RSS

9 Kesalahan Penulis (Pemula)

28 Feb

Ini memang bukan mencari-cari kesalahan dari penulis atau penulis pemula ketika berhubungan dengan penerbit, redaksi, maupun klien lainnya, tetapi hal tersebut bisa berakibat kesan tidak baik bagi mereka.

Tidak punya database
Banyak naskah yang akhirnya markir di tong sampah! Kenapa? Karena naskah-naskah tersebut tidak sesuai dengan keinginan penerbit, sudah ada buku atau artikel yang diterbitkan, dan tidak sesuai tema. Bayangkan kalau penulis mengirim naskah tentang SMS Cinta sementara penerbit tersebut sudah menerbitkan 4 buku soal SMS Cinta. Tentu 100 persen dipastikan naskah kita ditolak.

Tidak konek alias error banget
Seringkali penerbit atau redaksi media mengumumkan bahwa naskah diterima dengan kriteria X, Y, atau Z. Namun, seringkali pula kita nggak konek dengan aturan ini. Yang diminta ngirim dengan font Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5 eh yang dikirim diluar itu. Yang diminta paling banyak 3000 karakter, eh yang dikirim 3500 karakter. Error banget.

Tidak sabar
Banyak penulis dan penulis pemula yang tidak sabar dengan proses. Bahwa ada flow dimana sebuah naskah akan diproses menjadi buku atau diterbitkan di media. Bagi penerbitan buku waktu 3 bulan adalah waktu standar untuk menentukan naskah itu diterima atau ditolak. Sementara penulis atau penulis pemula kadang baru dua minggu langsung nelpon dan nanya kabar. Iya sih dengan orang redaksinya kenal, tapi bete juga kan kalo ada banyak orang yang nggak sabar ini.

Cerewet
Selalu ada standar yang diterapkan oleh redaksi. Apalagi bagi penerbitan buku. Nah, ini baru aja punya buku satu udah cerewet banget soal perjanjian, cerewet masalah harga, cerewet masalah besaran royalti yang diterima, dan cerewet masalah ‘kapan terbit, sih?’ Duh, kalo ketemu yang seperti ini dipastiin redaksi akan ogah berhubungan dengan penulis tersebut. Emang lo siapa?

Naskah kayak selebaran
Sebuah naskah yang di acc melalui proses baca, diskusi, dan kadang berantem antara divisi redaksi dan marketing; untuk ini kadang perlu waktu sampai sebulan. Bayangin kalau udah capek dan repot begitu pas dihubungi oleh sekretaris redaksi penulis langsung bilang, ‘Maaf, naskahnya sudah diambil penerbit lain’. Duh, akan ada dendam di hati redaksi berhadapan dengan penulis seperti ini.

Menunggu
Oke buku sudah terbit, sebagai penulis kita hanya tinggal menunggu royalti datang. Wah, yang namanya royalti itu kan berdasarkan jumlah penjualan, kalau sepenuhnya diserahkan ke penerbit yang sebenarnya punya ratusan buku lain itu berarti hanya faktor DIATAS yang bisa tahu berapa besaran royaltinya. Nah, kalo penulis nggak bantu jualin atau minimal promosi, jangan heran kalo royaltinya cuma segitu.

Pindahin, dong!
Sering kan jalan ke toko buku, yah sekadar mengagumi buku kita yang terbit. Tapi jangan asal menganggumi saja, kalo buku ditaruh di rak bawah ayo dong pindahin ke atas. Kalo buku kita nggak ada di toko buku tersebut, segera telpon penerbitnya dan minta untuk didistribusikan ke toko buku tersebut.

Jualin
Punya temen, punya sodara, punya keluarga, punya kenalan, dan punya rekanan; itu merupakan potential market yang bisa dituju. Jika sebulan aja laku 10, setahun bisa 120. Lumayan kan membantu penjualan.

Cuma itu
Oke naskah sudah terbit dan menjadi buku. Nah, kalo hanya mengandalkan satu, paling hanya satu dalam satu juta atau bahkan jutaan penulis yang beruntung hasil royaltinya gede. Selebihnya? Hmm, kalau satu buku dijamin ala kadarnya aja. So, jangan cuma itu, buat naskah-naskah yang lain.

 
3 Comments

Posted by on February 28, 2008 in Writers Marketing

 

3 responses to “9 Kesalahan Penulis (Pemula)

  1. panggih waluyo

    April 17, 2008 at 4:50 am

    Jazakallah pak Arul……saya termasuk orang yang punya cita-cita jadi penulis, mampu menyehatkan setiap jiwa dan raga…

    Like

     
  2. Lira

    May 26, 2008 at 8:29 am

    saya niat bgt jd penulis, tp pernah ditolak.. sejak saat itu, saya beranggapan mgkn rezeki saya ga jd penulis, cuma pegawai biasa spt skarang.. tapi qo rasa pengen nulis trus nerbitin jd buku tambah besar ye? bisa minta saran bagaimana sebaiknya.. trim’s ^_^

    Like

     
  3. Hning

    August 1, 2008 at 6:22 pm

    Kang, kalo boleh nanya, apa enaknya jadi penulis? Rather than blogging, kayaknya menulis kurang deh nilainya… Lama nulisnya, n susah untuk menentukan pasar untuk mengetahui metode penyampaiannya.

    Till now, menurut aku sendiri, menulis itu ya seperti Copyblogger atau Problogger. Enak dibaca n to the point.

    Tambah 1 lagi, nggak perlu nunggu lama, tulis publish tulis publish… Terus seperti itu. Sekarang kan dunianya serba gratis… And aku pikir berbagi pengetahuan itu better than jualan pengetahuan. Ada sendirilah hikmah yang dateng…

    Wat do u think?!

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: