RSS

Sincere dalam Menjual Naskah

09 Jan

Sincere. Dalam kamus Bahasa Inggris ketika menyebutkan kata ‘Sincere’, maka padanan kata tersebut antara lain adalah truthful, earnest, genuine, atau honest. Semua kata tersebut bermuara pada satu kesimpulan; dapat dipercaya!

Namun, tahukan bahwa sebenarnya kata ‘Sincere’ berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tanpa lilin’?

Dahulu kala setiap pengrajin kayu gemar menggunakan lilin. Sebab, tidak semua kayu yang mereka dapatkan memiliki kualitas terbaik dan tanpa cacat ketika dijadikan bahan rumah tanggah mulai dari lemari, kursi, sampai pintu. Lilin sangat membantu untuk menutupi cacat tersebut. Sebelum di cat, bagian kayu yang bolong –entah karena termakan rayap atau retak— terlebih dahulu ditutupi oleh lilin. Ketika selesai, tak tampak semuanya terlihat sempurna.

Namun, yang terlihat sempurna itu akhirnya terbongkar pula. Barang-barang kayu yang berada diletakkan di tempat bersuhu panas atau disengat matahari menyebabkan lilin yang dipakai meleleh. Celakanya, hal ini terjadi di hampir semua rumah. Sejak saat itu mereka kehilangan kepercayaan terhadap pengrajin kayu.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, para pengrajin pun sadar. Mereka pun mulai membuat barang-barang dari kayu tanpa menggunakan lilin. Dan untuk meyakinkan pembeli, semua pengrajin dan penjual barang-barang dari kayu memasang tulisan ‘SINCERE’ atau tanpa lilin, berasal dari kata ‘sine’ berarti lilin dan ‘cere’ yang berarti tanpa.

* * *

Tidak berlebihan dikatakan bahwa selama ini hubungan yang dilakukan antara penulis dan penerbit berkaitan dengan naskah adalah hubungan yang dibangun secara kobvensional. Artinya, seorang penulis –entah itu penulis pemula hingga penulis profesional— mengajukan naskah yang sudah jadi ke pihak penerbit; menyerahkan sepenuhnya penilaian naskah jadi tersebut di tangan redaksi penerbitan dan menunggu antara satu hingga enam bulan sampai keputusan itu datang.

Bagi banyak penulis ini adalah mekanisme yang wajar. Namun, bagi banyak penulis juga, apalagi bagi mereka yang baru menghasilkan satu naskah, hal ini kadang merupakan penyiksaan. Satu hingga enam bulan adalah waktu yang terasa lama hanya untuk mendengar kata ‘IYA’ atau ‘TIDAK’. Dan penyiksaan itu semakin bertambah apabila penolakan yang disampaikan oleh penerbit tanpa disertai penjelasan apapun. Lalu, apa yang kurang dari naskah ini? Kalau ada bagian yang kurang bagaimana memperbaikinya agar sesuai dengan selera ‘IYA’ redaksi? Atau tema yang kurang trend, lalu tema apa yang sedang laku di pasar?

Pertanyaan yang terjawab adalah kenyataan, walau kadang pahit. Namun, apabila pertanyaan hanya bisa dijawab oleh pertanyaan pula, maka itulah misteri. Mimpi buruk semalam. Dan Anda harus keluar dari mimpi buruk itu!

Caranya? Ubahlah mekanisme konvensional yang selama ini diyakini. Ubahlah hubungan penulis dengan penerbit dalam hal naskah menjadi hubungan yang satu tingkat naik ke atas; jangan tawarkan naskah jadi ke penerbit, tetapi tanyakan naskah apa yang diinginkan oleh penerbit yang bisa Anda siapkan!

Mungkin ajuan ini terdengar asing, tetapi mekanisme modernis ini telah dilakukan oleh banyak penulis di Indonesia. Ada banyak penulis yang menikmati uang di muka dari naskah buku yang belum ditulis. Juga, ada banyak penerbit yang mulai senang melakukan cara ini.

Hanya saja untuk sampai pada tahap ini tidaklah mudah. Setidaknya ada beberapa kondisi yang memang menjadi landasan utama untuk membangun hubungan antara penulis dan penerbit dalam hal naskah ke tahap selanjutnya.

Pertama, antara penulis dan penerbit sudah ada hubungan yang baik. Ketika disebutkan si penulis A, maka pihak penerbit tahu bahwa yang dimaksud adalah si penulis A itu, bukan penulis R, penulis U, atau penulis L. Hubungan ini terjadi dalam dua kondisi, penulis yang mencoba membuka pintu perkenalan ke pihak penerbit atau pihak penerbit yang tahu tentang penulis karena telah membaca karya-karyanya.

Kedua, penerbit punya bagian research and development, bagian yang melakukan penelitian demi penelitian untuk mengetahui buku-buku bertema apa yang sedang laku di pasar. Data yang dikumpulkan oleh bagian ini menjadi pertimbangan utama –walau bukan satu-satunya— bagi redaksi untuk menentukan kebijakan buku apa yang akan diterbitkan selanjutnya. Karena itu pihak penerbit akan menghubungi penulis-penulis yang bisa menggarap naskah bertema tersebut.

Anda bukan penulis yang telah punya nama dan terkenal, jadi jangan berharap durian runtuh, penerbit tiba-tiba tahu nomor kontak, langsung menghubungi, dan langsung meminta Anda untuk menulis naskah pesanan. O ho… it’s a miracle!

Namun, tidak perlu menjadi terkenal untuk bisa menerapkan mekanisme modernis hubungan penulis dan penerbit dalam hal naskah. Siapapun juga, bisa saja mengajukan draft, usulan, pemikiran, rancangan, hingga tema-tema yang marketable ke pihak penerbit. Sebaliknya, penerbit merasa yakin bahwa naskah yang ditawarkan tersebut adalah naskah yang mereka inginkan.

Lakukan IDAMAN! Introducing (perkenalkan) diri ke penerbit manapun yang bisa menjadi atau memungkinkan untuk ditawarkan kerjasama ini. Discuss (berdiskusilah) dengan pihak redaksi tentang rencana-rencana naskah buku yang ditawarkan, atau bertanyalah tentang apa yang sedang dibutuhkan oleh penerbit. Assuring (yakinkan) pihak redaksi bahwa Anda bisa menghasilkan naskah yang bagus dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Making (buatlah) naskah dengan serius. Terakhir, No-doubt! (tidak disangsikan lagi) bahwa naskah yang telah jadi adalah naskah berkualitas yang terbaik dan diserahkan ke penerbit sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan bersama.

Inilah yang dimaksud dengan menjual naskah sebelum ditulis.

* * *

Namun, ketika Anda melakukan hal tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilanggar. Bahwa kepercayaan yang diberikan oleh penerbit untuk menulis naskah jangan dibayar dengan hasil yang mengecewakan, tidak sesuai dengan keinginan penerbit, halaman yang kurang, sampai batas waktu yang terlewat. Ini sama saja seperti menaruh lilin untuk menyamarkan kualitas diri sebagai penulis –yang sebenarnya tidak mampu— di mata penerbit.

Ketika dalam proses diskusi kesepakatan yang dicapai bahwa naskah yang diingkan harus jadi dalam waktu satu bulan, maka satu bulan kemudian naskah itu harus jadi. Tidak boleh tidak. Malah menjadi nilai lebih apabila sebelum genap satu bulan naskah sudah diserahkan ke penerbit. Ada kepercayaan yang menjadi pertaruhan di sini.

Apabila kepercayaan tersebut dinodai, yakinlah bahwa pihak penerbit memiliki memori yang kuat untuk mengingat ‘kecelakaan’ tersebut. Banyak perencanaan yang berantakan akibat ulah Anda; mulai dari rencana pengembangan dan produksi, jadwal pengerjaan naskah, jadwal cetak, rencana promosi dan penjualan, serta rencana keuangan. Efek domino yang menyesakkan bagi pihak penerbit. Lalu, penerbit pun menaruh nama Anda sebagai orang yang tidak layak dan patut dihindari apabila ingin melakukan kerjasama. Beruntunglah Anda apabila penerbit tidak meniup isu (yang benar) ini kepada kolega penerbitnya yang lain.

Yang lebih ekstrem lagi, tidak ada kesempatan kedua bagi Anda memperbaiki hal ini, meski Anda datang ke penerbit dengan membawa sertifikat bertuliskan ‘SINCERE’, tanpa lilin!

 
3 Comments

Posted by on January 9, 2008 in Writers Marketing

 

3 responses to “Sincere dalam Menjual Naskah

  1. nurcha

    February 2, 2008 at 1:08 pm

    Sincere – Tanpa Lilin

    mengingatkan pada buku the deception point…

    Like

     
  2. nurcha

    February 5, 2008 at 4:28 am

    bukan the deception point dink, tapi digital fortress – update buku… dong… dong… hwa ha hwa

    Like

     
  3. Asep Zuhri

    March 13, 2008 at 3:21 am

    Intinya khan kejujuran dan kedisiplinan serta menepati janji khan Kang ?

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: