RSS

8C Key Writers Marketing: CONSISTENCY

14 Aug

Banyak penulis yang membuat buku dan laris di pasaran. Kaver-kaver buku mereka terpampang di rak Best Seller atau Terlaris sementara di luar gedung toko buku kaver buku dicetak besar dan dipajang bersama buku laris lainnya. Kemudian, nama sang pengarang pun mulai dikenal tidak hanya sebatas di komunitas serta di jaringan diskusi online melalui milis atau melalui blog, melainkan karena ada wartawan yang mewawancarainya dan dimuat di media tempat sang wartawan bekerja di edisi penerbitan berikutnya lengkap dengan foto si pengarang. Keberuntungan belum berhenti, seorang pelaku industri disalah satu rumah produksi melirik buku tersebut dan menyatakan minatnya untuk mengadaptasikannya ke dalam bentuk sinetron.

Namun, itu adalah cerita tiga empat tahun yang lalu. Saat ini tak satupun karya pengarang tersebut dapat ditemui di rak-rak buku. Bahkan buku pertama yang dulu laris pun sudah susah di dapat. Tidak ada lagi yang ingat dengannya; atau setidaknya ketika disebutkan namanya orang selalu harus mengerutkan kening dan berpikir lama hanya untuk membongkar memori siapa dia. Ketika ada seorang teman dekat yang menanyakan kepadanya apa buku terakhir yang diterbitkan selama satu tahun ini, maka dengan meyakinkan dia pun bilang ‘sedang konsen dengan kerjaan’ sebagai ganti dari kata ‘sebenarnya sudah tidak menulis lagi’.
* * *

Menjaga konsistensi dalam menghasilkan karya memang memerlukan komitmen, kedisiplinan, dan niat yang kuat. Cerita di awal bukan hanya menggambarkan bagaimana seorang penulis yang sudah menghasilkan karya pun tidak bisa menjaga konsistensi dari profesi yang sudah dipilihnya. Dan, kisah ini seringkali menerpa mereka yang baru coba-coba menjadi penulis atau disebut saja sebagai penulis pemula.
Banyak sebab yang menjadi latar belakang mengapa penulis pemula tidak bisa menjaga konsistensi. Seperti yang telah disebutkan bahwa salah satu C dalam 8 C KEY WRITERS MARKETING untuk Culture berkaitan dengan budaya/kebiasaan seseorang untuk tetap menulis. Akan sangat sulit menjaga konsistensi waktu menulis jika sudah banyak alasan yang dilontarkan; sibuk karena tugas kuliah, banyakanya pekerjaan di rumah, mengurus anak-anak, tidak tahu bagaimana menulisnya, atau mood yang tidak ada merupakan alasan-alasan klise yang pasti didengungkan. Selalu saja ada alasan untuk menghindar dari pertanyaan soal kebiasaan atau kultur.

Penyebab lainnya adalah karena faktor terlalu tingginya khayalan keinginan dibarengi dengan tidak siapnya menerima kagagalan. Ada penulis pemula yang ingin menulis karena bisa bangga melihat buku yang ditulis dipajang di rak-rak toko buku, merasakan betapa enaknya kepopuleran menjadi penulis terkenal, membayangkan berapa banyak royalti yang diterima jika bukunya laris di pasar, dan minimal akan banyak orang yang mengatakan ‘dia penulis’ atau sebaliknya terlalu menyenangkan mengatakan kepada semua orang bahwa ‘saya penulis’.

Namun, tingginya harapan tersebut akhirnya terbentur pada sebuah kenyataan,  naskah yang dikirim penerbit selalu kembali dengan dilampiri surat penolakan. Tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulangkali. Terpaan ini langsung membuat motivasi penulis pemula turun. (Khayalan) keyakinan yang sebelumnya teramat tinggi tentang naskahnya akan dicetak dan diterbitkan seperti menghempasnya ke dasar jurang. Hingga akhirnya sampailah pada sebuah titik kulminasi, ‘lebih baik berhenti menulis’.

Menjaga konsistensi memang bukan perkara mudah. Apalagi kalau dalam satu atau dua tahun yang ada hanyalah penolakan demi penolakan. Karena itu, sebagai penulis profesional ia harus mampu menjaga konsistensi dirinya, konsistensi selalu menghasilkan naskah, konsistensi untuk tetap semangat menulis walau selalu ditolak, konsistensi belajar beragam jenis-jenis tulisan, hingga konsistensi menyelesaikan sebuah ide menjadi naskah.
* * *
Namanya Rina Muttaqinah. Saya menengalnya melalui dunia maya sekitar tahun 2005 lalu. Ia adalah pegawai negeri dengan seabreg aktifitas di kantor dan sepulang kerja ia harus pula siap menyibukkan diri dengan mengurus rumah, mendampingi suami, dan memastikan anak-anaknya tumbuh kembang dengan baik. Seperti layaknya ibu-ibu lain, ia juga mencuci pakaian, belanja ke pasar, memasak makanan, hingga menyapu di pagi hari. Kesibukannya ditambah lagi dengan aktifitasnya mengurus sebuah yayasan sekaligus sibuk menjadi pembina plus pengajar di sekolah yang didirikan yayasan tersebut.

Ketika sedang mengobrok online dengannya, Rina selalu bilang kalau ia ingin sekali menulis dan menghasilkan buku. Untuk itu ia membuat blog dan menaruh semua tulisan-tulisannya di diary online tersebut. Saya melihatnya begitu gigih untuk belajar; Beragam pelatihan menulis selalu diikutinya, setidaknya tiga kali pelatihan menulis yang saya sebagai fasilitatornya di dua tahun yang berbeda saya melihat Rina selalu menjadi peserta.

Suatu ketika di medio 2008 lalu saya mengunjungi toko buku. Iseng-iseng saya melihat sebuah buku mungil berwarna cokelat yang berjudul “Handbook for Mom” dan betapa terkejutnya saya bahwa nama pengarang yang ada di atas kiri sampul buku tersebut adalah Rina Muttaqinah. Saya tersenyum, mengambil buku tersebut, membayarnya di kasir, dan akan menunjukkan buku ini kepada istri di rumah untuk dibaca. Diperjalanan, saya pun sempat berujar dalam hati, ‘luar biasa, hasil dari tiga empat tahun belajar menulis’.
Inilah yang dinamakan CONSISTENCY.

 
1 Comment

Posted by on August 14, 2008 in Writers Marketing

 

One response to “8C Key Writers Marketing: CONSISTENCY

  1. abhie

    January 18, 2009 at 3:22 pm

    KANG… saya abhie anggota FLP Ciputat

    Kang caranya ngedit” blog gimana sih?? kaga tau

    trus saya pengn blog saya gabung ke blog para penerbit…
    gimana caranya….

    thanks ya kang

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: