RSS

Menulis Artinya Memasuki Dunia Bisnis

13 Jul

Seperti biasa, menjelang jam enam pagi saya selalu mengecek surat elektronik yang masuk di inbox. Iseng-iseng saya buka satu email yang ber-subject cukup menarik, ‘Mau Curhat’.

Kang… mau curhat, nih
Kok, sebel banget udah setahun naskah aku di penerbit
Tapi sampai sekarang kok belum diterbitin juga.
Dan aku lebih kaget lagi, ternyata nasib temenku sama
Bedanya dia sudah tanda tangan surat perjanjian, namun
Entah kenapa tiba-tiba redaksi nelpon dan bilang kalau naskahnya
Nggak jadi diterbitin… ugh, kebayang nggak rasanya
Coba deh bayangin,  nulis buku kan gak gampang,
Perlu modal, tenaga, waktu… bla… bla…

Surat elektronik itu selanjutnya berisi tentang curhatan sang pengirim, yang sebenarnya saya juga baru baca dan belum pernah ketemuan langsung dengannya, soal nasib naskahnya yang  tiada kabar. Soal kekesalan setelah menunggu begitu lama dan bahkan sudah tanda tangan perjanjian, tapi entah kenapa penerbit yang bersangkutan mengubah ‘keputusan’-nya untuk menerbitkan naskah tersebut.

Surat elektronik senada juga sering saya terima, meski dengan nada dan kalimat yang berbeda. Persoalannya hanya satu, kenapa naskah yang sudah dianggap dan diyakini bagus oleh si penulis ternyata sesudah sampai di tangan penerbit  jadi hal yang biasa saja. Malah, dalam sebuah diskusi tentang kepenulisan di Silaturahmi Nasional FLP tanggal 11-13 Juli lalu di Depok seorang peserta melontarkan kalimat, ‘baru aja di baca judul dan sinopsisnya, eh udah ditolak’.

Lalu, apa jawaban yang saya berikan untuk surat elektronik yang isinya curhat tersebut?

* * *

Saya jadi ingat, pertama kali masuk dalam dunia penerbitan buku secara institusi sejak tahun 1997. Kala itu ada proyek hibah dari lembaga donor luar negeri untuk perguruan tinggi negeri tempat saya bekerja. Kemudian, beberapa tahun kemudian udara penerbitan dan seluk-beluknya mulai semakin saya geluti; mulai dari penerbit kecil-kecilan seperti Mimpiku dan MU3 selanjutnya mampir di penerbit mapan seperti Mizan, Salamadani-Grafindo, atau Zikrul. Terakhir, saya akhirnya membuka menulisyuk.com, bukan penerbitan melainkan agen naskah dan sumber daya manusia di bidang penerbitan.

Dari semua pengalaman itu, saya jadi tersadar rupanya banyak komponen yang memakan biaya tidak sedikit di sebuah penerbitan. Penerbitan kecil pun membutuhkan setidaknya biaya gaji karyawan bagian redaksi dan bagian pemasaran, kemudian komponen kantor seperti rekening listrik, pembelian ATK, penyediaan komputer dan pendukungnya, pulsa atau tagihan telepon, biaya ekspedisi, sampai pengeluaran biaya untuk produksi sebuah buku. Barulah komponen terakhir adalah hak penulis dalam bentuk royalti atau pembelian putus.

Yang membuat perhitungan semakin mencengangkan lagi adalah harga jual buku di rak-rak toko buku ternyata hampir 50 persen dari bandrol harga yang tertera rupanya adalah ‘hak wajib’ bagi toko buku tersebut. Artinya, sebuah buku yang berbandrol Rp20 ribu pihak penerbit hanya mendapatkan Rp10 ribu dari setiap buku yang terjual.  Nah, uang sebesar Rp10 ribu ini yang akan dibagi-bagi dengan puluhan komponen di atas tadi.

Syukur-syukur bukunya best seller, menembus angka penjualan di atas 10 atau 20 ribu, sehingga komponen tersebut tertutupi dan ada laba yang dikantongi penerbit. Apalagi kalu bukunya cetak ulang terus, wah bisa dibayangkan betapa modal yang telah dikeluarkan penerbit bisa break event point secepatntya. Jika tidak? Anda bisa jawab sendiri pertanyaan ini.

Atau saya paparkan pengalaman sewaktu mengelola sebuah penerbit; dari lebih 150-an judul buku hanya 3 yang mengalami cetak ulang, 147 judul lainnya bergerak di rak toko buku biasa saja. Dan ketika saya bertanya ke bagian keuangan, modal yang telah dikeluarkan dengan pemasukan dari penjualan buku-buku tersebut ternyata jauh dari harapan. Bahkan, jujur saja, kalau trend penjualannya seperti ini maka gudang akan penuh dengan buku dan tentu saja keuangan tidak stabil dan akhirnya perusahaan akan gulung tikar.

Kondisi seperti ini tentu sudah menjadi pertimbangan mereka yang bekerja di institusi penerbitan. Bagian redaksi tentunya sudah melakukan antisipasi agar tidak terjadi buku yang diterbitkan tidak laku, menumpuk di gudang, dan akhirnya perusahaan gulung tikar. Kenapa bagian redaksi? Ya, karena bagian inilah yang  menjadi penyaring awal naskah-naskah yang masuk, menyaringnya, mengedit, mengemas, mencari endorsment, hingga menentukan judul yang menarik dan unik. Bagian ini yang sangat menentukan kemasan buku yang akan dipajang di rak-rak toko buku. Bagian ini yang bertanggung jawab penuh ‘melahirkan’ buku.

Kalau sudah begini, siapapun di bagian redaksi tentu bukanlah orang yang asal berpikir naskah ini bagus saja secara tema dan penulisannya. Apakah akan diserap pasar dan juga kondisi keuangan perusahaan tempatnya bekerja juga menjadi pertimbangan lain. Maka wajarlah jika redaksi menolak sebuah naskah bahkan kalaupun perjanjian penerbitan sudah ditandatangani kedua belah pihak belum ada jaminan 100 persen sebuah naskah akan diterbitkan.

Sekarang, dengan harga-harga yang melambung dan naiknya harga ketas lebih dari 100 dolar serta daya pilih masyarakat terhadap buku yang selektif tentu membuat semakin ketatnya pertimbangan redaksi dalam menerbitkan buku. Dalam teori ekonomi ada istilah yang sangat terkenal di dunia bisnis, yaitu ‘mendapatkan pemasukan yang besar dengan pengeluaran modal yang sesedikit mungkin’. Penerbit, apapun bentuknya, merupakan institusi bisnis sehingga feeling bisnis lah yang menjadi prioritas utama. Urusan idealisme, perkenalan atau persahabatan, dan alasan-alasan lain diluar bisnis kadang bukan menjadi pertimbangan. Apakah ini wajar? Ya, wajar dan sah-sah saja.

***

Saya baru sempat membalas surat elektronik yang berisi curhatan tersebut dua atau tiga hari setelahnya. Bukan karena sengaja menelantarkan surat elektronik dari seseorang yang belum saya kenal (dan tentunya dia kenal saya makanya bisa tahu dan ngirim email… he he..) melainkan saya harus menemukan kalimat yang tepat agar pertama, saya tidak ingin si pengirim surat elektronik merasa bahwa dia tidak cocok menjadi penulis karena rupanya setelah disodorkan fakta demi fakta nantinya dia akan merasa sendiri bahwa sebagus dan seidealis apapun tulisannya mesti berbenturan dengan hitung-hitungan bisnis. Kedua, saya juga tidak ingin menyalahkan si pengirim surat elektronik tersebut . Kok, menyalahkan? Ya, karena ketidaktahuannya bahwa ketika memutuskan menjadi penulis berarti ia harus berani menanggung risiko yang datang; salah satunya ya naskahnya ditolak. Ketiga, saya juga tidak ingin asal membalas surat elektronik tersebut dengan kata-kata berbunga  dan memotivasinya untuk terus menulis sementara ternyata faktanya si pengirim surat elektroik tersebut tidak menjadikan menulis sebagai sebuah profesi, hanya iseng-iseng dan mengisi waktu luang saja.

Akhirnya, saya pun menulis surat elektronik balasan… dan inilah balasannya.
Semoga si pengirim surat elektroik tersebut membaca tulisan ini.

 
1 Comment

Posted by on July 13, 2008 in Writers Marketing

 

One response to “Menulis Artinya Memasuki Dunia Bisnis

  1. Nasrul Ahmad

    September 27, 2008 at 7:31 am

    Assalamu’alaikum,

    Terus terang saya nggak bisa ‘menulis’, kalau bikin email saja kayanya bisa 2-3 kali diedit dan kalau dibaca ulang agak gimana gitu, terus maksud dari tulisan dengan respon dari si penerima/pembaca jadi nggak nyambung. Tolong dong beri pencerahan dan kalau bisa boleh kirim buku-bukunya yg kira-kira pas buat saya yg belum bisa ‘menulis’.

    Terimakasih,
    ::kangarul::

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: