benar-benar sangat cepat. sebuah peluru senjata ringan seperti
senapan angin memiliki kecepatan 600 fps (sekitar 180 meter per
detik), sedangkan senjata genggam modern, dengan teknik propulsi
canggih seperti yang digunakan para agen intelijen, bisa mencapai
1200-1500 meter per detik!

artinya jarak dalam lift, dari ujung ke ujung, hanya membutuhkan
waktu maksimal 1/750 detik, sebelum peluru sampai ke sasaran. ini
jelas jauh lebih cepat ketimbang semua respon drigo mulai dari “sadar
ada bahaya yang mengancam” (proses respon otak dalam menyadari sebuah
bahaya katakanlah sekitar 1/10 detik), ditambah “seketika itu juga
kaki kanannya menendang meja” (umpama kan 1 detik, ini sudah cepat
sekali, tendangan seorang pendekar silat), belum lagi dengan gaya
kinetik meja yang menggeleser di lantai yang butuh beberapa detik
karena ada hambatan dengan lantai lift.

logika fisika jadi rontok di halaman ini. kecuali, dan hanya kecuali,
arul mau meminjam cara berpikir wachowsky brothers dalam membesut
film trilogi matrix, di mana keanu reeves (sebagai neo) mampu
mengelak hujan peluru yang mengepungnya, dari segala arah (sayangnya,
adegan indah ini dipinjam semena-mena oleh produsen sampo sekadar
untuk menunjukkan `rambut sehat’).

menulis novel spy-fi, mutlak membutuhkan pengetahuan mendasar tentang
senjata (terutama senjata genggam), karakternya, dan juga tentang
peluru. apalagi untuk sebuah biro intelijen yang tentu banyak
menggunakan peluru-peluru modern seperti full metal jacket, armor
piercing, soft point, atau glaser safety slug.

yang kedua menyangkut ritme kerja para agen. sebetulnya sudah cukup
banyak film seri yang bisa dipelajari untuk “dipinjam” deskripsi
mereka tentang dunia terselubung para profiler yang bahkan sering
tidak mengenal satu dengan yang lain, kecuali dengan mata rantai
penghubung mereka (vertical) dan bukan ke samping (horizontal). yang
paling fenomenal tentu serial `alias’ dimana jennifer garner menjadi
agen ganda di cia, dan sid-6. dunia kerja profiler, dan sistem
hirarkis ini yang kelihatannya juga masih terlalu cair di novel arul,
sehingga tidak terkesan bahwa seabi adalah organisasi yang `angker’
sekaligus `berwibawa’, meski ruang lingkupnya regional (asia
tenggara). rasanya tidak mungkin, teman-teman irfan akan
memanggilnya dengan sebutan `bang irfan’ atau `bang’ seperti berulang
kali terjadi di labirin.

yang ketiga, dunia intelijen selalu menyangkut telik sandi, metoda
enkripsi dan dekripsi, perlengkapan software dan hardware yang
canggih. apalagi di seabi, organisasi intelijen regional itu, sedang
terjadi sebuah operasi di dalam operasi, kontra intelijen, selain
upaya melumpuhkan instalasi pengayaan uranium di perbatasan vietnam-
laos (chapter 3, hal 31-43). deskripsi instalasi rahasia itu sangat
minim karena arul berhemat dengan detil. bandingkan dengan instalasi
antimateri di laboratorium cern, yang dipakai oleh dan brown sebagai
settingnya dalam `angels and demons’.

apa sih uranium itu? apa sih pengayaan uranium itu? apa bahayanya
uranium yang telah diperkaya? sebagai bahan bom nuklir? seberbahaya
apa sampai irfan dan pandawa lima harus menyegel instalasi itu?

ini sebetulnya isu actual, terutama menyangkut (rumor) adanya
instalasi pengayaan uranium di iran yang selama hampir 2 tahun
terakhir selalu dibombamdir oleh keinginan amerika serikat untuk
menginspeksi dan menyegel fasilitas-fasilitas itu. kalau amerika saja
begitu ngeri, makhluk seperti apa sebenarnya instalasi itu? paling
tidak bila dibandingkan dengan daya ledak bom atom hiroshima, berapa
ribu kalinya kah? Atau berapa juta kali?

beberapa hal lain lebih menyangkut akurasi dan kondisi yang rasanya
agak tidak sesuai saja. misalnya di halaman 92 seorang profiler lain,
bernama helmi, nama sandi spooky … tinggi 173 cm dan berat badan 58
kilo. helmi adalah agen yang paling sering digunakan dalam
operasional biro karena penguasaannya terhadap 5 bahasa (hal. 93).

terus terang, saya sulit membayangkan kondisi helmi dengan deskripsi
seperti itu. kenapa? kalau betul helmi sering digunakan dalam
operasional biro, maka ia pasti agen terlatih, kalau bukan paling
terlatih. kalau ia seorang agen terlatih, otot-ototnya pasti ligat,
baik karena ditempa di gymnasium maupun dibentuk di lapangan. kalau
otot-ototnya terlatih, sulit membayangkan seorang agen dengan tinggi
173 cm “hanya” memiliki berat 58 kilogram, karena itu tubuh yang
kerempeng. (ini agen intelijen lho, bukan agen minyak tanah…:-).

masih tentang helmi, di hal. 103, si spooky ini digambarkan hendak
check-in di sebuah hotel di bogor. uang tunainya tidak cukup untuk
membayar harga kamar standar yang tiga ratus ribu rupiah. helmi lalu
menggunakan kartu kredit.

yang menimbulkan pertanyaan adalah kalimat ini “helmi menyerahkan
salah satu kartu kreditnya. kartu berwarna keperakan dengan logo …
dst.. dst”. rasanya, kalau melihat film-film sih karena saya juga
tidak tahu dunia intelijen yang sebenarnya, agak sulit menerima fakta
bahwa helmi, sang agen andalan itu, hanya memegang `kartu warna
keperakan’ yang biasanya dipegang oleh orang-orang yang baru pertama
kali mempunyai kartu kredit dengan limit yang amat sangat terbatas.
sepantasnya helmi memegang `kartu dengan warna keemasan’. atau kalau
tidak mau repot dengan warna, cukup disebutkan `helmi mengeluarkan
salah satu kartu kreditnya’ saja. selesai.

apa boleh buat, perbedaan warna, dalam kartu kredit, adalah sebuah
segrerasi sosial yang baru. warna perak bukan hanya sekadar berbeda
dengan warna emas, tetapi sekaligus mengklasifikasikan pemiliknya
dalam sebuah strata sosial ciptaan bank penerbit kartu kredit itu,
yang berkaitan dengan berapa gaji kita setahun, dll.

sementara kasus begitu mudahnya afifah dan lambas dalam menerobos
sistem perbankan swiss (chapter 11, stego) masih bisa diperdebatkan
lebih jauh, apa mungkin bisa semudah itu dengan teknologi firewall
dan beragam security lainnya yang dipasang oleh institusi perbankan,
sebuah deskripsi yang di chapter 13, labirin, yang menjadi judul
novel, lumayan membingungkan.

di hal. 169, dibuka dengan deskripsi tempat kediaman prabu (bos
seabi) yang sedang dipenuhi suara musik gubahan chopin, nocturne no.
2 in e flat dari CD yang sedang diputar (hal. 170), tapi di hal. 174,
arul menulis, “suasana hening. suara musik instrumen dari tape
(italic) tidak terdengar, alat itu sedang mengganti sisi kaset secara
otomatis.” kaset? … atau cd?

tanpa bermaksud meremehkan upaya arul untuk menggemburkan ladang
penulisan genre spy-fi, novel ini malah menempatkan pembaca
dalam `labirin pertanyaan’ yang tidak menyebabkan kita mudah
menemukan pintu keluar, sekadar untuk menghirup napas lega setelah
mengalami rentetan peristiwa yang mencekam.

seandainya, seandainya arul sabar menggarap detil seluruh bahan
kisahnya yang sebetulnya menarik ini, katakanlah minimal 3 kali lebih
tebal dari novelnya sekarang yang hanya 194 halaman, labirin boleh
jadi akan menjadi `ayat-ayat cinta’ untuk genre spy-fi yang mengeset
standar baru dalam penulisan novel jenis ini di tanah air.
kalau boleh meminjam judul dari ludlum, labirin ini adalah `the irfan
identity’ yang bisa dilanjutkan dengan `the irfan supremacy’ bahkan
sampai `the irfan ultimatum’.

dengan sedikit usaha ekstra untuk lebih mengenali lika-liku dunia
intelijen dan subkultur para profiler, cerita selanjutnya
dari `labirin’ mudah-mudahan bisa mengisi tempat kosong yang bernama
spy-fi itu.

ayo rul, the first man gets the oyster, dan arul sudah yang terdepan
sejauh ini. jangan biarkan mutiara itu lepas ke tangan orang lain:
sebutan `master spy-fi indonesia’, karena kamu yang sudah merambahnya.

Akmal N Basral, Redaktur Majalah TEMPO

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2008 in Buku-ku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: