RSS

Cyberculture as a Culture

03 Mar

from corbis.com

Internet menurut Hine (2007) bisa didekati dalam dua aspek apabila menggunakan pendekatan etnografi, yakni internet sebagai budaya dan internet sebagai artefak kebudayaan. Perbedaan ini berimplikasi—khususnya untuk para peneliti etnografi—kepada  perbedaan penggunaan metodologi dalam penelitian di satu sisi maupun secara tegas memaparkan keuntungan maupun kelemahan di sisi lain.

Sebagai sebuah budaya (culture),  pada awalnya internet ditenggarai sebagai model komunikasi yang sederhana bila dibandingkan dengan model komunikasi secara langsung atau face-to-face (Baym, 1998). Bahwa interaksi face-to-face tidak hanya melibatkan teks sebagai simbol atau tanda dalam berinteraksi semata. Ekspresi wajah, tekanan suara, cara memandang, posisi tubuh, agama, usia, ras, dan sebagainya merupakan tanda-tanda yang juga berperan dalam interaksi antarindividu. Sedangkan dalam CMC interaksi terjadi berdasarkan teks semata bahkan emosipun ditunjukkan dengan menggunakan teks, yakni dengan simbol-simbol dalam emoticon.

Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial, beberapa peneliti seperti Kiesher, Siegel, dan McGuire (1984) maupun Sproull dan Kiesler (1986,1991) mengadakan eksperimen terhadap berkurangnya ikatan sosial yang terjadi antaranggota dalam CMC. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengungkapkan bagaimana perbedaan antara interaksi melalui medium teknologi dan interaksi yang berlangsung secara face-to-face di antara anggota grup dengan memberikan masing-masing grup diberikan tugas. Hasil eksperimen didapat bahwa grup yang mengerjakan tugas melalui medium komputer ternyata memiliki kekurangan dalam ikatan (emosional) sosial dan juga tidak memberikan efek kepada setiap anggota. Teks yang digunakan dalam surat elektonik (electronic mail/e-mail) tidak memberikan tanda-tanda sosial antaranggota seperti jenis kelamin, usia, ras, agama, ekspresi wajah, atau intonation yang pada dasarnya mempunyai pengaruh dalam interaksi secara langsung. Juga, dalam CMC setiap anggota sepertinya tidak memiliki ikatan emosional dan kesadaran bahwa dirinya merupakan anggota kelompok sehingga apa yang mereka lakukan hanya terpaku pada pengerjaan tugas-tugas semata. Berbeda dengan kelompok yang berinteraksi langsung, bahwa setiap anggota tidak hanya memiliki fokus pada pengerjaan tugas semata  melainkan terjadi hubungan atau interaksi antarindividu dalam berbagai topik.

from corbis .com

Namun, penelitian selanjutnya bisa memetakan bahwa meski dalam CMC ikatan emosional sangatlah kabur dibandingkan interaksi lansung, bila dalam kondisi dan situasi  tertentu ternyata melalui CMC tanda-tanda sosial juga memiliki pengaruh. Slaah satunya yang dilakukan oleh Rheingold (1993) melalui eksperimen yang disebut dengan WELL (Whole Eart’Lecctronic Link) yang menggambarkan kondisi dari sekelompok individu yang berinteraksi melalui CMC dalam waktu lama pada akhirnya tetap memunculkan efek terhadap relasi personal antaranggotanya. Virtual communities are social aggregations that emerge from the Net when enough people carry on those public discussions long enough, with sufficient human feeling, to form webs of personal relationships in cyberspace (Rheingold, 1993: 5 sebagaimana dikutip Hine, 2000:17). Begitu juga simpulan yang didapat oleh Curtis (1992) serta Buckman (1992) yang memfokuskan penelitiannya kepada MUDs atau Multi-Usser Dimensions, dimana setiap user atau pengguna internet bisa menjadi siapa saja dan bisa memiliki multi-identitas di internet, menyimpulkan bahwa interaksi melalui CMC pada dasarnya tidaklah berbeda jauh dari konteks sosial yang selama ini dipahami dalam interaksi langsung. Merujuk dari penelitian awal baik dalam WELL maupun MUDs, pada akhirnya linkungan dengan segala fenomena yang ada di internet mengarah pada terbentuknya komunitas virtual, “…that online enviroments can form virtual communities” (Hine, 2000:17).

Selanjutnya penelitian terhadap internet dan penggunanya beralih untuk mengungkapkan persepsi antar anggota sebagaimana yang dilakukan oleh Jones (1995), McLaughlin (1995), maupun Kollock dan Smith (1999). Ada perubahan mendasar tentang konsep relasi yang terjadi melalui CMC, bahwa dalam dunia siber selalu ada relasi sosial yang berarti dan eksis sebagaimana yang terjadi dalam interaksi face-to-face. CMC diposisikan sebagai konteks sosial yang berhubungan dengan interaksi antarindividu dibandingkan hanya sekadar menjadikan CMC sebagai medium untuk menujukkan efek baik-buruk. Perkembangan ini pada akhirnya membawa internet sebagai objek penelitian dari berbagai bidang seperti antropologi, studi media, kajian budaya, ilmu politik, studi komunikasi dan media. Penelitian Mark Smith (1999) yang berhasil memetakan struktur sosial maupun level-level aktivitas yang terjadi di di grup diskusi Usenet. Sedangkan hasil penelitian Reid (1995) menunjukkan bahwa hadirnya budaya melalui MUDs muncul akibat interaksi antaranggota melalui teks bahasa serta setiap anggota membangun caranya sendiri untuk saling berhubungan serta membanguan situasi/lingkungan antaranggota. Pada akhirnya studi terhadap fenomena-fenomena internet, seperti komunitas virtual,  ditenggarai sebagai pendorong untuk melakukan pendefenisian baru terhadap kata komunitas yang selama ini hanya terbatas pada praktik-prakti sosial serta kehadiran fisik semata.

Kritik terhadap studi maupun penelitian terhadap internet bahwa dalam dunia virtual peneliti harus bisa memastikan bahwa sumber-sumber yang didapat memiliki keotentikan dan kredibilitas. Artinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran internet dengan dunia sibernya memungkinkan pengguna atau user bisa menjadi siapa saja dan bisa menjadi berbagai identitas individu. Sebab, bila hanya menyandarkan pada intenet, maka satu-satunya yang menjadi rujukan adalah teks itu sendiri. Teks pria dalam dunis siber ditandai dengak teks P-R-I-A, sementara dalam interaksi face-to-face tanda pria dapat diketahui secara langsung. Inilah yang terjadi dengan Margaret Mead (Freeman, 1996 sebagaimana dikutip Hine, 2000:22) dimana responden di dunia siber yang dipakainya ternyata memberikan keterangan atau informasi palsu. Oleh karena itu, Turkle (1995:324) memberikan penegasan bahwa interaksi yang dilakukan secara online, dalam konteks penelitian, haruslah dapat dipastikan kebenaran identitas responden secara offline atau penelitian telah memastikan bertemu secara face-to-face. Turkle chose not to report on online interactions unless she had also met face-to-face the person involved, considering that for her purposes this level of verification of online identities was required. She acknowledges that this `real-life bias’ is appropriate for her own study, while it may not be so for others (Hine, 2000:22).

 
1 Comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

One response to “Cyberculture as a Culture

  1. Begy Wahyu Anggara

    April 19, 2012 at 4:41 am

    blognya sederhana, tapi isinya menarik, ini yang kusuka

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: