RSS

8 C KEY Writers Marketing: CONCEPT

16 Sep

Di salah satu sesi workshop kepenulisan yang diadakan Forum Lingkar Pena Jakarta, diikuti oleh peserta umum dan pada saat itu saya sebagai fasilitator, sebuah pertanyaan saya ajukan kepada puluhan peserta: “Siapa yang sudah punya niat ingin menjadi penulis sejak dua atau tiga tahun yang lalu, tetapi sampai saat ini belum satu tulisan pun yang dipublikasikan?”

Awalnya saya menduga bahwa hanya satu dua peserta seminar saja yang mengangkat tangannya, ternyata yang terjadi sebaliknya. Dalam ingatan saya ada lebih dari 10 orang.  Lho, kok bisa? “Saya bingung menyelesaikan naskah”, “Waktunya sering nggak ada, sibuk dengan urusan keluarga”, “Kuliah. Banyak tugas dari dosen” hingga “Capek nulis, nggak pernah bisa tembus media apalagi diterbitkan”. Itulah sebagian di antara alasan-alasan yang terlontar dari mereka.

Kemudian, saya pun bertanya lagi. Kali ini angka tahunnya saya naikkan menjadi di atas lima tahun; saya menduga angka dua atau tiga tahun sudah cukup lama bagi seseorang yang hanya punya niat menulis, namun belum bisa memublikasikan naskahnya. Rupanya, lagi-lagi membuat saya sedikit berkerut antara percaya atau apa ini sekadar becanda, ada seseorang yang mengangkat tanggannya.

Di kesempatan acara kepenulisan lainnya, saya mencoba mengajukan sebuah pertanyaan lain: “Adakah yang sudah menulis naskah di komputer atau laptop, tetapi sampai sekarang naskah tersebut tidak selesai-selesai?” Seperti dugaan, banyak peserta yang mengangkat tangan. Uniknya lagi, yang mengangkat tangan tersebut sambil tersenyum-senyum; entah karena senyum menyadari ‘kesalahannya’ atau karena malu karena ketahuan ‘berbuat salah’.

Dua pertanyaan di atas selalu saya ajukan di setiap diminta menjadi pembicara, fasilitator, atau narasumber acara kepenulisan. Seperti mengalami de javu, saya selalu menemukan kenyataan yang berulang-ulang.

Akhirnya saya bertanya, sebenarnya apa betul mereka ingin jadi penulis?

***

Banyak alasan yang membuat ‘pekerjaan’ menyelesaikan sebuah naskah tertunda-tunda. Dari semua alasan faktor kesibukan dan ketiadaan waktu luang untuk menyelesaikan naskah adalah alasan yang paling difavoritkan. Pekerjaan yang menumpuk, kelelahan karena seharian beraktifitas, tugas-tugas kuliah yang banyak, urusan keluarga yang bikin pusing, anak-anak yang mengganggu, hingga selalu saja ada acara dadakan adalah sebagian kecil dari penyebab dari gagalnya seorang (calon) penulis menyelesaikan naskahnya.

Kita bisa membayangkan seorang ibu rumah tangga yang bekerja, memiliki dua orang anak yang masih kecil, mengurus rumah, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya apakah sempat menyelesaikan sebuah naskah? Jika ditilik sekilas, pasti waktu yang ada banyak tersita oleh urusan-urusan di atas dibandingkan dengan hanya menyelesaikan naskah yang bukan menjadi prioritas atau menempati urutan kepentingan paing bawah. Ketika ada dua pilihan yang diajukan, menyelesaikan naskah atau memasak makanan untuk makan pagi anak-anak dn suami, sudah bisa dipastikan bahwa sang ibu tersebut akan memilih pilihan kedua tanpa perlu mempertimbangakan argumen-argumen lainnya.

Lalu, apakah itu pilihan yang salah?

Tidak, itu bukanlah pilihan yang salah. Memaparkan kondisi di atas bukan berarti sedang membahas aspek salah-betul sesuai dengan perspektif writers marketing, melainkan sekadar menawarkan sebuah konsep seorang penulis.

Ada dua konsep yang harus dipilih bagi mereka yang ingin menjadi penulis atau mereka yang sudah belajar menulis, yaitu apakah menulis merupakan pekerjaan atau sekadar mengisi waktu luang? Jawaban dari masing-masing pertanyaan ini tentunya memiliki konsekuansi logis. Konsekuensi yang secara sadar maupun tidak langsung membentuk pola kebiasaan seseorang (penulis) ketika berhadapan dengan calon naskahnya.

Memilih untuk sekadar mengisi waktu luang berarti menulis hanya dilakukan jika memiliki kesempatan waktu di antara kesibukan-kesibukan lainnya. Tidak ada target utama harus menyelesaikan satu naskah dalam satu minggu atau dua bulan. Yang terpenting adalah menulis dilakukan jika semua pekerjaan beres, jika ada ide bagus yang muncul, jika kebetulan ada keinginan menulis, dan atau jika sedang iseng-iseng memang ingin menulis.

Sementara yang memilih menulis sebagai sebuah pekerjaan berarti semua hal yang melekat di kata ‘pekerjaan’ sudah menjadi keharusan dan mesti dilakukan. Layaknya bekerja di kantor atau di rumah; semua waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang seringkali dikorbankan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bekerja berarti menyesuaikan jadwal dan mengasah kemampuan untuk dapat lebih profesional.  Bahkan, bila diharuskan pekerjaan tersebut menuntut kita untuk sekolah formal maupun non-formal, maka mau tidak mau hal tersebut harus dilakukan. Pekerjaan menuntut kita untuk menyingkirkan ganguang-gangguan yang ada dan mungkin akan muncul. Memberikan target yang cukup ketat untuk menyelesaikan tugas-tugas. Terkakhir, sudah tentu hasil yang didapatpun sesuai dengan ekspektasi atau harapan ketika memulai pekerjaan.

Begitu juga halnya dalam menulis. Pekerjaan menulis menuntut keseriusan yang jauh lebih tinggi, ketersediaan waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan hanya pekerjaan sampingan, memerlukan kerja keras yang memutar otak, pengorbanan ditolak dan ditolak oleh media/penerbit, mengasah kemampuan menulis dengan mengikuti workshop, seminar, atau pelatihan yang berhubungan dengan kepenulisan, masuk dalam organisasi kepenulisan atau setidaknya mengikuti kegiatan yang digelar oleh komunitas penulis, mempunyai database media/penerbit, hingga disiplin menyelesaikan naskah sesuai dengan target.

Dua pilihan konsep diri tentang kepenulisan inilah yang sekarang berada di tangan Anda. Tentu konsekuensi logis memilih salah satu konsep itu jelas ada. Juga, hasil akhir atau apa yang akan didapat pun akan berbeda atau satu dengan yang lain.

Saya jadi teringat sebuah buku yang bercerita tentang Stephen King. Penulis thriller kenamaan dari Amerika ini ketika menulis sebuah karya ia akan mengurung diri di dalam ‘kamar kerjanya’, menghilangkan ganguan demi gangguan yang akan muncul bahkan dari sang istri si penulis sekalipun , dan baru keluar jika pekerjaannya menulis naskah sudah selesai. 

Inilah konsep diri seorang penulis.

 
1 Comment

Posted by on September 16, 2008 in Writers Marketing

 

One response to “8 C KEY Writers Marketing: CONCEPT

  1. ekoadit

    December 12, 2008 at 8:32 am

    bang arul blog-nya saya link ya. karena tulisannnya penting nih buat saya. makasih banyak

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: