RSS

Bahasa Jurnalistik: Sebuah Pengantar

31 Jul

Manusia merupakan makhluk Allah swt yang berbeda dengan malaikat dan flora serta fauna. Malaikat adalah makhluk supernatural yang Allah swt telah ciptakan sempurna sejak awal hingga akhir masa. Flora dan fauna adalah makhluk natural yang terus tumbuh dan berkembang selama kebutuhan makan dan minumnya tersedia di alam raya. Allah swt menciptakan Adam as sebagai makhluk kultural, manusia pertama dan paripurna setelah Allah swt mengajarkannya beberapa nama, nama-nama itu adalah simbol bermakna dari suatu benda, nama-nama itu adalah bahasa.
Eksistensi manusia sebagai makhluk kultural terjadi berdasarkan bahasa, karena alam bagi manusia tidak hanya terdiri dari benda-benda melainkan benda itu semua memiliki makna bagi mereka. Bicara sebagai suatu kegiatan berbahasa bagi manusia tidak hanya merupakan conditio sine qua non tapi juga condition per quam, hidup berarti bergaul dan berhenti bergaul berarti mati. (Hannah Arendt, 1960). Secara fungsional bahasa menjadi “alat yang dimiliki manusia bersama untuk mengungkapkan gagasan/socially shared means for expressing ideas. Sedangkan secara formal bahasa terlihat sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa/all the conceivable sentences that could be generated according to the rules of its grammar). (Jalaluddin Rakhmat, 1994: 268).
Manusia belajar mengembangkan kebudayaan dengan bahasa yang menjadi alat bagi mereka untuk meyakinkan sesama manusia tanpa paksaan dan mereka satu sama lain saling mempengaruhi dengan bahasa untuk memperoleh kekuasaan. “The lore of our father is a fabric of sentences,” di dalam dan melalui bahasalah pengetahuan dan adat istiadat nenek moyang manusia terajut dan tersimpan dalam jaringan kalimat yang diwariskan turun temurun pada anak cucunya. Pada awalnya proses transmisi (baca:komunikasi) alih peradaban antar generasi manusia itu hanya mengandalkan medium atau mata rantai bahasa lisan, kemudian pada gilirannya mereka bertukar pesan antar generasi melalui berbagai macam media bahasa tulisan. (Komaruddin Hidayat, 1996: 35-36). Kemudian generasi manusia pada abad ke-21 sekarang ini telah mencapai peradaban konvergensi multi media.
Di era informasi saat ini, ketika media massa menjadi komoditas industri, semakin disadari bahwa kemajuan teknologi komunikasi dapat memberdayakan manusia dengan memberikan mereka akses data yang semakin melimpah, melebihi apa yang dapat mereka bayangkan sebelumnya, sehingga mereka mengalami transisi yang cepat dari cyberspace ke cyberchaos, dari ruang maya ke kacauan maya. Di dalam rumah televisi menghadirkan setiap saat diperlukan oleh khalayak kabar dan kejadian dengan begitu hangat, hidup, aktual yang disampaikan oleh para reporter yang berparas cantik. Di ruang kamar, manusia dapat “bertamasya” mengarungi dunia maya dengan kekayaan informasi yang luar biasa. Mereka mengalami ketegangan memilih antara hanyut dalam cyberporn atau cyberdemocracy, atau cyber yang lain.
Kehadiran televisi dan internet pada satu sisi telah mendesak insan pers yang bekerja pada beberapa koran besar untuk mengubah formatnya menjadi lebih kecil, dari format broadsheet ke junior broadsheet atau compact, atau lebih kecil lagi ke format “midi”. Tetapi jumlah halamannya bertambah tebal dengan penampilan yang lebih langsing dan penuh warna. Sementara pada sisi lain, ruang iklan bertambah melimpah ruah. Bahkan tidak jarang tempat iklan menjadi lebih baik dari tempat berita yang penting di halaman media. (I.S. Ibrahim, 2007: 3).
Hal tersebut di atas membawa dampak kolom dan baris untuk berita perhalaman koran menyempit, maka para wartawan sekarang ini harus bisa menghemat kata-kata sesuai dengan ruang ekspresi mereka yang semakin berkurang karena format korannya semakin mengecil, meningkatnya iklan dan bertambahnya jumlah reporter yang semakin terspesialisasi. Dengan kata lain secara keseluruhan para wartawan saat ini dituntut untuk lebih terampil dari para senior mereka dalam berbahasa jurnalistik.
Bagaimana menulis berita atau laporan surat kabar, tabloid, majalah, radio, televisi dan media on line dalam kalimat yang mudah dipahami oleh khalayak akan diuraikan dalam konten blog berjudul “Bahasa Jurnalistik” ini. Bagian-bagaian ini berusaha untuk memberikan landasan dasar kajian bahasa jurnalistik dengan cara menelusuri sejak dari hulu pengertian apa maksud bahasa jurnalistik, fungsi bahasa jurnalistik, ciri khususnya pada masing-masing media hingga karakteristik bahasa jurnalistik. Sementara bagian-bagian selanjutnya menjadi aspek praktis buku ini yang memberikan semacam panduan bagaimana merencanakan penulisan berita sejak pemilihan kata yang akan digunakan, tanda bacanya serta berbagai macam jenis teras dan penulisannya, kemudian dilengkapi dengan cara penyuntingan berita dan ditutup dengan contoh penggunaan bahasa jurnalistik dalam berita dengan struktur piramida terbalik dan feature.

Juli 2009
Penulis

 
1 Comment

Posted by on July 31, 2009 in Komunikasi

 

One response to “Bahasa Jurnalistik: Sebuah Pengantar

  1. Hayya Maharatih tegarini

    June 21, 2010 at 10:52 am

    media yang ada di jaman modern ini memang sangat berguna bagi perkembangan jurnalistik. ayo kita tingkatkan benih2 semangat kejurnalistikan bangsa Indonesia !

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: