RSS

Category Archives: Media Sosial

Cyber as a Cultural Artefact

from corbis.com

Model selanjutnya yang disodorkan Hine adalah internet sebagai artefak kebudayaan (cultural artefac). Menurut Hine, internet tidak hanya  bisa dipahami sebagai sekumpulan komputer yang berinteraksi dengan bahasa komputer itu sendiri, yakni TCP/IP. Kata ‘Internet’ bisa didenotasikan sebagai seperangkat program komputer yang memungkinkan user untuk melakukan interaksi, memunculkan berbagai macam bentuk komunikasi, serta untuk bertukar informasi. Perkembangan program seperti E-Mail, IRC, bulletin boards, MUDS, video konferensi, dan kemunculan WWW atau World Wide Web pada dasarnya adalah pembuktian.

Meski pada awalnya APRAnet sebagai embrio internet muncul untuk kepentingan militer pada tahun 1969, namun kini pemanfaatan internet telah menjangkau banyak bidang. Media massa tradisional seperti koran, majalah, radio, bahkan televisi perlahan-lahan mulai bersaing dengan internet, penyebaran iklan yang bisa menjangkau potential buyer dari berbagai belahan dunia, pertukaran informasi serta data yang bisa lebih cepat dibandingkan jasa pos, gudang pustaka yang bisa mencari lema dan data dalam waktu sesingkat mungkin, transaksi keuangan yang bisa dilakukan secara online, hingga berdakwah pun bisa dilakukan melalui internet. Internet berkembang menjadi komoditas, dan komoditas ini dikemas sedemikian rupa sehingga dapat ditawarkan kepada para pemakai (Hine, 2000:32). Penggunaan internet merambah dari sekadar medium penyampai-penerima pesan menjadi fasilitas untuk membantu pekerjaan, mencari hiburan dan pengisi waktu luang, tempat mencari informasi, serta menjadi sarana untuk melalukan transaksi jual-beli.

Internet juga bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial, baik itu melalui pembacaan terhadap sejarah perkembangan internet maupun kebermaknaan dan kebergunaan internet. Menurut Hine sebagai sebuah sejarah ”internet” merupakan medium yang digunakan oleh pihak militer terutama dalam masa perang dingin, sebagai bentuk ”budaya/culture” internet bisa didekati melalui konteks media massa, sebagai bentuk ”situasional” internet merupakan konteks institusional maupun domestik dimana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri, dan sebagai sebuah bentuk ”metaphorical” yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial. Berbagai bentuk sosial ini memproduksi sebuah objek (budaya) yang dikenal dengan ”Internet”. Artinya, istilah internet tidak hanya sebatas pada pengertian teknologi yang menghubungkan antar komputer semata, melainkan juga terkadang di dalam istilah tersebut adalah fenomena-fenomena sosial sebagaimana yang terjadi dalam interaksi antarindividu secara face-to-face; meski pada beberapa kasus internet memberikan kerumitan dan perbedaan yang menyolok dibandingan fenomena sosial pada umumnya.

Bentuk-bentuk sosial dari objek internet ini berimplikasi pada bagaimana teknologi ini menjadi sebagai bagian akhir dari negosiasi atas proses sosial dimana masing-masing grup yang mengakses internet memiliki pandangan yang berbeda. Di satu sisi beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan keuntungan dan sebaliknya beberapa fenomena yang terjadi di internet malah tidak memberikan apa-apa dari penggunaan teknologi ini (Hine, 2000:33). Pendefinisian ulang terhadap teknologi (internet) yang berdasarkan pada fenomena sosial yang terjadi di dalamnya memberikan makna yang berbeda yang bagi Hine tergantung pada user yang memakai teknologi tersebut; apakah hanya seperangkat mesin komputer atau medium interaksi sosial. Seperti dikutip Hine, Bijker (1987) menjelaskan bahwa ”... that ’artefactual flexibility’ might have captured more explicitly the radical implications of different understanding for what the technology is”.

Internet tidak hanya dihasilkan oleh para produsen perangkat keras komputer semata. (Budaya) internet juga melibatkan internet service providers, pengembang aplikasi perangkat lunak, pengembang situs, kontributor yang terlibat dalam grup diskusi (newsgroup), atau user dari jejaring pertemanan sosial. Bahkan internet bisa dibentuk oleh para biro iklan maupun praktisi pemasaran (Hine, 2000:35). Oleh karena itu, dalam kajian entografi pola-pola pendekatan penelitian terhadap internet bisa dilakukan tergantung dari bagaimana individu memandang ingternet. Dicontohkan Hine, peneliti etnografi bisa melihat bagaimana kebiasaan konsumer perangkat lunak internet yang bermuara pada bagaimana strategi yang dilakukan oleh para produsen perangkat lunak internet itu sendiri. Bahkan menurut Grint dan Woolgar (1997) melihat konstruksi (budaya) komputer melalui produsen perangkat tersebut menjadi jauh lebih mudah untuk memahami etnografi komputer dibandingkan secara langsung melihat perangkat keras itu sendiri. Teknologi sebagai sebuah teks metafora hanya bisa dijangkau secara terbatas dibandingkan menempatkan term teknologi itu sendiri dalam batasan dan sebuah artefak dari teknologi itu sendiri. The technology as text metaphor is therefore less straightforwardly applicable to the Internet than it is to bounded and located technological artefacts”. Dengan demikian (budaya yang terkandung di dalam) internet bisa dieksplorasi dengan menggunakan perspektif etnografi  melalui konstruksi teknologi dan konteks (fenomena sosial-budaya) yang terkandung di dalamnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Cyberculture as a Culture

from corbis.com

Internet menurut Hine (2007) bisa didekati dalam dua aspek apabila menggunakan pendekatan etnografi, yakni internet sebagai budaya dan internet sebagai artefak kebudayaan. Perbedaan ini berimplikasi—khususnya untuk para peneliti etnografi—kepada  perbedaan penggunaan metodologi dalam penelitian di satu sisi maupun secara tegas memaparkan keuntungan maupun kelemahan di sisi lain.

Sebagai sebuah budaya (culture),  pada awalnya internet ditenggarai sebagai model komunikasi yang sederhana bila dibandingkan dengan model komunikasi secara langsung atau face-to-face (Baym, 1998). Bahwa interaksi face-to-face tidak hanya melibatkan teks sebagai simbol atau tanda dalam berinteraksi semata. Ekspresi wajah, tekanan suara, cara memandang, posisi tubuh, agama, usia, ras, dan sebagainya merupakan tanda-tanda yang juga berperan dalam interaksi antarindividu. Sedangkan dalam CMC interaksi terjadi berdasarkan teks semata bahkan emosipun ditunjukkan dengan menggunakan teks, yakni dengan simbol-simbol dalam emoticon.

Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial, beberapa peneliti seperti Kiesher, Siegel, dan McGuire (1984) maupun Sproull dan Kiesler (1986,1991) mengadakan eksperimen terhadap berkurangnya ikatan sosial yang terjadi antaranggota dalam CMC. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengungkapkan bagaimana perbedaan antara interaksi melalui medium teknologi dan interaksi yang berlangsung secara face-to-face di antara anggota grup dengan memberikan masing-masing grup diberikan tugas. Hasil eksperimen didapat bahwa grup yang mengerjakan tugas melalui medium komputer ternyata memiliki kekurangan dalam ikatan (emosional) sosial dan juga tidak memberikan efek kepada setiap anggota. Teks yang digunakan dalam surat elektonik (electronic mail/e-mail) tidak memberikan tanda-tanda sosial antaranggota seperti jenis kelamin, usia, ras, agama, ekspresi wajah, atau intonation yang pada dasarnya mempunyai pengaruh dalam interaksi secara langsung. Juga, dalam CMC setiap anggota sepertinya tidak memiliki ikatan emosional dan kesadaran bahwa dirinya merupakan anggota kelompok sehingga apa yang mereka lakukan hanya terpaku pada pengerjaan tugas-tugas semata. Berbeda dengan kelompok yang berinteraksi langsung, bahwa setiap anggota tidak hanya memiliki fokus pada pengerjaan tugas semata  melainkan terjadi hubungan atau interaksi antarindividu dalam berbagai topik.

from corbis .com

Namun, penelitian selanjutnya bisa memetakan bahwa meski dalam CMC ikatan emosional sangatlah kabur dibandingkan interaksi lansung, bila dalam kondisi dan situasi  tertentu ternyata melalui CMC tanda-tanda sosial juga memiliki pengaruh. Slaah satunya yang dilakukan oleh Rheingold (1993) melalui eksperimen yang disebut dengan WELL (Whole Eart’Lecctronic Link) yang menggambarkan kondisi dari sekelompok individu yang berinteraksi melalui CMC dalam waktu lama pada akhirnya tetap memunculkan efek terhadap relasi personal antaranggotanya. Virtual communities are social aggregations that emerge from the Net when enough people carry on those public discussions long enough, with sufficient human feeling, to form webs of personal relationships in cyberspace (Rheingold, 1993: 5 sebagaimana dikutip Hine, 2000:17). Begitu juga simpulan yang didapat oleh Curtis (1992) serta Buckman (1992) yang memfokuskan penelitiannya kepada MUDs atau Multi-Usser Dimensions, dimana setiap user atau pengguna internet bisa menjadi siapa saja dan bisa memiliki multi-identitas di internet, menyimpulkan bahwa interaksi melalui CMC pada dasarnya tidaklah berbeda jauh dari konteks sosial yang selama ini dipahami dalam interaksi langsung. Merujuk dari penelitian awal baik dalam WELL maupun MUDs, pada akhirnya linkungan dengan segala fenomena yang ada di internet mengarah pada terbentuknya komunitas virtual, “…that online enviroments can form virtual communities” (Hine, 2000:17).

Selanjutnya penelitian terhadap internet dan penggunanya beralih untuk mengungkapkan persepsi antar anggota sebagaimana yang dilakukan oleh Jones (1995), McLaughlin (1995), maupun Kollock dan Smith (1999). Ada perubahan mendasar tentang konsep relasi yang terjadi melalui CMC, bahwa dalam dunia siber selalu ada relasi sosial yang berarti dan eksis sebagaimana yang terjadi dalam interaksi face-to-face. CMC diposisikan sebagai konteks sosial yang berhubungan dengan interaksi antarindividu dibandingkan hanya sekadar menjadikan CMC sebagai medium untuk menujukkan efek baik-buruk. Perkembangan ini pada akhirnya membawa internet sebagai objek penelitian dari berbagai bidang seperti antropologi, studi media, kajian budaya, ilmu politik, studi komunikasi dan media. Penelitian Mark Smith (1999) yang berhasil memetakan struktur sosial maupun level-level aktivitas yang terjadi di di grup diskusi Usenet. Sedangkan hasil penelitian Reid (1995) menunjukkan bahwa hadirnya budaya melalui MUDs muncul akibat interaksi antaranggota melalui teks bahasa serta setiap anggota membangun caranya sendiri untuk saling berhubungan serta membanguan situasi/lingkungan antaranggota. Pada akhirnya studi terhadap fenomena-fenomena internet, seperti komunitas virtual,  ditenggarai sebagai pendorong untuk melakukan pendefenisian baru terhadap kata komunitas yang selama ini hanya terbatas pada praktik-prakti sosial serta kehadiran fisik semata.

Kritik terhadap studi maupun penelitian terhadap internet bahwa dalam dunia virtual peneliti harus bisa memastikan bahwa sumber-sumber yang didapat memiliki keotentikan dan kredibilitas. Artinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran internet dengan dunia sibernya memungkinkan pengguna atau user bisa menjadi siapa saja dan bisa menjadi berbagai identitas individu. Sebab, bila hanya menyandarkan pada intenet, maka satu-satunya yang menjadi rujukan adalah teks itu sendiri. Teks pria dalam dunis siber ditandai dengak teks P-R-I-A, sementara dalam interaksi face-to-face tanda pria dapat diketahui secara langsung. Inilah yang terjadi dengan Margaret Mead (Freeman, 1996 sebagaimana dikutip Hine, 2000:22) dimana responden di dunia siber yang dipakainya ternyata memberikan keterangan atau informasi palsu. Oleh karena itu, Turkle (1995:324) memberikan penegasan bahwa interaksi yang dilakukan secara online, dalam konteks penelitian, haruslah dapat dipastikan kebenaran identitas responden secara offline atau penelitian telah memastikan bertemu secara face-to-face. Turkle chose not to report on online interactions unless she had also met face-to-face the person involved, considering that for her purposes this level of verification of online identities was required. She acknowledges that this `real-life bias’ is appropriate for her own study, while it may not be so for others (Hine, 2000:22).

 
1 Comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Mendefinisikan Cyberculture

from corbis.com

Konsep cyberspace diperkenalkan dalam sebuah novel sci-fi True Name oleh Vernor seorang novelis yang juga ahli matematika pada tahun 1981. Vernor menggunakan istilah “The Other Plane” untuk menggambarkan keberadaan sebuah jaringan. Konsep ini yang kemudian diadaptasi oleh William Gibson pada tahun 1984 dalam novelnya Neuromancer.

Cyberspace. A consensual hallucination experienced daily by billions of legitimate operators, in every nation, by children being taught mathematical concepts — A graphic representation of data abstracted from the banks of every computer in the  human system. Unthinkable complexity. Lines of light ranged in the nonspace of the mind, clusters and constellations of data. Like city lights, receding. (William Gibson 1984: 51 sebagaimana dikutip Wood dan Smith, 2005:18)

Cyberspace digambarkan oleh Gibson jauh sebelum teknologi internet menjadi berkembang. Juga, visualisasi atas representasi grafis di dunia World Wibe web (WWW) yang ada di layar komputer saat ini. Ide Gibson dalam penggunaan kata cyberspace ini setelah ia memerhatikan keyakinan yang muncul dari anak-anak setelah mereka bermain video games. Bahwa anak-anak tersebut meyakini bahwa permainan tersebut adalah nyata dan semua bangunan, ruang, interaksi, maupun benda-benda yang ada di permainan tersebut diyakini sebagai sebuah kenyataan atau eksis meski kenyataan itu tidak bisa dijangkau oleh mereka. “to develop a belief that there’s some kind of actual space behind the screen, someplace you can’t see but you know is there” (McCaffery, 1992:272 sebagaimana dikutip Wood dan Smith, 2005:19).

Merujuk pada kata yang digunakan Gibson, cyberspace lebih dekat dengan penggambaran “consensual hallucination”, namun Bromberg (1996) menyamakan cyberspace sebagai “non-linier reality of mind-altering drugs”. Sedangkan Rushkoff (1994) menggunakan kata cyberspace untuk membawa pikiran (manusia) ketingkat atau level selanjutnya dari kesadaran manusia.

Namun, Shawn Wilbur (1997) menjelaskan bahwa melalui fasilitas Web memungkinkan adanya kontak yang halus (ethereal contact), bahwa seseorang akan menemukan efek dalam kehidupan mereka ketika berhubungan dengan cyberspace. Sebab, karakteristik dunia virtual bisa menghasilkan efek dan di sisi lain ia juga menjadikan dirinya sebagai sebuah efek. The characteristic of the virtual is that is able to produce effects, or to produce itself as an effect even in the absence of “real effects” (Wilbur, 1997:9-10). Hubungan antarindividu di dunia virtual bukankah sekadar hubungan yang dikatakan sebagai “substanceless halluciantion” semata; pada dasarnya hubungan tersebut terjadi secara nyata, memiliki arti, dan juga bisa berdampak/berlanjut pada kehidupan yang sesungguhnya. Hal inilah yang kemudian ditegaskan oleh Howard Rheingold (1993:5) bahwa cyberspace merupakan ruang konseptual dimana semua kata, hubungan manusia, data, kesejahteraan, dan juga kekuatan dimanifestasikan oleh setiap orang melalui teknologi CMC atau Computer Mediated Communication. “the conceptual space where words, human relationships, data, wealth,and power are manifested by people using CMC technology”.

Meski Wood dan Smith dalam bukunya Online Communication, Lingking Technology, Identitym & Culture (2005:19) mengakui bahwa keberadaan kata cyberspace mudah untuk ditelusuri dibandingkan dengan pendefenisiannya, tetapi pendefinisian cyberspace yang ditawarkan oleh keduanya bukanlah sekadar halusinasi semata, melainkan lebih dekat kepada “consensual, conceptual space”. Sedangkan menurut Nguyen dan Alexander (1996) menyatakan cyberspace merupakan sinyal dari kemajuan modernitas, “cyberspace signals the breakdown of modernity”, Turkle (1996) menggambarkann cyberspace sebagai sebuah konteks post-modernis untuk memainkan diri, “is a postmodern context for playing with the self”, dan Cyberspace bagi Danet (1997) sebagai “intrinsically a playfull medium” (sebagaimana dikutip Hine 2000:7).

Untuk mendekati pengertian cyberspace, Kitchin (1998) sebagaimana dikutip oleh Christine Hine dalam bukunya Virtual Etnography (2001:5-7)  memaparkan efek dari cyberspace ke dalam tiga karateristik: pertama, merubah peran waktu dan ruang; kedua, merubah pola komunikasi dan peran komunikasi massa ; ketiga mempertanyakan dualisme seperti yang nyata dan yang virtual, kebenaran atau fiksi, keotentikan atau produksi, peran teknologi dan natural, atau representasi dan realitas. Kondisi ini kembali ditegaskan oleh Poster (1990;1995) bahwa keberadaan internet merupakan fenomeda post-modern yang mengaburkan batas-batas antara manusia dan (teknologi) mesin serta antara yang real dan yang virtual.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Ngeblog karena …

Kita sudah tahu the power of blog. Sekarang yuk kita lihat alasan-alasan kenapa kita harus punya blog;

# Mengisi Waktu
Buat yang mau nyari aktifitas positif saat punya banyak waktu luang, blog adalah pilihan cerdas. Yup, daripada tidur di kantor atau seharian mainin melototin televisi, lebih baik buka komputer atau pergi ke warung internet dan nulis di blog. Dengan begitu kita bisa memgisi waktu sekaligus ketemu ornag banyak, dapat info terbaru, dan bisa ngetop. He he … 

# Tempat curhat yang paling asyik
Dengan ngeblog bisa jadi tempat curhat yang paling asyik. Pasalnya, dimanapun dan kapanpun asal terkoneksi dengan internet kita akan bisa menuliskan apa saja yang terjadi. Beda kalau nulisnya di buku; selain khawatir buku diary nggak bisa dibawa kemana-mana dan takut hilang, kadang keinginan atau mod menulis itu sudah hilang ketika harus menulis buku diary yang biasanya ditulis di rumah dan menjelang tidur.

# Ingin bertemu dengan new friends
Percaya nggak, kalau dengan ngeblog kita akan bertemu seratus teman baru dalam seminggu? Yup, bukan sulap dan juga bukan sihir, dengan ngeblog kita bisa mendapatkan teman-teman yang baru. Ini karena salah satu ‘etika’ seorang blogger adalah melakukan blogwalking atau mengunjungi blog orang lain dan setidaknya meninggalkan pesan di blog tersebut. Nah, proses ini yang menyebabkan terjalinnya rantai pertemanan. Kalau nggak percaya cobain aja, deh!

# Jadi ensiklopedi online
Buat yang merasa punya banyak pengetahuan, ngoleksi buku-buku, dan senang dengan diskusi … blog adalah pilihan tepat. Di blog kita bisa berbagi informasi terbaru dan juga bisa berdiskusi banyak hal. Sehingga blog bisa dikatakan semacam ensiklopedi online; kita bisa berbagi sekaligus mendapat pengetahuan yang terbaru. Ada lho blogger yang sudah buntu dengan tugas akhir kuliahnya eh, pas buka blog orang lain dia menemukan jawaban tugas tersebut.

# Ladang bisnis
Seorang ibu yang karena rajin memasak, ia pun mempublikasikan resep-resepnya di blog, tak lama banyak yang memesan masarakannya. Ada yang membuka toko busana secara online melalui blog, membuka jasa kepenulisan di blog, sampai menyediakan barang-barang bekas terpakai dengan harga miring di blog. Nah, ternyata blog juga bisa menjadi ajang mencari uang.

# Ingin lebih dikenal
Biasanya sih ada aja blogger yang punya alasan membuat blog agar biasa dikenal oleh orang lain. Dan sampai akhirnya agar bisa menjadikan dirinya ngetop di dunia per-blog-an.

# Ikutan trend
Blog sekarang sudah menjadi semacam trend dan gaya hidup. Banyak orang yang membuat blog hanya karena sekadar ikutan trend saja, agar dibilang tidak ketinggalan.

Notes: diambil dari buku Kang Arul terbaru berjudul I am Muslimblogger
Foto: http://www.corbis.com

 
5 Comments

Posted by on January 5, 2008 in Catatan, Media Sosial

 

Blog adalah …

Sebelum tahun 2000, internet hanya dihuni oleh situs-situs milik pemerintah, perusahaan swasta, lembaga pendidikan, yayasan, atau kelompok usaha dan lembaga-lembaga sosial semata. Artinya, situs yang ada di internet adalah milik organisasi atau institusi tertentu. Teramat jarang, bahkan bisa dihitung dengan mudah, situs yang dimiliki oleh perorangan. Selain karena alasan mahal, juga karena pengelolaan situs pribadi yang rumit karena harus menguasai bahasa pemograman tertentuseperti html (HyperText Markup Language) sebuah ‘bahasa markup’ yang digunakan untuk membuat sebuah halaman web dan menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah browser internet. Sementara bila menggunakan jasa tenaga ahli, bisa-bisa dompet terkuras habis.

Nah, memasuki tahun 90-an, rupanya banyak perusahaan penyedia layanan internet yang juga memberikan beragam fasilitas dan kemudahaan bagi siapapun yang ingin memiliki situs pribadi. Apalagi pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab –sebelum diakuisisi oleh Google.com– meluncurkan layanan Blogger.com yang memungkinkan siapapun memiliki blog secara gratis. Tak heran, jumlah pengguna internet atau netter yang memiliki blog pun semakin meningkat. Sekarang saja sudah lebih dari 70 juta blog!

Penyebutan blog sendiri pada awalnya digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Menurut Barger yang namanya blog itu adalah;

  1. A weblog (sometimes called a blog or a newspage or a filter) is a webpage where a weblogger (sometimes called a blogger, or a pre-surfer) ‘logs’ all the other webpages she finds interesting.
  2. The format is normally to add the newest entry at the top of the page, so that repeat visitors can catch up by simply reading down the page until they reach a link they saw on their last visit. (This causes some minor, unavoidable confusions when the logger comments on an earlier link that the visitor hasn’t reached yet.)

Menurut Deborah Ng saat membahas Whats Blog?, menyimpulkan bahwa setidaknya yang dinamakan blog itu memiliki komponen sebagai berikut;

Subject or Header, setiap entry yang ada di blog pada dasarnya memiliki judul. Sama halnya dengan judul yang ada di kertas memo atau di e-mail, ini menandakan apa yang sebenarnya yang terdapat dalam blog tersebut.

Content or Body, ini adalah sumber dan pusat dari blog. Bahwa apa yang terjadi, membahas soal apa, dan jenis blog dapat diketahui. Ibarat kata “The meat of your blog, this is where it all happens”.

Comments, atau komentar adalah fitur yang memungkinkan pengunjung blog untuk terlibat diskusi berkaitan dengan isi blog yang diposting. Banyak blogger dan pembaca blog yang memberikan apresiasi tinggai dalam komunitas blog dikarenakan adanya fitur komentar ini.

Time and Date Stamp, penanggalan merupakan salah satu ciri khas blog yang memang dibentuk sesuai dengan kronologis waktu sehingga memudahkan pengunjung atau pembaca blog mengetahui kapan posting tersebut dibuat. Juga, bila tema tulisannya terbagi dalam beberapa bagian, dengan adanya kronologis waktu jadi dapat mengetahui bagian mana yang harus dibaca terlebih dahulu.

Link, dalam blog selalu ada link atau tautan/jaringan. Link yang terdapat di dalam blog biasanya adalah alamat blog dari yang dikenal. Bisa juga memuat sumber-sumber penting dari situs yang perlu diketahui oleh pengunjung blog.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada beragam ciri khas yang bisa menandakan apa yang dimaksud dengan blog, yaitu situs milik pribadi, isinya selalu baru alias seringkali di-update , pengujung dapat membaca dan memberikan komentar terhadap isinya, ada tautan atau link yang memudahkan pengunjung melihat, misalnya, sumber tulisan atau situs-situs menarik.

Nah, definisi ini semakin menarik apabila membaca tulisan Roger Yim yang merupakan kolumnis media San Fransisco Gate. Artikelnya yang dipublikasikan pada Februari 2007 menyatakan bahwa pengertian blog mengacu pada pengertian situs yang dikelola secara pribadi dan berisi kegiatan sang pemilik blog dalam kesehariannya serta memuat daftar link di internet.

Siapapun sekarang bisa menjadi blogger. Baik politikus, artis, penyanyi, karyawan, mahasiswa, pelajar, sampai kaum ibu pun nggak ketinggalan bikin blog.

Mulai dari bangun tidur, ngebersin kamar, milih pakaian atau parfum, kejadian di atas bis, pertemuan di kampus atau sekolah, saat jalan-jalan di mall, sayur-lauk apa yang dimakan saat makan malam, ketika mau tidur sampai semalam mimpin apapun dapat ditemukan di blog.

Kalaupun ada isi blog yang bicara politik, pendidikan, masalah-masalah sosial, sampai agama, tetapi tetap saja yang namanya blog itu adalah pandangan dari si empunya. Artinya, misalnya nih, soal ribut-ribut siapa calon Presiden Indonesia yang cocok untuk pemilu mendatang, tetap saja peristiwa yang ditulis di blog adalah sesuai dengan sudut pandang dan pemikiran blogger tersebut. Apalagi kalau entry tersebut dikomentari oleh pengunjung, tetap saja nuansa ‘pribadi’-nya tetap kelihatan.

Mengutip penelitian Adi Onggoboyo, survey yang dilakukan oleh www.octave.or.id mendapatkan 52,46% dari 122 blogger banyak mengisi blognya dengan diary pribadi atawa curahan hati.

Karena itulah blog, sesuatu yang mencerminkan seorang blogger. Konon kabarnya, untuk melihat kepribadian dan kebiasaan seseorang kita bisa mengintip dari blognya.

Referensi… 

Berger, Pam, Are You Blogging Yet?, Infromation Searcher 14 No.2, 2003

Booth, Stephanie, Hosted Blog Platform Test Write-Up, Climb to the Stars, http://climbtothestars.org/archives/2004/12/11/hosted-blog-platform-test-write-up, dilihat 19 Nopember 2007

Coggins, Sheila Ann Manues, Education Blog, http://weblogs.about.com/od/educationsblogs, dilihat 19 Nopember 2007

Deborah Ng, 16 Things You Need to Make it as a Successful Blogger,

http://weblogs.about.com/od/bloggingbasics/tp/Be-a-Succefful-Blogger.htm dilihat pada 19 Nopember 2007

—————-, How to write a blog, http://weblogs.about.com/od/bloggingbasics/p/Howtoblog.htm dilihat pada 19 Nopember 2007

—————-, Top 16 Tips for Choosing a Blog Name, http://weblogs.about.com/od/bloggingbasics/tp/blogname.htm pada 19 Nopember 2007 

 

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2008 in Catatan, Media Sosial

 

Blog, Don’t Leave Behind!

1,262,032,697

Angka di atas bukan nomor undian dan juga bukan kode voucher isi ulang, tapi itu adalah jumlah pengguna internet yang ada di dunia versi Internetworldstats ( www.internetworldstats.com) untuk tahun 2007 saja. Dari jumlah tersebut ada sekitar 459.476.825 pengguna internet yang berasal dari Asia atau sekitar 36,9 persen.

Data ini membuktikan bahwa internet bukan lagi menjadi ‘sesuatu’ yang aneh, asing, dan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Sekarang diberbagai tempat, bahkan sampai ke pelosok desa, banyak tersedia warung internet atau warnet; yang hanya dengan bermodalkan uang sekitar tiga ribu rupiah saja siapapun bisa berselancar di dunia internet selama satu jam.

Lalu, apa sih yang dicari di internet itu?

Hmm… dengan internet banyak yang bisa didapatkan; mulai dari cara membuat tempe sampai cara membuat pesawat, mulai dari resep masakan sampai cara merakit satelit, mulai dari mendengarkan lagu-lagu terbaru sampai nonton pertandingan sepak bola secara realtime atau langsung. Pokoknya internet ibarat mall yang menyediakan apa saja.
Selain kegunaan internet sebagai sumber informasi dan berita, internet juga menyediakan fasilitas komunikasi. Fasilitas tersebut berupa surat elektronik atau e-mail, ruang mengobrol atau chatting , grup diskusi yang disebut dengan milis atau kependekan dari mailing list, bahkan menjadi sarana seseorang untuk menuliskan apa saja.

Yang disebut terakhir itulah yang dinamakan dengan BLOG!

Nah, dari angka 1.248.357.426 pengguna internet di seluruh dunia, ada sekitar 62,66 juta pengguna internet yang memiliki website pribadi atau Weblog; lebih populer, sih, disebut dengan BLOG! Bahkan Technorati (www. technorati .com) mencatat di awal tahun 2007 ada sekitar 70 juta blog di dunia. Bandingkan dengan tahun 2003 yang hanya di bawah 2 juta blog!

Untuk kawasan ASIA sendiri jumlah blog yang ada sekitar 24,5 juta. Korea Selatan memiliki jumlah blog sekitar 15 juta, Cina empat juta blog, Jepang 3,35 juta blog, dan sisanya merupakan blog yang berasal dari Asia Tenggara.

Dari segi pengguna internet, Indonesia sendiri menempati urutan ke-14 setelah Canada dan Meksiko. Sementara jumlah pengguna blog di Indonesia mencapai 130 ribu, dan diperkirakan dalam satu-dua tahun ke depan jumlahnya akan menembus angka satu juta.

Wow, banyak sekalee…!

Buat yang merasa nggak mau ketinggalan dengan informasi dan teknologi terkini, jadilah satu dari jutaan pemilik blog yang ada di dunia ini. Saatnya kita punya BLOG dan saatnya juga kita menebarkan kebaikan melalui BLOG!

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2008 in Catatan, Media Sosial

 

Globalisasi; Pisau Bermata Dua

Globalisasi adalah term lama yang telah dilontarkan. Dalam term tersebut batas-batas geografis dan demografis menjadi fana; pendidikan, ekonomi, hingga ilmu pengetahuan akan semakin terbuka. Siapapun dan dimanapun keberadaannya dengan paspor globalisasi dia akan bisa melakukan transaksi bisnis di negara yang mungkin tidak pernah dikunjungi sekalipun.

Globalisasi adalah suatu kemutlakan. Proses globalisasi seimbang dengan kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia. Sebab, selalu terdapat upaya manusia untuk mendekatkan diri antara satu sama lain atau dengan komunitas lainnya untuk mencari titik persamaan; yang menurut priramida kebutuhan Maslow adalah hakekat pencarian jati dirinya.

Hanya saja, keterbukaan (dan kebebasan) tanpa mengenal batas ini menjadi semacam peringatan dini, khususnya bagi perkembangan cum pelestarian seni-budaya di suatu daerah. Pasalnya, batas-batas geografis dan demografis menjelaskan adanya sebuah keunikan, kekhasan, dan keragaman. Hildred Geertz menyatakan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 300 etnis. Tentu saja masing-masing etnis memiliki bahasa, seni, dan budaya yang berbeda satu dengan lainnya.

Persoalannya adalah globalisasi yang diusung oleh barat sering kali disajikan sebagai kedok untuk merampas nilai-nilai budaya dan mengklaim seni di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sosiolog Kenya Simon Kimoni menyatakan bahwa di sepanjang 30 tahun terakhir, negara-negara Barat berusaha memaksa masyarakat dunia untuk menerima nilai-nilai Barat secara mutlak. Apabila tidak segera diantisipasi, hal ini sangat berbahaya dan jika terus berkelanjutan, proses ini akan menyebabkan hegemoni Barat dan Amerika terhadap negara-negara lain.

Dalam seminar internasional bertema “Seni dan Glabalisasi” yang digelar di Teheran, Iran yang dihadiri oleh 15 negara, antara lain Perancis, Tunisia, Russia, Nigeria, Turki, Zimbabwe, Kenya, Italia, Cina, Lebanon, Mesir, Afrika Selatan, Kanada, dan Tanzania, disimpulkan bahwa globalisasi adalah pisau bermata dua; proses hegemoni barat dan upaya meninggikan seni-budaya.

Globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya karena setiap etnis yang ada akan berusaha menyesuaikan. Tetapi, dalam proses ini negara-negara -khususnya di negara berkembang dimana perekonomian belum mapan – harus berupaya memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing.

Globalisasi apabila didefinisikan sebagai proses hegemoni yang dilakukan negara-negara adidaya terhadap negara berkembang tentu menjadi semacam ancaman laten bagi perkembangan cum pelestarian seni-budaya. Hanya saja menjadi tidak bijak apabila mengembangkan mindset antipati terhadap semua yang berbau globalisasi. Globalisasi perlahan tapi pasti akan masuk ke Indonesia, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

Lalu, apa yang semestinya dilakukan untuk ‘menyelamatkan’ seni-budaya kita dari dampak negatif globalisasi, Doktor Abhay Kumar Singh dari India memformulasikan tesis bijak untuk menjawab ini. Menurutnya globalisasi mungkin saja mendatangkan musibah kepada seni-budaya, karena globalisasi sama seperti badai taufan yang mungkin mencabut akar budaya. Tetapi dari sudut pandang yang lain, globalisasi bisa memberikan kesempatan istimewa untuk bangsa-bangsa yang kaya dengan budaya. Seni-budaya yang dimiliki oleh suatu negara akan tersebar ke luar batas negara dan memberikan pengaruh kepada dunia.

Abhay juga menyatakan bahwa sejarah menyaksikan bahwa pada berbagai era kegemilangan, seni dari Iran, India, dan Italia berkembang sampai ke negara-negara yang jauh. Masalah inilah yang mungkin terjadi hari ini. Karena itu, bangsa Asia yang percaya kepada kekuatan akar budaya mereka tidak perlu takut pada pengaruh asing.

Ada kalimat penting dari Abhay, yaitu kita harus berusaha untuk memahami bagaimana seni bisa menjadi tameng pertahanan budaya dan tradisi. Nah, sekarang tergantung kepada kita apakah globalisasi itu dijadikan ancaman yang bisa merusak seni-budaya kita atau sebaliknya menjadi semacam batu loncatan untuk memperkenalkan seni-budaya yang kita miliki ke seluruh dunia.

NOTES:
Telah dipublikasikan penulis di Harian Borneo Tribune, Pontiianak pada Agustus 2007

 
3 Comments

Posted by on December 31, 2007 in Catatan, Media Sosial