RSS

Model dan Level Teori Komunikasi

31 Jul

Berkaitan dengan model-model teori (genres) komunikasi, Little John menggambarkan bahwa berbagai macam aspek teori komunikasi yang ada sulit untuk dapat mengklasifikasikan teori komunikasi. Bahkan beragam sistem kategori telah banyak pula dilakukan oleh para pakar, termasuk beberapa skema yang juga digunakan,  untuk dapat menyatakan secara sempurna tentang teori komunikasi itu sendiri.

Bukan berarti, kesulitan tersebut menghalangi kita untuk mempelajari teori komunikasi. Setidaknya ada lima model yang dilontarkan Little John (1995: 13-17) sebagai perwakilan dalam menggambarkan teori komunikasi, yaitu:
1. Structural and Fuctional Theories
2. Cognitive and Behavioral Theories
3. Interactionist Theories
4. Interpretative Theories
5. Critical Theories.

Structural and Fuctional Theories, lebih  mengkhususkan pada  kategori umum dan hubungannya di antara berbagai tipe dari berbagai sistem. Sebagai contoh dalam sebuah sistem organisasi baik di perusahaan maupun di organisasi kemasyarakat, kita dapat mengetahui fungsi dari setiap orang dalam level maupun kedudukan tertentu beserta tanggungjawab yang harus dipikulnya. Akan tetapi, di sisi lain kita tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana perasaan maupun apa yang dialami oleh orang tertentu dalam suatu level yang berkaitan dengan hubungannya dengan orang yang berada di atas mereka.

Sementara  dalam Cognitive and Behavioral Theories  lebih menekankan pada aspek pemikiran manusia. Teori ini lebih menjelaskan tentang aspek psikologi dari suatu individu dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang sangat dinamis. Lebih tepat untuk menggambarkan bagaimana individu itu dimaknai secara umum daripada menguraikan tindakan-tindakannya yang berhubungan dengan individu lain.

Di sinilah Interactionist Theories berperan. Model teori ini melihat bahwa kebiasaan individu itu tidak bisa terlepas dari norma maupun aturan yang dibentuk oleh sekelompok individu (masyarakat). Bahkan dalam tingkatan tertentu Interactionist Theories menjelaskan bagaimana individu maupun sekselompok individu itu berubah dari satu situasi ke situasi lainnya, dari satu keadaan ke keadaan lain.

Model selanjutnya yaitu Interpretative Theories memungkinkan untuk melihat individu itu baik dari pengalaman, teks (dokumen) maupun struktur sosial di mana individu itu berada. Sedangkan pada Critical Theories menekankan pada aspek nilai atau keinginan dalam menilai setiap kegiatan, beragam situasi maupun institusi.

Masing-masing model yang disebutkan di atas muncul untuk menjabarkan teori komunikasi dari berbagai sudut pandang. Tentu saja antara teori yang satu dengan teori yang lainnya memiliki kelebihan dan kelemahan. Satu teori bisa menjelaskan apa yang tidak dapat dijangkau teori yang lain, begitu juga sebaliknya. Bukan berarti mengandung kelemahan disini menandakan bahwa tidak ada pendekatan terhadap teori komunikasi yang mumpuni, melainkan beragamnya model dari teori komunikasi ini memberikan alternatif pilihan terhadap pendekatan yang dilakukan dalam memahami teori komunikasi itu sendiri.

Selain itu, pelbagai macam model yang ada sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi manusia  yang berada dalam berbagai tingkatan (level). Little John mencatat setidaknya ada empat  level komunikasi secara umum, yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi grup (kelompok), komunikasi organisatoris, dan komunikasi massa.

Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi  merupkan proses komunikasi yang terjadi di antara satu individu dengan individu lainnya. Komunikasi di level ini menempatkan interaksi tatap muka di antara dua individu tersebut dan dalam kondisi yang khusus (private settings). Pada komunikasi grup, keterlibatan individu di dalamnya dilihat dari segi kuantitas lebih banyak dibandingkan level sebelumnya. Di level inilah interaksi interpersonal dilibatkan dan dapat diterapkan.

Sementara komunikasi organisatoris lebih luas lagi. Baik komunikasi interpersonal dan komunikasi organisatoris terlibat di dalamnya, bersamaan dengan aspek-aspek yang ada. Komunikasi organisatoris meliputi antara lain struktur fungsional dari sebuah organisasi, hubungan antarmanusia (sebagai anggota masyarakat),   komunikasi dan proses pengorganisasian, dan kultur organisasi. Sementara komunikasi massa cakupannya lebih luas, lebih pada komunikasi publik yang melibatkan beragam organisatoris (kelompok masyarakat).

Hanya saja pembagian ini teori komunikasi menjadi level-level tersebut dianggap merupakan sebuah tipe di mana setiap level berbeda dengan yang lainnya. Meski memang, sebagai contoh, komunikasi massa dibentuk oleh komunikasi organisatoris namun tetap saja level komunikasi massa memiliki ciri-ciri, faktor-faktor, ataupun kekhasan yang tidak terdapat pada komunikasi organisatoris. Hal ini digambarkan Little John sebagaimana skema berikut;
 

Keterbatasan dan unsur-unsur sebuah teori komunikasi

Ada dua ciri khas dalam melihat sebuah teori. Pertama, semua teori hanyalah abstraksi tentang suatu hal. Berbagai macam teori komunikasi yang ada sampai saat ini belum ada satupun yang membahas secara tuntas tentang komunikasi. Ia hanyalah menjelaskan fenomena-fenomena atau gejala-gejala tertentu dan terkadang mengabaikan fenomena atau gejala lainnya. Melihat satu variabel dengan mengabaikan variabel yang lain. Di sinilah letak keterbatasan sebuah teori,  bahwa ada ‘sesuatu’ yang masih belum terjangkau.

Kedua, teori dipandang sebagai sebuah konstruksi ciptaan manusia. Dengan demikian teori bersifat relatif dalam arti tergantung pada cara pandang si teori, sifat dan aspek hal yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan sekitarnya. Little John mengutip pernyataan Abraham Kaplan (The Conduct of Inquary, 1964 : 309) menyatakan bahwa   “The formation of a theory is not just the discovery of a hidden facts; the theory is a way of looking at the facts, of organizing and representing them…A theory must somehow fit God’s world, but in an important sense in it creates a world of its own.”

Selain hal di atas, Little John menambahkan bahwa dalam setiap teori komunikasi ada dua unsur (basic elements) di dalamnya, yaitu konsep dan penjelasan.

Berkaitan dengan pengertian konsep, Kerlinger (1986: 28) mengartikan konsep sebagai abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang khusus. Pada akhirnya memang sebuah teori akan memunculkan suatu konsep yang bisa dipahami dari fenomena-fenomena khusus yang terjadi di sekitar manusia.

Suatu konsep boleh saja berbeda baik itu dalam  simbol maupun label, tetapi makna yang terkandung di dalamnya haruslah memiliki pengertian yang sama.  Sebagai misal ketika membicarakan (konsep) sepatu. Antara Indonesia dengan Malaysia bisa dikatakan memiliki konsep yang sama tentang sepatu, yaitu sesuatu yang dipakai sebagai alas kaki yang bentuknya menutup kaki, akan tetapi pelabelan terhadap konsep itu dimasing-masing tempat kadang berbeda. Sepatu dikenal di Indonesia sedangkan di Malaysia tidak, karena yang mereka kenal adalah kasut.

Terkadang teori hanya sampai pada tataran konsep semata, tanpa menerangkan maksud yang terkandung daru munculnya konsep-konsep tersebut maupun hubungan yang mungkin terjadi di antaranya. Inilah yang sering disebut dengan taxonomics (taksonomi). Beberapa pakar ada pula yang menyatakan bahwa keberadaan taksonomi itu sendiri tidaklah bisa disamakan dengan  sebuah teori. Salah satu alasannya adalah sebuah teori muncul untuk memberikan kejelasan tentang suatu konsep mauun definisi. Oleh karena itu apabila muncul teori yang tidak bisa dipahami/dimengerti oleh khalayak umum, maka tidak bisa dikatakan bahwa beberapa teori yang masuk ke dalam katagori taksonomi disebut sebagai sebuah teori.  Pengenalan terhadap suatu teks komunikasi terkadang merangkum dasar-dasar taksonomi  yang memuat ‘bagian-bagian’ dari proses komunikasi, seperti sumber, pesan, penerima, maupun timbal balik (feedback).

Namun, teori yang baik adalah yang tidak hanya menghasilak teori saja. Oleh karena itu unsur selanjutnya  yang diperlukan untuk melengkapi unsur konsep dari teori komunikasi adalah penjelasan.

Penjelasan menjangkau lebih dari sekadar  pemberian nama dan mendefinisikan suatu variabel semata. Penjelasan  mengindentifikasikan  dan menerangkan tentang suatu variabel dengan melihat apa yang terjadi di dalam variabel itu sendiri maupun kaitannya dengan variabel yang lain.  Secara ringkas Little John menyatakan bahwa “…explanation answer the question, Why? Explanations relies primarily on the principle of necessity.”

Principle of necessity atau prinsip keperluan dalam sebuah teori diperlukan untuk menerangkan variabel-variabel yang besar kemungkinannya dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu. Prinsip ini terbagi atas tiga bagian yaitu causal necessity maupun  practical necessity. Dalam causal necessity prinsip keperluan didasarkan atas hubungan sebab akibat. Sementara dalam practical necessity menunjuk pada hubungan “tindakan-konsekuensi”.

Untuk menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara dua keperluan ini Little John membuat perumpaam tentang kegagalan dalam sebuah tes. Apabila mahasiswa X (sebut saja demikian) menyatakan bahwa dirinya memang tidak mahir dalam studi ini karena kurangnya penjelasan yang diberikan oleh tenaga pengajar, maka apa yang dilakukan mahasiswa X adalah causal necessity. Sementara apabila ia menyatakan bahwa dirinya harus belajar lebih giat lagi sehingga dalam tes berikutnya akan memperoleh nilai yang lebih baik, inilah yang dimaksud dengan practical necessity.

 
7 Comments

Posted by on July 31, 2009 in Catatan, Komunikasi

 

7 responses to “Model dan Level Teori Komunikasi

  1. nurlaela

    September 14, 2009 at 2:44 am

    assalm,,,,bagaiamana cara bikin blog ?saya sudah daftar di wordpress…udah jadi,pas dibuka lagi ada tulisan your pasword is lost…gimana ko bisa?saya juga ngikutin cara yang ada di buku yang ditulis oleh akang,handbook 4 muslim blogger..terimakasih,, di tunggu jawabannya secepat cepatnya…..wsalam

    Like

     
  2. Erna datu

    November 20, 2009 at 3:13 am

    Gimana ya cara buat blog cos mau buat tapi G tau?THX

    Like

     
  3. Hayya Maharatih tegarini

    June 21, 2010 at 10:56 am

    Trims infonya!
    saya menjadi lebih tau apa itu topik dan model2 komunikasi ..

    Like

     
  4. hayya maharatih tegarini

    June 21, 2010 at 11:29 am

    modelnya menarik untuk disimak

    Like

     
  5. arif

    September 25, 2010 at 12:53 pm

    tolong sebutkan level2 komunikasi secara singkat dan jelas

    Like

     
  6. ambar

    December 12, 2010 at 8:21 am

    MAS MACAM2 TIORY YANG BERHUBUNGAN TENTANG KOMUNIKASI APA AJA YA MAS DAN TOLONG DI BERI PENJELASANYA? TNKS

    Like

     
  7. Begy Wahyu Anggara

    April 19, 2012 at 4:39 am

    baru dapat sekarang, ini yang kucari.

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: