RSS

Efek Kejut dari (Karya) Sastra

14 Jun

“The good writer, the great writer, has what I have called the three S’s: the power to see, to sense, and to say. That is, he is perceptive, he is feeling, and he has the power to express in language what he observes and reacts to.”
Lawrence Clark Powell quotes (American Librarian, Writer and Critic, 1906-2001).

Osamu Shimomura (Jepang), Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien (AS)adalah tiga ilmuwan yang mendapatkan penghargaan Nobel bidang kimia di tahun 2008 lalu. Penghargaan ini hasil kerja keras ketiganya dalam hal isolasi dan pemanfaatan protein berpendar hijau, GFP (green fluorescent protein) yang merupakan sekelompok protein dengan struktur mirip satu sama lain yang berpendar hijau apabila disorot/dipapar dengan cahaya biru. Pemanfaatan ini semakin luas setelah gen-gen yang menbentuk GFP berhasil ditemukan dan kemudian digunakan secara luas dalam biologi molekular sejak tahun 1990-an.

Wajar jika ketiga ilmuwan ini diberikan penghargaan tertinggi di bidang kimia. Penemuan mereka merupakan kontribusi nyata di bidang pengkajian mengenai kehidupan pada skala molekul, seperti interaksi DNA, RNA, dan sintesis protein, serta bagaimana pengaturan interaksi tersebut. Juga, merupakan sumbangan besar untuk ilmuwan yang mendalami genetika dan biokimia.

Namun, tahukah Anda bahwa nama Orhan Pamuk sejajar dengan Osamu Shimomura, Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien? Apakah dia seorang ilmuwan ? Jawaban untuk pertanyaan terakhir ini adalah tidak. Namun, yang menyamakan keempat tokoh ini adalah mereka penerima Nobel.

Di Indonesia tidak banyak yang mengenal pemilik nama lengkap Ferit Orhan Pamuk. Dibandingkan dengan Stephen King, Michael Chricton, Mario Puzo, Robert Ludlum, atau Dan Brown, pria kelahiran Istambul, Turki tahun 1952 ini belum banyak karya-karyanya yang diterjemahkan dan dapat dinikmati oleh pecinta karya sastra di Indonesia. Benim Adım Kırmızı (2000, My Name is Red) atau SNOW merupakan sebagian kecil dari karya sastra Pamuk yang sudah diterjemahkan. Pada tanggal 12 Oktober 2006 ia dianugerahi Penghargaan Kesusastraan Nobel. Pamuk menjadi slah satu penulis (karya sastra) di antara 102 sastrawan yang meraih penghargaan bergengsi ini.

Nobel merupakaan wasiat Alfred Nobel, seorang industrialis Swedia, dan seorang penemu dinamit, yang didatangani di Swedish-Norwegian Club di Paris pada tanggal 27 November 1895. Penghargaan ini ditujukan kepada siapa saja yang berusaha meningkatkan perdamaian dunia sejak tahun 1901 di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi, Perdamaian, dan ‘SASTRA’.

Sastra? Ya, karya sastra merupakan salah satu kategori yang dipertimbangkan oleh panitia seleksi –untuk kategori sastra ditentukan oleh Swedish Academy– untuk menerima penghargaan nobel. Ini berarti bahwa (karya) sastra sama dahsyatnya dengan penemuan dibidang Kimia seperti yang dilakukan oleh Osamu Shimomura, Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien.

Artinya sebuah (karya) sastra juga mampu berkontribusi untuk kemajuan, peningkatan, serta pengembangan kebudayaan sekaligus peradaban dunia sama pentingnya dengan kimia, fisika, fisiologi, dan perdamaian.

Hal ini menegaskan kembali bahwa kekuatan alam ide, keliaran imajinasi, kemampuan mengolah rasa, hingga pandangan ke alam khayali yang diimplementasikan dalam bentuk kata-kata tertulis merupakan ‘senjata’ ampuh yang mampu mengguncang dunia, baik dalam pegertian positif maupun negatif.

The Satanic Verses (1988) merupakan salah satu karya sastra dari pengarang India bernama Salman Rushdie. Novel keempat tersebut tidak hanya menggemparkan dari sisi konten karya sastra tersebut, melainkan juga menggemparkan politik dunia (negara)Islam dengan negara-negara eropa.

Pada tahun 1989 di saluran radio Iran, pemimpin politik sekaligus spiritual Ayatollah Khomeini menyatakan bahwa Rushdie keluar dari Islam –meski pada tahun 1990 Rushdie menulis sebuah esai yang membela diri bahwa dia masih memeluk agama Islam– dan memfatwakan hukuman mati kepada Rushdie serta memberikan reward kepada siapa saja yang bisa melaksanakan fatwa tersebut.

Di tahun yang sama pemerintah Inggris memberikan perlindungan terhadap Rushdie. Tidak hanya itu, pada 16 Juni 2007 kerajaan Inggris bahkan menganugerahi Rushdie dengan gelar gelar keksatriaan (knighthhood), gelar kebangsawanan yang diberikan oleh pihak Kerajaan Inggris. Langkah provokatif ini jelas memicu reaksi negara-negara Arab, bahkan Pakistan konon kabarnya sempat berdebat dengan pihak kedutaan Inggris.

Kasus lainnya adalah War of The World. Pada tanggal 30 Oktober 1938 terjadi kepanikan massal, terutama di kawasan pantai timur seperti New York dan New Jersey. Sebuah sandiwara radio yang dipandu oleh Orson Welles yang berjudul War of the Worlds –diadaptasi dari novel karya HG Welss yang berjudul sama– memicu kepanikan tersebut dan tidak hanya berdampak pada pendengar setia siaran radio di jaringan Columbia Broadcasting system, melainkan hampir sebagian besar penduduk dua kota tersebut.

Mereka memercayai bahwa memang telah terjadi serangan makhluk Planet Mars terhadap bumi. Bahwa apa yang diceritakan Orson Welles adalah kenyataan yang terjadi di lapangan. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Professor Richard J. Hand menjelaskan dari sekitar 6 juta pendengar siaran tersebut 1,7 juta di antaranya meyakini kebenaran invasi tersebut dan ada sekitar 1,3 juta yang dilanda kepanikan. Peristiwa ini pun menjadi liputan utama dari semua media cetak keesokan harinya. Bahkan dalam hitungan satu bulan saja ada lebih dari 12.500 artikel di surat kabar yang mengupas hal tersebut.

Beesarnya pengaruh sebuah karya sastra dalam memberikan efek juga bisa dilihat dalam sebuah teori copycat effect – yang juga sering disebut sebagai contagion effect atau imitation effect – yaitu kekuatan besar yang dimiliki media –dalam hal ini karya sastra–untuk mempengaruhi audiens dan membuat ‘epidemik’ karena informasi yang didapatkan di media.

Di abad ke-18 sebuah novel karya penulis Jerman kenamaan Goethe yang berjudul Die Leiden des jungen Werther telah dituding menyebabkan gelombang bunuh diri di kalangan remaja, media juga dituduh sebagai penyebab terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1981 di Inggris, pada awal abad ke-19 polisi Wales meminta media untuk tidak melaporkan secara detail peristiwa bunuh diri yang menggunakan gas beracun karbon monoksida melalui saluran udara dikarenakan kekhawatiran akan adanya imitasi kasus serupa oleh orang lain yang membaca laporan media.

Beberapa kasus di atas membuktikan bahwa hasil karya sastra bisa menjangkau kepada publik yang lebih luas dapat memberikan efek yang kepada audiens. Walau dalam beberapa diskursus terjadi perdebatan serius apakah media karya sastra merupakan alasan satu-satunya yang mendasari seseorang melakukan perbuatan, baik itu positif maupun negatif, namun beberapa penelitian menunjukan data yang cukup mengejutkan berkaitan dengan hal tersebut.

Pada tahun 1956 sebuah penelitian dilakukan untuk melihat tingkat kebiasaan di antara 24 anak-anak yang menonton televisi. Mereka dibagi dalam dua kelompok, satu kelompok menyaksikan film kartun Woody Woodpecker yang mengandung adegan kekerasan dan yang lainnya menonton film The Little Red Hen. Setelah menyaksikan tayangan masing-masing, ternyata anak-anak yang tadinya menonton adegan kekerasan di film Woody Woodpecker lebih memiliki kecenderungan melakukan kekerasan kepada teman bermain mereka yang lain dan juga lebih sering merusak mainan.

Enam tahun kemudian, 1963, Profesor A. Badura, D. Ross, dan S.A. Ross melakukan studi terhadap efek dari hubungan antara kekerasan real di dunia nyata, kekerasan di televisi, dan kekerasan di film-film kartun. Mereka membuat empat kelompok dari 100 anak-anak prasekolah. Grup pertama menyaksikan adegan memaki dan memukul boneka dengan kayu, grup kedua menyaksikan peristiwa yang sama namun ditayangkan di televisi, grup ketiga juga menyaksikan adegan yang sama dalam film kartun, sementara grup terakhir hanya tidak menyaksikan apa-apa. Hasilnya, dalam keadaan tertekan ketiga kelompok yang menyaksikan peristiwa kekerasan tersebut lebih agresif dibandingkan kelompok keempat; bahwa yang menyaksikan adegan kekerasan dalam film juga akan memiki tingkat agresifitas yang hampir sama dengan mereka yang menyaksikan langsung ; dan kelompok pertama dan kelompok kedua lebih jauh agresif dibandingkan dengan kelompok yang hanya menyaksikan adegan kekerasan melalui film kartun.

Begitu juga dengan karya sastra yang dihasilkan. Secara langsung maupun tidak, sebuah karya sastra mampu membenamkan ke dalam alam bawah sadar publik mengenai sebuah keyakinan, kepercayaan, dan argumentasi yang dipaparkan dalam sebuah karya sastra. Tesis dari uraian di atas adalah, ‘jika karya sastra baik yang dibaca, maka minimal akan memengaruhi pola pemikiran tentang apa yang disebut baik oleh pembaca (publik). Sebalinya, karya sastra yang mengandung fitnah, kebencian, nilai-nilai destruktif, dan hal negatif lainnya akan membentuk minimal pola pandang negatif terhadap sesuatu’.

Bayangkan bagaimana sebuah kekuatan karya sastra bisa mendorong seseorang atau sekelompok orang melakukan sesuatu yang luar biasa yang mampu membawa perubahan bagi kebudayaan dan peradaban manusia; sama halnya dengan temuan di bidang kimia, fisika, fisiologi, dan perdamaian.

Nah, antrian panjang berjam-jam untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Habiburrahman ElShirazy merupakan salah satu contoh bagaimana pengaruh karya sastra dalam kehidupan kita.

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2009 in Catatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: