RSS

Cyber as a Cultural Artefact

03 Mar

from corbis.com

Model selanjutnya yang disodorkan Hine adalah internet sebagai artefak kebudayaan (cultural artefac). Menurut Hine, internet tidak hanya  bisa dipahami sebagai sekumpulan komputer yang berinteraksi dengan bahasa komputer itu sendiri, yakni TCP/IP. Kata ‘Internet’ bisa didenotasikan sebagai seperangkat program komputer yang memungkinkan user untuk melakukan interaksi, memunculkan berbagai macam bentuk komunikasi, serta untuk bertukar informasi. Perkembangan program seperti E-Mail, IRC, bulletin boards, MUDS, video konferensi, dan kemunculan WWW atau World Wide Web pada dasarnya adalah pembuktian.

Meski pada awalnya APRAnet sebagai embrio internet muncul untuk kepentingan militer pada tahun 1969, namun kini pemanfaatan internet telah menjangkau banyak bidang. Media massa tradisional seperti koran, majalah, radio, bahkan televisi perlahan-lahan mulai bersaing dengan internet, penyebaran iklan yang bisa menjangkau potential buyer dari berbagai belahan dunia, pertukaran informasi serta data yang bisa lebih cepat dibandingkan jasa pos, gudang pustaka yang bisa mencari lema dan data dalam waktu sesingkat mungkin, transaksi keuangan yang bisa dilakukan secara online, hingga berdakwah pun bisa dilakukan melalui internet. Internet berkembang menjadi komoditas, dan komoditas ini dikemas sedemikian rupa sehingga dapat ditawarkan kepada para pemakai (Hine, 2000:32). Penggunaan internet merambah dari sekadar medium penyampai-penerima pesan menjadi fasilitas untuk membantu pekerjaan, mencari hiburan dan pengisi waktu luang, tempat mencari informasi, serta menjadi sarana untuk melalukan transaksi jual-beli.

Internet juga bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial, baik itu melalui pembacaan terhadap sejarah perkembangan internet maupun kebermaknaan dan kebergunaan internet. Menurut Hine sebagai sebuah sejarah ”internet” merupakan medium yang digunakan oleh pihak militer terutama dalam masa perang dingin, sebagai bentuk ”budaya/culture” internet bisa didekati melalui konteks media massa, sebagai bentuk ”situasional” internet merupakan konteks institusional maupun domestik dimana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri, dan sebagai sebuah bentuk ”metaphorical” yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial. Berbagai bentuk sosial ini memproduksi sebuah objek (budaya) yang dikenal dengan ”Internet”. Artinya, istilah internet tidak hanya sebatas pada pengertian teknologi yang menghubungkan antar komputer semata, melainkan juga terkadang di dalam istilah tersebut adalah fenomena-fenomena sosial sebagaimana yang terjadi dalam interaksi antarindividu secara face-to-face; meski pada beberapa kasus internet memberikan kerumitan dan perbedaan yang menyolok dibandingan fenomena sosial pada umumnya.

Bentuk-bentuk sosial dari objek internet ini berimplikasi pada bagaimana teknologi ini menjadi sebagai bagian akhir dari negosiasi atas proses sosial dimana masing-masing grup yang mengakses internet memiliki pandangan yang berbeda. Di satu sisi beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan keuntungan dan sebaliknya beberapa fenomena yang terjadi di internet malah tidak memberikan apa-apa dari penggunaan teknologi ini (Hine, 2000:33). Pendefinisian ulang terhadap teknologi (internet) yang berdasarkan pada fenomena sosial yang terjadi di dalamnya memberikan makna yang berbeda yang bagi Hine tergantung pada user yang memakai teknologi tersebut; apakah hanya seperangkat mesin komputer atau medium interaksi sosial. Seperti dikutip Hine, Bijker (1987) menjelaskan bahwa ”... that ’artefactual flexibility’ might have captured more explicitly the radical implications of different understanding for what the technology is”.

Internet tidak hanya dihasilkan oleh para produsen perangkat keras komputer semata. (Budaya) internet juga melibatkan internet service providers, pengembang aplikasi perangkat lunak, pengembang situs, kontributor yang terlibat dalam grup diskusi (newsgroup), atau user dari jejaring pertemanan sosial. Bahkan internet bisa dibentuk oleh para biro iklan maupun praktisi pemasaran (Hine, 2000:35). Oleh karena itu, dalam kajian entografi pola-pola pendekatan penelitian terhadap internet bisa dilakukan tergantung dari bagaimana individu memandang ingternet. Dicontohkan Hine, peneliti etnografi bisa melihat bagaimana kebiasaan konsumer perangkat lunak internet yang bermuara pada bagaimana strategi yang dilakukan oleh para produsen perangkat lunak internet itu sendiri. Bahkan menurut Grint dan Woolgar (1997) melihat konstruksi (budaya) komputer melalui produsen perangkat tersebut menjadi jauh lebih mudah untuk memahami etnografi komputer dibandingkan secara langsung melihat perangkat keras itu sendiri. Teknologi sebagai sebuah teks metafora hanya bisa dijangkau secara terbatas dibandingkan menempatkan term teknologi itu sendiri dalam batasan dan sebuah artefak dari teknologi itu sendiri. The technology as text metaphor is therefore less straightforwardly applicable to the Internet than it is to bounded and located technological artefacts”. Dengan demikian (budaya yang terkandung di dalam) internet bisa dieksplorasi dengan menggunakan perspektif etnografi  melalui konstruksi teknologi dan konteks (fenomena sosial-budaya) yang terkandung di dalamnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: