RSS

Penulis yang Kelelahan

16 Apr

Ada sebuah trend di kalangan penulis –terutama mereka yang baru memasuki dunia ini dan bermimpi mau punya buku– bahwa tren adalah acuan wajib yang harus ditaati. Sadar atau pun tidak, gejala ini sudah melekat sebagai badge di dada penulis bahwa seorang penulis adalah follower atau pengikut dari perkembangan (pasar) buku.

Di awal tahun 2000-an hingga menjelang akhir 2005, sebagai misal saja, fiksi Islam sedang berada di puncak perbukuan. Tak ayal lagi bahwa puluhan bahkan ratusan naskah mampir di meja redaksi penerbitan yang sebagian besar bertema dan masuk dalam genre ini. Setelah itu masuklah teenlit dan chicklit. Masuk pula ratusan naskah sejenis. Lalu, beralih ke panduan praktis, how to atau self help. Ratusan lagi naskah ini bertumpuk di meja redaksi. Dan dalam prakteknya, rak-rak toko buku berjajar buku yang sejenis.

Bagi penulis, gejala seperti ini memang sangat menguntungkan. Pasalnya, penulis jadi tahu sebenarnya apa yang sedang dibutuhkan dan diminati oleh khalayak pembaca saat itu. Dengan kecepatan dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan gayung bersambut dengan butuhnya penerbit akan naskah tersebut maka terjalinlah sebuah simbiosis mutualisme.

Namun, bagaimana dengan mereka yang baru coba-coba menulis naskah buku dan atau mereka yang punya impian untuk menerbitkan buku?

Seringkali, dan ini kerap terjadi, tren ibarat jaring laba-laba yang menjebak. Di satu sisi tren adalah peluang naskah dan juga kesempatan bagus yang harus diisi, sementara di sisi lain tren ‘menyiksa’ penulis pemula.

Kenapa dikatakan ‘menyiksa’? Dalam banyak kesempatan, para penulis pemula sering mengeluh bahwa mereka tidak punya kecepatan dalam menyelesaikan naskah;lebih 30 orang mengatakan bahwa mereka bisa menyelesaikan sebuah novel dengan ketebalan 150-an halaman dalam waktu minimal enam bulan. Dengan waktu tersebut jelas ini sangat tidak menguntungkan. Karena bisa jadi setelah naskah diselesaikan, tren pun akan hilang atau setidaknya sudah mulai ditinggalkan pembaca. Kalo sudah begitu jadilah naskah yang dibuat menggantung begitu saja. kalaupun dikirim ke penerbit, paling akan mendapat jawaban, ‘wah, untuk sementara kita nggak nerbitin ini, nih. Coba deh penerbit lainnya, siapa tahu mereka mau’.

Tak heran kondisi ini membuat penulis pemula akan kelelahan. Kelelahan yang bisa menurunkan motivasi untuk menulis.

Berdasarkan hal di atas, ada baiknya penulis pemula jangan hanya sekadar mengikuti tren semata. Ukur diri dan kemampuan; jika sedang tren X dan mampu menyelasaikan naskah bertema X dalam waktu kurang sebulan ya kerjakan saja. Tapi, jika nggak bisa diukur kapan selesainya sebaiknya ditinggalkan saja. Jangan melelahkan diri untuk sesuatu yang belum ada kepastiannya. Ingat rumus Writers Marketing: lakukan conversation untuk mencari peluang-peluang lain yang bukan sedang tren tapi selalu dibutuhkan. (soal conversation sila buka http://www.menulisyuk.com)

Lalu, kenapa harus mengikuti tren? Kenapa tidak coba naskah-naskah yang sifatnya long distance theme alias tema-tema yang selalu terpakai?

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2008 in Writers Marketing

 

Tags: , , ,

One response to “Penulis yang Kelelahan

  1. handoko

    August 29, 2008 at 2:31 am

    trus yang harus dilakukan oleh seorang penulis atau penerbit sebuah buku itu seperti apa?
    atau gini.. langkah apa yang harus dilakukn oleh penulis dan atau penerbit dalam membuat buku sehingga buku itu laku di pasar

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: