RSS

5 Pemenang Buku HIDAYAT NUR WAHID (HARDCOVER)

05 Feb

hnw.gif

Terima kasih atas rekan-rekan yang sudah meninggalkan ‘jejak’ endorsment-nya tentang Hidayat Nur Wahid. Dan setelah dinilai oleh kang arul dibantu oleh seorang editor penerbitan (rencananya akan masuk ke dalam buku cetakan kedua) maka berikut adalah nama-nama yang berhak mendapatkan 10 buku gratis HNW

Bagi para pemenang congrats, dan segera melakukan konfirmasi alamat pengiriman ke email kangarul@gmail.com 

4 Mustawa Elegant
Alumni Gontor yang tetap menjadi santri walaupun sudah menjadi pejabat publik. Kesederhanaannya ketika dia belum menjadi “orang” sampai dia menjadi “orang” tidak lekang di terkena pana dan tidak lapuk terkena hujan. Ia merupakan sosok pemimpin yang membumi, populis, humanis tetapi tetap menjadi seorang loyalis sejati sebagai pemegang amanah dan memiliki integritas yang tinggi jika sudah berbicara kebenaran, lebih-lebih jika sudah berkaitan dengan nasib rakyat banyak. Semua itu bukanlah sesuatu yang instan tertanam pada dirinya. Tentunya ada banyak hal yang dia dapati selama belajar dari kehidupannya. Oleh karena itu, sungguh beruntung bila memiliki buku yang mengupas tentang sepak terjang tokoh yang satu ini. Semoga saya termasuk salah seorang yang memiliki buku-buku tersebut.
Wassalam wr wb. Mustawa Elegant 08569974262

14 Nugroho Laison
Di kantor saya yg sebelumnya, kami sering berdiskusi mengenai siapa Pak Hidayat Nurwahid, terutama karakternya.
Beliau kami beri julukan `orang tak waras` terutama di kalangan elit politik, bila kita menganggap waras adalah mengikuti trend, tingkah laku umumnya.
Beliau mirip dgn almarhum Baharuddin Lopa. Sama-sama tidak waras, karena menolak KKN – Korupsi, Kolusi, Nepotisme…sementara yg lainnya sibuk. Yah ini dia tdk warasnya =) orang berhati nurani dan lurus selalu dicap tidak waras di tengah arus zaman edan dengan banyaknya orang-orang tidak lurus dan membatu hati nuraninya.
Di tahun 2005, Ketika DPR ramai-ramai ‘menuntut` uang lebih yg katanya hak mereka, terutama kalau kita mendengar komentar Pak Agung Laksono…justru Pak Hidayat Nurwahid mempelopori pengembalian uang atau menyumbangnya ke korban bencana dan rakyat miskin. Suatu gerakan baru di DPR/MPR.
Beliau orang sederhana namun cendekiawan…itulah gambaran saya membaca di beberapa media massa, terutama majalah Tarbawi.
Doa saya utk beliau adalah agar Allah meneguhkan hati Pak Hidayat Nurwahid dlm agama-Nya, agar tetap ‘tidak waras’ sebagaimana sekarang dan dahulu =) Aamiin.
Wassalam,Nugon
20 agus
Ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari sosok beliau :
1. Kesederhanaan, inilah yang perlu dimiliki oleh para pemimpin di negeri ini. Mungkin jika Iran Ada Ahmadinejad dengan kesederhanaanya, maka di Indonesia Beliau merupakan Figur yang cocok. Karena bagaimanapun, dari mulai rasulullah dan para khulafaurasyidin mereka menjadi pemimpin yang hidup dengan kesederhanaan. Begitu juga dengan sosok Umar Bin Abdul Aziz. Nampaknya, krisis di negeri ini perlu dimulai dengan kesederhanaan para pemimpinya.
2. Beliau sosok Ideal seorang santri. Dimana selama ini santri diidentikan dengan harus menjauhi kesuasaan. Beliau merupakan kader terbaik diantara ribuan Santri Gontor. Sesungguhnya dengan hal ini bisa menjadi bukti bahwa seorang “santri” layak memimpin di negeri ini. Karena kita ketahui negeri ini berdiri pun tak lepas dari peran Ulama. Sesungguhnya Sosok beliau yang alumni Pesantren Gontor bisa menjadi sebuah kebanggaan, karena Gontor sebagai sebuah Institusi Keagamaan “Pesantren Modern” Bisa banyak sekali pemimpin di Negeri ini. Hal ini bisa menjadi sebuah pengakuan bagi negara-negara lain yang phobi terhadap Islam. bahwa Islam itu bisa menjadi Rahmat dalam meimpin dunia ini.
3. Santun dalam berkomunikasi, munkin mencerminkan sosok beliau dari Solo yang terkenal dengan kultur keramahannya.
Semoga saya bisa mendapatkan Buku tersebut, dan mempelajari pemikiran-pemikiran serta visi dan misi beliau dalam memimpin negeri ini…Bukankah kita perlu membaca dan selalu mempelajari kearifan…kearifan para pendahulu kita…kesederhanaan, dan kebijaksanaan, Umar Bin Khatab, Umar Bin Abdul Aziz, ….dan kita perlu membaca visi kesederhanaan dalam memimpin di era ini…maka tepat Jika Buku ini terbit di tengah-tengah kita. Selamat.

Agus Candra Forum Lingkar Pena Malang
081322249040 email : agus_suhada2003@yahoo.com

32 imam
Dua jam lebih saya berdiri di pintu masuk Hotel Grasia Semarang, 22 Januari 2007, setahun lalu. Jarum jam menunjuk angka 4. Ketua MPR Dr HM Hidayat Nurwahid MA, orang yang saya tunggu-tunggu, belum juga rampung memberikan ceramah di hadapan para pakar di Jawa Tengah. Saya sudah dijadwalkan oleh asisten pribadinya ketika melobi jam 9 pagi sebelumnya untuk mewawancarai mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera itu.
Oya, perkenalkan saya wartawan “Suara Merdeka”, korannya Jawa Tengah. Kini saya ditugasi mengelola situs “suaramerdeka.com”, media online SM. Sudah lama saya ingin sekali mewawancarai Pak Hidayat. Ketertarikan saya memuncak ketika baru saja menjabat Ketua MPR, beliau sudah menghentak publik dengan menolak fasilitas mobil Volvo. Baginya, Volvo adalah simbol kemewahan yang tidak sejalan dengan kondisi bangsa yang masih dirundung permasalahan.
Kembali ke cerita, alhamdulillah setelah hampir 2,5 jam menunggu, akhirnya Pak Hidayat muncul. Lengkap dengan wajah berhias senyum. Begitu beliau masuk mobil dinas, saya pun menyusul. Saya duduk bersebelahan dengan beliau di belakang. Beliau di kanan, saya di kiri. Di depan kanan ada sopir dan aspri di jok kiri. Aspri –maaf saya lupa namanya– memperkenal saya dan keperluan saya kepada Pak Hidayat.
Mobil meluncur menuju Bandara Ahmad Yani. Usai menelepon kolega sana-sini, barulah beliau mempersilakan saya mewawancarainya.
Waktu itu saya mewawancarai kerumitan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dan apa solusi menurut beliau. Dan menakjubkan. Di mata Pak Hidayat, kerumitan masalah bangsa ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan dimulai dari langkah sederhana. Yakni dengan bekerja maksimal sesuai tugas dan wewenangnya.
“Kalau saja masing-masing lembaga negara bekerja sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimiliki pasti akan memberikan solusi,” kata beliau waktu itu.
Cerita di atas adalah salah satu dari sekian kesempatan reportase saya bersama Pak Hidayat. Selain wawancara tadi, sebelumnya saya pernah mewawancarai beliau waktu mengunjungi korban gempa di Klaten dan beberapa kesempatan hadir di Semarang.
Jujur figur Pak Hidayat menginspirasi hidup saya. Saya salut pada “kesederhanan” dan “kecerdasan”-nya. Saya berdoa moga-moga Pak Hidayat bisa istiqomah. Semoga suatu saat nanti Allah Swt mengizinkan Pak Hidayat untuk memimpin negeri ini. Aamiin. Dan semoga saya bisa terus menggali banyak inspirasi dari beliau. Entah, saya tak tahu apakah buku yang ditawarkan itu bisa memenuhi obsesi. Tapi yang pasti, bagi saya buku itu berarti jika saya tidak memiliki. Moga Kang Arul mengerti. (Hehe… ternyata UUB juga –ujung-ujungnya buku).

salam imam m

76 Afrina Fajar W
Assalamualaikum akh Arul
Saya mengenal Hidayat Nur Wahid (HNW) sebagai sosok yang santun dan bersahaja..pemimpin yang mampu menempatkan dirinya pada tempatnya tidak lebih dan kurang..pemimpin yang tindakan, komentar dan pandangannya terasa sejuk, mampu menjadi penyeimbang di antara berbagai pihak. Hal tersebut dapat kita lihat dari ucapan dan tindakan beliau selama ini di media massa. Sikap beliau ketika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain dalam menyikapi sebuah masalah, dimana beliau memandang arif dan bijak, tanpa menyudutkan pihak tertentu dan memperkeruh suasana. Hal tersebut menjadikan beliau disegani tidak hanya oleh kawan, naun juga oleh “lawan”.
Saya pernah menghadiri sebuah forum panel yang dihadiri oleh banyak aktivis mahasiswa dimana beliau menjadi salah satu pembicara/panelis. Ketika salah satu peserta bernada keras menyudutkan beliau, beliau dengan arif mampu menjawab dengan jawaban solutif, tanpa terpancing untuk bersikap reaktif. Menjawab dengan jawaban reflektif..dimana audiens diajak untuk terlibat dalam pemikiran dari jawaban tersebut sehingga apa yang disampaikannya adalah sebuah ajakan untuk bersama melakukan suatu perubahan menuju perbaikan, bukan hanya berhenti pada wacana semata…
Sebagai seorang pemimpin, pribadi sehari-hari beliau pantas untuk ditiru.. ketika dalam suatu kesempatan saya bersama bersama beliau berkunjung ke lokasi pembangunan sekolah pascagempa bumi di DIY dan sekitarnya. Kami berangkat dari rumah beliau pagi dan menunggu di mushola dekat rumah beliau. Rupanya, yang menyebabkan kami menunggu adalah HNW sedang membersamai ibundanya tercinta makan pagi bersama, karena mengingat usia ibu beliau sudah lanjut sehingga agak lambat makannya. Saya jadi ingat bagaimana ayah George Washington membiasakan keluarganya makan pagi bersama sebelum semua anggota keluarganya beraktivitas dalam hari tersebut. Melalui “ritual tersebut” dia mendidik anggota keluarganya untuk mempererat hubungan kekeluargaan karena di ruang makan tersebut mereka bisa saling dekat satu dengan yang lainnya, bercerita tentang dirinya dengan segala aktivitasnya, saling menasihati dan memotivasi..tanpa merasa rendah satu dengan yang lainnya. Sesibuk dan sepadat apapun jadwalnya, andaikan telah diatur dengan baik, “ritual” tersebut menjadi salah satu “tarbiyah” di rumah tangga. Ketika mau keluar berangkat, beliau tak lupa untuk mencium tangan ibundanya, salah satu hal yang sudah sangat jarang sekali kita lihat di anak-anak muda Indonesia sekarang. Salah satu wujud hormat kepada orangtua dan kerendahan diri kepada Allah SWT.
Memang tidak ada mahluk ciptaanNya yang lepas dari salah dan dosa, namun saya ingin suatu saat saya dapat menjadikan figur beliau sebagai salah satu teladan bagi anak saya disamping teladan utama kita: Rasullullah SAW, dan para sahabat beliau yang setia.
Saya ingin di rumah saya terdapat bacaan yang dapat memotivasi anak saya untuk bercita-cita besar, bersikap sebagai pemimpin besar dari kecil, dengan meneladani cari sikap dari Rasulullah, para sahabat, dan para pemimpin Islam. Sehingga bacaan yang akrab dengan dia sejak dari kecil adalah bacaan-bacaan tersebut, yang akan terekam dengan kuat dalam ingatannya sejak kecil tentang sosok-sosok pemimpin Islam yang layak ditiru. Semoga akh Arul bersedia membantu saya. Jazakallah Khairan Katsir
Wassalamualaikum warahmatullah

 
1 Comment

Posted by on February 5, 2008 in Catatan

 

One response to “5 Pemenang Buku HIDAYAT NUR WAHID (HARDCOVER)

  1. Indi

    April 12, 2008 at 4:48 am

    Subhanallah…. Mungkin saya mengenal beliau dr sudut yang unik, krn beliau hadir dalam mimpi saya beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya saya mengenal beliau hanya melalui media, tapi merasa sangat dekat setelah beliau hadir dalam mimpi saya, tepatnya lima hari yang lalu. Syukur kepada Allah yang masih menghadirkan seorang HNW di bumi ini, seorang yg begitu jujur, rendah hati, tdk menggurui, dan yang jg ‘njawani’ dimata saya. Semoga beliau dapat tetap ‘pantas’ untuk menjadi teladan di tengah ‘kesemrawutan dan kemunafikan’ saat ini. Kehadiran beliau dalam mimpi saya membuat saya ingin mengenal lebih dalam siapa beliau. Lebih lagi keingintahuan saya tentang beliau bukan sebagai pemimpin banyak umat, tapi sebagai pemimpin dalam rumah tangga, sbg ayah dan suami…… Karena menurut saya, orang yang patut diteladani haruslah dapat memimpin keluarganya dengan baik. Bukan sebaliknya memimpin banyak umat dengan suksess tapi keluarga tak terkendali. Salam hormat saya untuk HNW.

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: