Feeds:
Posts
Comments

1. Pihak yang berakad
Di dalam perjanjian ada pihak-pihak yang melakukan akad; antara penulis dengan
pihak penerbitan yang dalam hal ini biasanya diwakili oleh pemimpin redaksi atau
pemimpin perusahaan. Kelengkapan data yang mengikat perjanjian ini akan
mengakibatkan baiknya pula akad perjanjian yang ditandatangani. Bagi Anda yang
menggunakan nama samaran, diwajibkan untuk menggunakan nama asli. Bila ada kasus
hukum dikemudian hari, penggunaan nama palsu di surat perjanjian mengakibatkan
surat tersebut batal di mata hukum.

2. Karya yang menjadi objek akad
Perhatikan karya apa yang menjadi objek akad perjanjian tersebut. Apakah akan
dijadikan buku, film, produksi sandiwara radio, atau sejenisnya. Surat
perjanjian biasanya memuat satu jenis bentuk penerbitan, misalnya diterbitkan
dalam bentuk buku. Jika ada kemungkinan diterbitkan dalam bentuk berdeda,
misalnya novel yang Anda akan diubah bentuk menjadi film, maka seharusnya ada
pasal lain yang memuat keterangan tentang penerbitan dalam bentuk lainnya dan
konpensasi yang akan Anda dapatkan. Minimal ada klausul tentang ‘apabila akan
diterbitkan dalam bentuk lainnya seperti film, sandiwara radio, diterbitkan di
luar negeri, merchandise atau sebagainya, maka akan dibuat satu perjanjian
tersendiri’.

3. Kompensasi dari diterbitkan naskah Anda
Flat (bayar putus) atau royalti. Perhatikan bagaimana konpensasi yang akan Anda
terima dari penerbitan naskah Anda. Berapa besarannya dan bagaimana cara
pembayarannya. Jika flat, kapan di bayarkan. Jika royalti, bagaimana
termin-termin pembayarannya: tiga bulan, empat bulan, enam bulan, atau setahun
sekali.

4. Berapa lama akad berlangsung
Perhatikan pula berapa lama akad perjanjian penerbitan naskah ini berlangsung.
Apakah dalam bilangan tahun seperti 5 tahun atau dalam bilangan cetakan seperti
25.000 buku. Nah, ini untuk menunjukkan berama lama naskah Anda hak eksloitasi
ekonomi dan menerbitkannya berada di tangan pihak penerbit. Berarti pula selama
itu naskah Anda tidak boleh diterbitkan dalam bentuk apapun oleh penerbit lain.

5. Bukti penerbitan
Anda akan mendapatkan bukti penerbitan naskah Anda. Biasanya jika naskah Anda
akan diterbitkan dalam bentuk buku, maka Anda akan mendapatkan copy buku
sejumlah 5 atau 10. Itu adalah hak Anda.

6. Rujukan pengadilan dan atau locus delicti
Di pasal terakhir surat perjanjian penerbitan, akan dicantumkan pasal tentang
perselisihan perkara antara penulis dan pihak penerbit. Perhatikan di mana
rujukan pengadilan yang ditunjuk; biasanya ini berkaitan dengan wilayah di mana
penerbitan itu berada dan inilah yang akan dijadikan locus delicti atau tempat
kejadian perkara. Jangan pernah beranggapan Anda tidak akan berperkara dengan
penerbitan. Pehatikan dengan seksama lokasi rujukan pengadilan!

7. Tandatangan dan Materai Rp6000
Di akhir surat perjanjian penerbitan naskah, Anda akan mendapatkan bagian
tandatangan. Satu copy di bagian tandatangan Anda dan di sebelahnya pihak
rpenerbit tanpa materai. Satu copy lainnya sebaliknya, materai di bagian
penerbit sementara Anda tidak. Tanda tanganilah bagian Anda, baik yang
bermaterai maupun tidak. Bagi penerbit besar, biasanya surat perjanjian
penerbitan naskah sudah dibubuhi materai; Namun, adakalanya Anda sendiri yang
harus menyediakan materai. Pastikan bahwa materai tersebut adalah materai
seharga Rp6000. Jangan sampai lupa bagian-bagian mana saja Anda menaruh materai
tersebut.

8. Sahkah seluruh lembar surat
Surat perjanjian penerbitan naskah meski sudah ditandatangani pada bagian akhir,
namun Anda perlu menandatangani seluruh lembaran surat perjanjian. Pastikan
semua lembar di semua copy surat perjanjian ada tandatangan atau paraf Anda.
Bisa membubuhkannya di sisi kanan bawah kerta perjanjian dan berdekatan dengan
paragraf terakhir isi perjanjian. Bukti tandatangan Anda merupakan pengesahan
lembaran-lembaran perjanjian dan untuk menjaga bahwa pihak penerbit (yang nakal
tentunya) tidak mengganti lembaran muka perjanjian.

9. Dua copy surat perjanjian
Surat perjanjian penerbitan naskah tersebut ada dua copy. Satu yang bermaterai
dan bertanda tangan Anda akan dipegang oleh pihak penerbit. Satu lainnya yang
bermaterai dan bertanda tangan perwakilan penerbit akan dipegang Anda selaku
penulis. Kedua copy tersebut memiliki kekuatan hukum yang sama.

10. Kirim dan simpan surat perjanjian
Kirim kedua-duanya ke penerbit untuk ditandatangani pihak penerbitan dan
nantinya Anda akan mendapatkan satu copy surat perjanjian penerbitan yang sudah
ditandangani oleh Anda dan pihak penerbitan yang menandantanganinya di atas
materai. Simpan dengan baik surat perjanjian penerbitan tersebut. Ini adalah
bukti hukum dan surat legal yang bisa Anda gunakan di pengadilan.

“The good writer, the great writer, has what I have called the three S’s: the power to see, to sense, and to say. That is, he is perceptive, he is feeling, and he has the power to express in language what he observes and reacts to.”
Lawrence Clark Powell quotes (American Librarian, Writer and Critic, 1906-2001).

Osamu Shimomura (Jepang), Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien (AS)adalah tiga ilmuwan yang mendapatkan penghargaan Nobel bidang kimia di tahun 2008 lalu. Penghargaan ini hasil kerja keras ketiganya dalam hal isolasi dan pemanfaatan protein berpendar hijau, GFP (green fluorescent protein) yang merupakan sekelompok protein dengan struktur mirip satu sama lain yang berpendar hijau apabila disorot/dipapar dengan cahaya biru. Pemanfaatan ini semakin luas setelah gen-gen yang menbentuk GFP berhasil ditemukan dan kemudian digunakan secara luas dalam biologi molekular sejak tahun 1990-an.

Wajar jika ketiga ilmuwan ini diberikan penghargaan tertinggi di bidang kimia. Penemuan mereka merupakan kontribusi nyata di bidang pengkajian mengenai kehidupan pada skala molekul, seperti interaksi DNA, RNA, dan sintesis protein, serta bagaimana pengaturan interaksi tersebut. Juga, merupakan sumbangan besar untuk ilmuwan yang mendalami genetika dan biokimia.

Namun, tahukah Anda bahwa nama Orhan Pamuk sejajar dengan Osamu Shimomura, Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien? Apakah dia seorang ilmuwan ? Jawaban untuk pertanyaan terakhir ini adalah tidak. Namun, yang menyamakan keempat tokoh ini adalah mereka penerima Nobel.

Di Indonesia tidak banyak yang mengenal pemilik nama lengkap Ferit Orhan Pamuk. Dibandingkan dengan Stephen King, Michael Chricton, Mario Puzo, Robert Ludlum, atau Dan Brown, pria kelahiran Istambul, Turki tahun 1952 ini belum banyak karya-karyanya yang diterjemahkan dan dapat dinikmati oleh pecinta karya sastra di Indonesia. Benim Adım Kırmızı (2000, My Name is Red) atau SNOW merupakan sebagian kecil dari karya sastra Pamuk yang sudah diterjemahkan. Pada tanggal 12 Oktober 2006 ia dianugerahi Penghargaan Kesusastraan Nobel. Pamuk menjadi slah satu penulis (karya sastra) di antara 102 sastrawan yang meraih penghargaan bergengsi ini.

Nobel merupakaan wasiat Alfred Nobel, seorang industrialis Swedia, dan seorang penemu dinamit, yang didatangani di Swedish-Norwegian Club di Paris pada tanggal 27 November 1895. Penghargaan ini ditujukan kepada siapa saja yang berusaha meningkatkan perdamaian dunia sejak tahun 1901 di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi, Perdamaian, dan ‘SASTRA’.

Sastra? Ya, karya sastra merupakan salah satu kategori yang dipertimbangkan oleh panitia seleksi –untuk kategori sastra ditentukan oleh Swedish Academy– untuk menerima penghargaan nobel. Ini berarti bahwa (karya) sastra sama dahsyatnya dengan penemuan dibidang Kimia seperti yang dilakukan oleh Osamu Shimomura, Martin Chalfie, dan Roger Yonchien Tsien.

Artinya sebuah (karya) sastra juga mampu berkontribusi untuk kemajuan, peningkatan, serta pengembangan kebudayaan sekaligus peradaban dunia sama pentingnya dengan kimia, fisika, fisiologi, dan perdamaian.

Hal ini menegaskan kembali bahwa kekuatan alam ide, keliaran imajinasi, kemampuan mengolah rasa, hingga pandangan ke alam khayali yang diimplementasikan dalam bentuk kata-kata tertulis merupakan ’senjata’ ampuh yang mampu mengguncang dunia, baik dalam pegertian positif maupun negatif.

The Satanic Verses (1988) merupakan salah satu karya sastra dari pengarang India bernama Salman Rushdie. Novel keempat tersebut tidak hanya menggemparkan dari sisi konten karya sastra tersebut, melainkan juga menggemparkan politik dunia (negara)Islam dengan negara-negara eropa.

Pada tahun 1989 di saluran radio Iran, pemimpin politik sekaligus spiritual Ayatollah Khomeini menyatakan bahwa Rushdie keluar dari Islam –meski pada tahun 1990 Rushdie menulis sebuah esai yang membela diri bahwa dia masih memeluk agama Islam– dan memfatwakan hukuman mati kepada Rushdie serta memberikan reward kepada siapa saja yang bisa melaksanakan fatwa tersebut.

Di tahun yang sama pemerintah Inggris memberikan perlindungan terhadap Rushdie. Tidak hanya itu, pada 16 Juni 2007 kerajaan Inggris bahkan menganugerahi Rushdie dengan gelar gelar keksatriaan (knighthhood), gelar kebangsawanan yang diberikan oleh pihak Kerajaan Inggris. Langkah provokatif ini jelas memicu reaksi negara-negara Arab, bahkan Pakistan konon kabarnya sempat berdebat dengan pihak kedutaan Inggris.

Kasus lainnya adalah War of The World. Pada tanggal 30 Oktober 1938 terjadi kepanikan massal, terutama di kawasan pantai timur seperti New York dan New Jersey. Sebuah sandiwara radio yang dipandu oleh Orson Welles yang berjudul War of the Worlds –diadaptasi dari novel karya HG Welss yang berjudul sama– memicu kepanikan tersebut dan tidak hanya berdampak pada pendengar setia siaran radio di jaringan Columbia Broadcasting system, melainkan hampir sebagian besar penduduk dua kota tersebut.

Mereka memercayai bahwa memang telah terjadi serangan makhluk Planet Mars terhadap bumi. Bahwa apa yang diceritakan Orson Welles adalah kenyataan yang terjadi di lapangan. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Professor Richard J. Hand menjelaskan dari sekitar 6 juta pendengar siaran tersebut 1,7 juta di antaranya meyakini kebenaran invasi tersebut dan ada sekitar 1,3 juta yang dilanda kepanikan. Peristiwa ini pun menjadi liputan utama dari semua media cetak keesokan harinya. Bahkan dalam hitungan satu bulan saja ada lebih dari 12.500 artikel di surat kabar yang mengupas hal tersebut.

Beesarnya pengaruh sebuah karya sastra dalam memberikan efek juga bisa dilihat dalam sebuah teori copycat effect – yang juga sering disebut sebagai contagion effect atau imitation effect – yaitu kekuatan besar yang dimiliki media –dalam hal ini karya sastra–untuk mempengaruhi audiens dan membuat ‘epidemik’ karena informasi yang didapatkan di media.

Di abad ke-18 sebuah novel karya penulis Jerman kenamaan Goethe yang berjudul Die Leiden des jungen Werther telah dituding menyebabkan gelombang bunuh diri di kalangan remaja, media juga dituduh sebagai penyebab terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1981 di Inggris, pada awal abad ke-19 polisi Wales meminta media untuk tidak melaporkan secara detail peristiwa bunuh diri yang menggunakan gas beracun karbon monoksida melalui saluran udara dikarenakan kekhawatiran akan adanya imitasi kasus serupa oleh orang lain yang membaca laporan media.

Beberapa kasus di atas membuktikan bahwa hasil karya sastra bisa menjangkau kepada publik yang lebih luas dapat memberikan efek yang kepada audiens. Walau dalam beberapa diskursus terjadi perdebatan serius apakah media karya sastra merupakan alasan satu-satunya yang mendasari seseorang melakukan perbuatan, baik itu positif maupun negatif, namun beberapa penelitian menunjukan data yang cukup mengejutkan berkaitan dengan hal tersebut.

Pada tahun 1956 sebuah penelitian dilakukan untuk melihat tingkat kebiasaan di antara 24 anak-anak yang menonton televisi. Mereka dibagi dalam dua kelompok, satu kelompok menyaksikan film kartun Woody Woodpecker yang mengandung adegan kekerasan dan yang lainnya menonton film The Little Red Hen. Setelah menyaksikan tayangan masing-masing, ternyata anak-anak yang tadinya menonton adegan kekerasan di film Woody Woodpecker lebih memiliki kecenderungan melakukan kekerasan kepada teman bermain mereka yang lain dan juga lebih sering merusak mainan.

Enam tahun kemudian, 1963, Profesor A. Badura, D. Ross, dan S.A. Ross melakukan studi terhadap efek dari hubungan antara kekerasan real di dunia nyata, kekerasan di televisi, dan kekerasan di film-film kartun. Mereka membuat empat kelompok dari 100 anak-anak prasekolah. Grup pertama menyaksikan adegan memaki dan memukul boneka dengan kayu, grup kedua menyaksikan peristiwa yang sama namun ditayangkan di televisi, grup ketiga juga menyaksikan adegan yang sama dalam film kartun, sementara grup terakhir hanya tidak menyaksikan apa-apa. Hasilnya, dalam keadaan tertekan ketiga kelompok yang menyaksikan peristiwa kekerasan tersebut lebih agresif dibandingkan kelompok keempat; bahwa yang menyaksikan adegan kekerasan dalam film juga akan memiki tingkat agresifitas yang hampir sama dengan mereka yang menyaksikan langsung ; dan kelompok pertama dan kelompok kedua lebih jauh agresif dibandingkan dengan kelompok yang hanya menyaksikan adegan kekerasan melalui film kartun.

Begitu juga dengan karya sastra yang dihasilkan. Secara langsung maupun tidak, sebuah karya sastra mampu membenamkan ke dalam alam bawah sadar publik mengenai sebuah keyakinan, kepercayaan, dan argumentasi yang dipaparkan dalam sebuah karya sastra. Tesis dari uraian di atas adalah, ‘jika karya sastra baik yang dibaca, maka minimal akan memengaruhi pola pemikiran tentang apa yang disebut baik oleh pembaca (publik). Sebalinya, karya sastra yang mengandung fitnah, kebencian, nilai-nilai destruktif, dan hal negatif lainnya akan membentuk minimal pola pandang negatif terhadap sesuatu’.

Bayangkan bagaimana sebuah kekuatan karya sastra bisa mendorong seseorang atau sekelompok orang melakukan sesuatu yang luar biasa yang mampu membawa perubahan bagi kebudayaan dan peradaban manusia; sama halnya dengan temuan di bidang kimia, fisika, fisiologi, dan perdamaian.

Nah, antrian panjang berjam-jam untuk menonton film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Habiburrahman ElShirazy merupakan salah satu contoh bagaimana pengaruh karya sastra dalam kehidupan kita.

Alkisah, seorang guru bijak yang tinggal di kaki bukit didatangi oleh seseorang
“Kamu mau belajar?” tanya sang guru.
“Iya, saya ingin menjadi lebih baik,” jawab orang tersebut.
Kemudian sang guru mengeluarkan batu dari dalam sakunya, lalu, “Pergilah ke pasar, dan juallah batu ini!” perintahnya.
Orang itu mengangguk dan langsung pergi disertai dengan harapan bila usahanya berhasil dirinya akan menjadi murid dari sang guru yang terkenal dengan kebijaksanaannya tersebut.
Namun, apa yang didapatinya ketika di pasar?
“Ah, masak batu ini saja dijual.”
“Dikasih saja saya tidak mau.”
“Batu jelek. Buat apa. Paling buat nimpuk anjing.”
Dengan perasaan kecewa, dia pun kembali ke kaki bukit dan melaporkan kepada sang guru. “Bagaimana mungkin saya bisa menjualnya guru?” tanyanya pelan, “bahkan saya sendiri tidak yakin ini batu apa.”
Sang guru tersenyum, “Cobalah ke balik bukit ini dan jual batu tersebut minimal 10 dirham.”
Kening sang calon murid berkerut. Sepuluh dirham? batinnya aneh.
Tapi karena dia ingin belajar dari sang guru, perintah itu pun dijalaninya.
Betul saja, dibalik bukit batu itu tiba-tiba saja banyak orang di pasar menawar batu tersebut; tidak 10 dirham, tetapi sampai 1.000 dirham.
Dengan masih menyimpan tanda tanya, dia pun pulang. “Kok bisa?” tanyanya singkat pada sang guru.
Sang guru pun menjawab, “Itu karena… “

***
Keinginan untuk belajar menulis, menghasilkan karya yang dipublikasikan di media, menerbitkan buku, dan memutuskan menjadi penulis merupakan keinginan setiap orang. Tidak ada orang yang lahir langsung tertulis di keningnya bahwa dia akan menjadi seorang penulis.

Dan untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu yang bisa dilakukan adalah mengikuti ‘Pelatihan Menulis’. Tentu saja dengan harapan bahwa setelah selesai dengan pelatihan tersebut keinginan menjadi penulis bisa diwujudkan; setidaknya sudah mulai bisa menulis yang baik.

Tapi, pernahkan kita berpikir bahwa sebenarnya pelatihan menulis yang diikuti ternyata tidak menghasilkan apa-apa? Menghamburkan uang untuk membayar biaya pelatihan menulis? Tertipu dengan janji-janji muluk institusi/perorangan yang menggelar pelatihan menulis dengan promosi gila mereka? Celakanya lagi, kita sering tidak sadar bahwa sebenarnya kita adalah korban dari penipuan pelatihan menulis itu sendiri?

Kok bisa? Ya, dalam kehidupan ini apa sih yang tidak bisa.

Pernahkah Anda membawa sepeda motor Anda ke apotik karena mogok? Tentu tidak, bukan? Karena apotik bukan bengkel motor yang menyediakan semua peralatan yang bisa memperbaiki motor Anda.

Analogi yang sama berlaku bagi Anda yang tidak ingin tertipu dengan pelatihan menulis. Percayakah Anda bahwa Anda akan bisa menerbitkan buku sementara fasilitator pelatihan menulis itu sendiri tidak pernah menerbitkan buku atau baru satu kali menerbitkan buku? Percayakah Anda bahwa Anda akan bisa menulis artikel yang menarik setelah dibimbing oleh pemateri pelatihan menulis yang ternyata tidak pernah sekali pun menulis artikel di media? Atau, yakinkan Anda akan kaya dari menulis bila Anda mengikuti pelatihan menulis yang mentornya sendiri pun tak punya laptop?.

Ya, di dunia literasi belakangan ini banyak beredar pelatihan menulis dan juga buku-buku yang meniupkan angin surga. Menjanjikan bahwa semua peserta dengan bayaran tertentu akan bisa menjadi penulis hebat, bukunya best seller, dan bahkan menjadi kaya hanya dari menulis.

Ya, sekarang banyak (yang mengaku dirinya) penulis tidak malu-malu memproklamirkan diri mereka sebagai penulis handal dan hebat sebagai mentor kepenulisan. Menggelar pelatihan menulis buku best seller sedangkan bukunya sendiri nggak lebih dari seribu yang terjual. Membuat pelatihan agar jadi penulis terkenal sementara mendengar namanya saja banyak yang tidak pernah. Menggeber acara agar mampu menembus penerbit sementara dia sendiri berdarah-darah bahkan tidak pernah bisa menembus penerbit. Menebar kegiatan kepenulisan sementara dia sendiri tidak tahu metoda apapun untuk melakukan kegiatan tersebut.

***
“Karena apa guru?” Sang calon murid masih saja penasaran.
Sang guru mengusap jenggotnya yang memutih.
“Guru?” desak sang calon murid lagi.
“Apa pendapatmu pertama kali melihat batu itu?” Sang guru malah bertanya.
Maka sang calon murid pun membeberkan pendapat negatif dan pesimisnya soal batu tersebut. Namun, yang masih membuatnya tidak mengerti, “Tapi kenapa batu itu malah laku dan mahal pula?”
Sang guru tersenyum, “Itu karena di balik kemasan batu yang hitam dan kusam tersebut, batu itu sebenarnya adalah berlian.”
“Berlian?” sang calon murid pun ternganga.
“Ya, kalau tidak tahu apa isinya dan tertipu dengan penampilannya, maka percayalah selamanya batu tersebut tidak berharga sama sekali.”
Sang calon murid pun merenung dengan dalam.

***

Tentunya, Anda tidak ingin mendapatkan batu yang tidak ada isinya bukan? Apalagi setelah mengeluarkan tenaga, pikiran, mengorbankan waktu, dan bahkan mengeluarkan sejumlah uang untuk harapan yang besar ternyata Anda malah menjadi korban penipuan. Ugh, gak, deh.

Nah, agar Anda tidak salah langkah dalam mengambil keputusan pelatihan menulis mana yang harus Anda ikuti, beberapa tips berikut mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan;

Pertama, perhatikan siapa fasilitator/mentor/pemateri pelatihan menulis tersebut. Ingat, Anda tidak mungkin belajar kimia dengan guru Bahasa Indonesia bukan? Nah, penting bagi Anda mengetahui bagaimana rekam jejak si pemateri tersebut. Cari informasi berapa banyak buku yang sudah dihasilkannya, berapa kali bukunya best seller, berapa kali tulisannya di muat di media, berapa kali profilnya diliput media, hingga betulkah dia masih menjadi penulis atau jangan-jangan buku terakhir yang ditulisanya hanya satu-dua dan itu pun sudah lima tahun yang lalu.

Kedua, mungkin Anda harus mempertimbangkan ulang jika fasilitator/mentor/pemateri memang penulis atau praktisi perbukuan yang hebat. Loh, kenapa? Ingat dia mungkin penulis buku-buku best seller, tetapi dia bukanlah mentor yang baik. Dia mungkin praktisi industri perbukuan yang terkenal, tetapi belum tentu dia bisa mentransformasikan ilmunya kepad orang lain. Dia mungkin penulis handal, namun bisa jadi Anda tidak akan mengerti satupun perkataannya selama menjadi pembicara. Setiap orang bisa menjadi guru, tetapi hanya orang-orang tertentu yang betul-betul bisa mengelola pembelajaran dengan baik.

Ketiga, bijak dalam mengeluarkan uang untuk mengikuti pelatihan. Jika ada yang gratis, kenapa harus yang bayar? Banyak penulis profesional yang mau membagi ilmunya secara gratis; Anda tidak perlu bertanya langsung kepada sang penulis profesional tersebut, cukup buka blognya dan yakinlah mereka tidak segan-segan membagi ilmu di laman jaringan pertemanan sosial tersebut. Kalaupun Anda harus mengeluarkan uang, perhatikan dengan teliti apakah pelatihan tersebut memang layak untuk dibayar. Tanya kepada mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan; bagaimana hasilnya? Bisa menulis? Bisa menerbitkan buku? Metodenya pas?

Keempat, jangan tertipu dengan angin surga promosi pelatihan menulis. Strategi marketing communications adalah menebar jaring selebar-lebarnya untuk mendapatkan klien. Nah, salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan bujuk rayu yang menggiurkan. Anda harus cermat menelan promosi tersebut, lakukan pengecekan, dan teliti sejauhmana promosi itu menjadi kenyataan.

Kelima, Anda sendiri jangan terlalu berharap banyak setelah mengikut pelatihan. Pelatihan menulis merupakan salah satu cara untuk memperkaya wawasan Anda. Selebihnya tergantung pada sebeberapa kuat Anda belajar, belajar, dan belajar menulis.

***
“Jadi guru, bagaimana dengan nasib saya? Apakah saya sudah diterima menjadi murdi guru?” tanya sang calon murid.
Sang guru berdiri, dia pun berkata sebelum beranjak pergi, “Kan pelajarannya sudah selesai.”

Menulis bagi sebagian besar adalah pekerjaan yang susah-susah gampang; susah menuliskan semua ide yang tiba-tiba saja gampang mampir di benak.Menjadi guru di sekolah, menjadi buruh pabrik, dan menjalani peran ibu di rumah merupakan dunia yang penuh dengan warna sekaligus mulia.

Dalam rangka meningkatkan kepedulian untuk Indonesia yang semakin cerdas melalui menulis, Menulisyuk Komunikata akan menggelar pelatihan gratis menulis untuk guru, buruh, dan kaum ibu. Dengan fasilitator Arul Khan [Penulis 199 buku, dosen jurnalistik, dan pemegang Master of Art di bidang Journalism dan Magister Ilmu Komunikasi], RW Dodo [Direktur matapena, pengelola menulisyuk, dan penulis puluhan buku pengayaan sekolah], Dede Sulaiman, dan semua volunter penulis yang tergabung di Menulisyuk Komunikata.

Bagaimana cara ikut serta?

Anda cukup mengumpulkan 10 orang peserta saja untuk memulai kelas menulis ini. Atau Anda bisa mengadakan pelatihan di sekolah tempat Anda para guru mengabdi, di lokasi pabrik atau di tempat tertentu bagi para buruh, dan di lokasi terdekat dari rumah bagi para ibu.

Semua materi disiapkan oleh tim Arul Khan dan tim Menulisyuk. Dan setiap peserta mendapat kesempatan untuk dipublikasikan ke penerbit yang selama ini bekerjasama dengan Menulisyuk Komunikata.

Kirimkan daftar peserta pelatihan ke email redaksi@menulisyuk.com [redaksi at menulisyuk dot com] dan kami akan segera merespon permintaan Anda untuk menggelar pelatihan dan menyesuaikan jadwal.

INGAT: Pelatihan ini sepenuhnya GRATIS.

Informasi selanjutnya klik www.menulisyuk.com

Kegiatan sepenuhnya disponsori oleh Menulisyuk Komunikata, Mata Pena, Media Cyber Persada, Sedaun Printing, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komunitas Santri, dan Bataviaweb

sumber dari : http://arul.multiply.com/journal/item/126

Older Posts »