RSS

Mendefinisikan Cyberculture

03 Mar

from corbis.com

Konsep cyberspace diperkenalkan dalam sebuah novel sci-fi True Name oleh Vernor seorang novelis yang juga ahli matematika pada tahun 1981. Vernor menggunakan istilah “The Other Plane” untuk menggambarkan keberadaan sebuah jaringan. Konsep ini yang kemudian diadaptasi oleh William Gibson pada tahun 1984 dalam novelnya Neuromancer.

Cyberspace. A consensual hallucination experienced daily by billions of legitimate operators, in every nation, by children being taught mathematical concepts — A graphic representation of data abstracted from the banks of every computer in the  human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the nonspace of the mind, clusters and constellations of data. Like city lights, receding. (William Gibson 1984: 51 sebagaimana dikutip Wood dan Smith, 2005:18)

Cyberspace digambarkan oleh Gibson jauh sebelum teknologi internet menjadi berkembang. Juga, visualisasi atas representasi grafis di dunia World Wibe web (WWW) yang ada di layar komputer saat ini. Ide Gibson dalam penggunaan kata cyberspace ini setelah ia memerhatikan keyakinan yang muncul dari anak-anak setelah mereka bermain video games. Bahwa anak-anak tersebut meyakini bahwa permainan tersebut adalah nyata dan semua bangunan, ruang, interaksi, maupun benda-benda yang ada di permainan tersebut diyakini sebagai sebuah kenyataan atau eksis meski kenyataan itu tidak bisa dijangkau oleh mereka. “to develop a belief that there’s some kind of actual space behind the screen, someplace you can’t see but you know is there” (McCaffery, 1992:272 sebagaimana dikutip Wood dan Smith, 2005:19).

Merujuk pada kata yang digunakan Gibson, cyberspace lebih dekat dengan penggambaran “consensual hallucination”, namun Bromberg (1996) menyamakan cyberspace sebagai “non-linier reality of mind-altering drugs”. Sedangkan Rushkoff (1994) menggunakan kata cyberspace untuk membawa pikiran (manusia) ketingkat atau level selanjutnya dari kesadaran manusia.

Namun, Shawn Wilbur (1997) menjelaskan bahwa melalui fasilitas Web memungkinkan adanya kontak yang halus (ethereal contact), bahwa seseorang akan menemukan efek dalam kehidupan mereka ketika berhubungan dengan cyberspace. Sebab, karakteristik dunia virtual bisa menghasilkan efek dan di sisi lain ia juga menjadikan dirinya sebagai sebuah efek. The characteristic of the virtual is that is able to produce effects, or to produce itself as an effect even in the absence of “real effects” (Wilbur, 1997:9-10). Hubungan antarindividu di dunia virtual bukankah sekadar hubungan yang dikatakan sebagai “substanceless halluciantion” semata; pada dasarnya hubungan tersebut terjadi secara nyata, memiliki arti, dan juga bisa berdampak/berlanjut pada kehidupan yang sesungguhnya. Hal inilah yang kemudian ditegaskan oleh Howard Rheingold (1993:5) bahwa cyberspace merupakan ruang konseptual dimana semua kata, hubungan manusia, data, kesejahteraan, dan juga kekuatan dimanifestasikan oleh setiap orang melalui teknologi CMC atau Computer Mediated Communication. “the conceptual space where words, human relationships, data, wealth,and power are manifested by people using CMC technology”.

Meski Wood dan Smith dalam bukunya Online Communication, Lingking Technology, Identitym & Culture (2005:19) mengakui bahwa keberadaan kata cyberspace mudah untuk ditelusuri dibandingkan dengan pendefenisiannya, tetapi pendefinisian cyberspace yang ditawarkan oleh keduanya bukanlah sekadar halusinasi semata, melainkan lebih dekat kepada “consensual, conceptual space”. Sedangkan menurut Nguyen dan Alexander (1996) menyatakan cyberspace merupakan sinyal dari kemajuan modernitas, “cyberspace signals the breakdown of modernity”, Turkle (1996) menggambarkann cyberspace sebagai sebuah konteks post-modernis untuk memainkan diri, “is a postmodern context for playing with the self”, dan Cyberspace bagi Danet (1997) sebagai “intrinsically a playfull medium” (sebagaimana dikutip Hine 2000:7).

Untuk mendekati pengertian cyberspace, Kitchin (1998) sebagaimana dikutip oleh Christine Hine dalam bukunya Virtual Etnography (2001:5-7)  memaparkan efek dari cyberspace ke dalam tiga karateristik: pertama, merubah peran waktu dan ruang; kedua, merubah pola komunikasi dan peran komunikasi massa ; ketiga mempertanyakan dualisme seperti yang nyata dan yang virtual, kebenaran atau fiksi, keotentikan atau produksi, peran teknologi dan natural, atau representasi dan realitas. Kondisi ini kembali ditegaskan oleh Poster (1990;1995) bahwa keberadaan internet merupakan fenomeda post-modern yang mengaburkan batas-batas antara manusia dan (teknologi) mesin serta antara yang real dan yang virtual.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: