RSS

Ritual Sebelum Menulis

08 Mar

Boleh percaya atau boleh juga tidak? Namun, ini adalah kejadian nyata. pada bulan Oktober yahun lalu, sebuah klub sepakbola di Zimbabbwe, Midlands Portland Cement, melakukan sebuah ritual khusus untuk mencari kemenangan dalam pertandingan sepakbola. Sang pelatih dengan keyakinan yang mantab (pake ‘b’ biar ada penekanan) meminta 17 pemainnya mandi di sungai Zambezi, bukan sembarang sungai, melainkan sungai yang dipenuhi buaya, untuk melakukan ritual pembersihan. Nah, dari 17 pemain yang melakukan ritual tersebut, ternyata hanya 16 orang yang keluar dari sungai hidup-hidup. Parahnya lagi di pertandingan berikut, klub tersebut menderita kekalahan.

Ruwatan atau upacara atau tradisi memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sosial. Di tanah kelahiran kang arul, ada upacara syukuran merayakan panen dengan tujuan agar rezeki akan melimpah di masa yang akan datang atau sisingaan agar si anak kecil yang dikhitan akan kuat seperti singa. Ada yang membuat sesaji dilaut dengan maksud membuat sial, ada yang bakar dupa untuk mengusir roh jahat, bahkan ada yang menyelipkan potongan rumput di telinga ketika rintik hujan mulai turun.

Apapun itu, terlepas dari nilai-nilai syari, semuanya punya makna. Makna yang hanya oleh dimengerti oleh komunitas tertentu, dipahami oleh masyarakat suatu daerah, bahkan kadang hanya bisa dimaknai oleh perorangan.

Lalu, bagaimana dengan penulis?

Hmm, mungkin di antara sebagian penulis punya tradisi tersendiri sebelum turun ke medan perang. Stephen King punya cara khusus sebelum menulis, yakni menyiapkan kamar khusus yang tidak boleh diganggu bahkan oleh istrinya sekalipun, kecuali untuk urusan makan-minum. Atau, ada tradisi penulis yang kang arul temui selalu menyalakan tape keras-keras dengan lagu-lagu cadas, rock, bahkan kalo perlu metal agar idenya bisa mengalir deras. penulis lain selalu menyiapkan makanan ringan di sekitarnya kalau mau nulis. Ada yang sebelum nulis mesti genjot sepeda dulu keliling kampung, Bahkan ada yang aneh, dia baru bisa nulis kalo kiriman bulanannya sudah mulai menipis. Eh, ini ritual atau emang kebiasaan ya…

Bagaimana dengan kang arul?

Awalnya sih nggak begitu memerhatikan, tetapi lama kelamaan kang arul baru sadar kalau ada ritual khusus yang dilakukan sebelum menulis; tidur dan minum air –biasanya teh pahit. Ya, meski hanya tidur setengah jam atau seharian, tetapi seingat kang arul aktivitas menulis kang arul lakukan setelah tidur dan bangunnya minum air.

Dan satu lagi kebiasaan atau mungkin ritual kang arul: menunda ending naskah. Yup, kalau naskah udah sampai di babak akhir, biasanya akan ditunda dulu barang satu-dua jam, satu-dua hari, atau satu-dua minggu. Entah kenapa, sampai sekarang belum bisa menemukan alasan tepat kenapa mesti begitu. Yang pasti menjelang akhir naskah tersebut yang kebayang bukan endingnya, melainkan Rp-nya huahahahha.. dasar cowok komersil..

Ah, yang pasti untuk soal terakhir itu sampai sekarang masih menjadi misteri.

Untungnya kangarul nggak pernah berkenalan dengan penulis yang melakukan ritual berendem di sungai yang penuh buaya sebelum menulis; jangankan bisa menulis, jangan-jangan si penulis akhirnya ditulis oleh wartawan di koran karena sudah alm.

Bagaimana dengan ritual Anda?

 
3 Comments

Posted by on March 8, 2009 in Catatan

 

3 responses to “Ritual Sebelum Menulis

  1. prayogo

    April 23, 2009 at 3:37 am

    Wouw…rupanya menarik juga ya…untuk kasih comment tentang kebiasaan Kang Arul sebelum menulis! menulis bagi orang awam bisa menjadi sesuatu yang sangat membosankan seperti juga saya, awalnya dulu saya sangat benci menulis. Apalagi menulis naskah atau menulis yang sudah melebihi batas kemampuan daya nalar, daya pikir dan menulis yang harus runut sesuai dengan pakemnya. Menurut saya pribadi, saat belajar menulis tentunya tidak hanya sekali atau dua kali. Tetapi puluhan kali mencoba dan mencoba lagi, apalagi tulisan tsb akan dikirim ke sebuah redaksi, maka siap-siap untuk ditolak aja. kalo kebiasaan saya sebelum menulis biasanya memang harus ada air, and snack ringan untuk menghindari kita harus mondar-mandir lebih baik kita siapkan semuanya terlebih dahulu agar semua ide dan gagasan mengalir…kaya sungai ajah” oke… kalo memang menulis harus ada ritual terlebih dahulu…saya juga setuju, artinya ritual tersebut bertujuan untuk menggali imajinasi yang terkadang mampet…terhalang sampah kali!

    Like

     
  2. febryonline

    June 1, 2009 at 11:35 am

    wuaah….
    tehx tuh di campurin ape kang…..???!?!?🙂

    salam kenal

    Like

     
    • novelis

      June 1, 2009 at 5:21 pm

      campur kekuatan dan motivasi,…. hahha

      Like

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: