RSS

Bagaimana Memenangkan Lomba Blog

Lomba-blog

Saya mencoba berbagi bagaimana pandangan juri ketika memilih konten blog apa yang harus keluar menjadi pemenang. Sekali lagi ini pandangan subyektif saya yang beberapa kali diminta menjadi juri lomba; baik lomba penulisan offline maupun online.

Setidaknya banyak pertimbangan bagaimana sebuah konten blog itu bisa keluar sebagai yang terbaik. Mulai dari persyaratan dalam mengikuti lomba, faktor juri, cara atau gaya menulis, sudut pandang, sampai usaha dalam menampilkan tulisan.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2016 in Catatan

 

Utang Seorang Dosen

Utang-Dosen-

Hari ini, hari perjumpaan kami, ia merasa terkesan sekali ketika saya katakan bahwa saya mengikuti jejaknya. Saya sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

“Selama kita masih ada ikatan dosen dan mahasiswa, maka selama itu pula kita harus menjaga diri. Jangan sampai menggunakan jabatan dosen untuk kepentingan pribadi apalagi jika kepentingan itu ada hubungannya dengan tugas mahasiswa seperti nilai, mengerjakan skripsi atau tesis,” suara Abdurrahman Abror itu masih terasa sama seperti dulu.

Mendengar itu saya tersenyum seraya memandang wajah yang terlihat menua tersebut. Sebenarnya ia sudah pensiun sebagai dosen, namun sampai saat ini ia masih datang di kampus. Kampus memberikannya sebuah ruangan khusus ukuran 4×6 meter di gedung perpustakaan dan setiap 2-3 hari dalam satu pekan ia pasti akan datang dari pagi untuk menyelesaikan tulisannya.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2016 in Catatan

 

Berkunjung ke Masjid Putra Malaysia

Berkunjung ke Masjid Putra Malaysia. Masjid yang menjadi salah satu ikon negara jiran  terletak di Putrajaya dan sebagai salah satu spot untuk selfie . Tidak hanya para wisatawan, termasuk juga blogger traveller, melainkan juga oleh penduduk lokal.

Untuk selengkapnya klik di sini

 
Leave a comment

Posted by on December 18, 2015 in Catatan

 

Sukses Menjadi Bloggerpreneur

Kreativitas bagi bloggerpreneur adalah kunci penting bagi isi atau konten blog  di media sosial dan menarik minat pembaca (klien). Konten adalah raja alias “content is the king” di media sosial. Blog sebagaimana sifat asalnya adalah tulisan (jurnal) pribadi di internet.

selanjutnya klik di sini

 
Leave a comment

Posted by on December 18, 2015 in Catatan

 

Web baru

Buat WPers yang sering mengunjungi WP kang arul, jangan lupa pula untuk mengunjungi rumah baru di www.kangarul.com

 
3 Comments

Posted by on May 9, 2010 in Catatan

 

Cyber as a Cultural Artefact

from corbis.com

Model selanjutnya yang disodorkan Hine adalah internet sebagai artefak kebudayaan (cultural artefac). Menurut Hine, internet tidak hanya  bisa dipahami sebagai sekumpulan komputer yang berinteraksi dengan bahasa komputer itu sendiri, yakni TCP/IP. Kata ‘Internet’ bisa didenotasikan sebagai seperangkat program komputer yang memungkinkan user untuk melakukan interaksi, memunculkan berbagai macam bentuk komunikasi, serta untuk bertukar informasi. Perkembangan program seperti E-Mail, IRC, bulletin boards, MUDS, video konferensi, dan kemunculan WWW atau World Wide Web pada dasarnya adalah pembuktian.

Meski pada awalnya APRAnet sebagai embrio internet muncul untuk kepentingan militer pada tahun 1969, namun kini pemanfaatan internet telah menjangkau banyak bidang. Media massa tradisional seperti koran, majalah, radio, bahkan televisi perlahan-lahan mulai bersaing dengan internet, penyebaran iklan yang bisa menjangkau potential buyer dari berbagai belahan dunia, pertukaran informasi serta data yang bisa lebih cepat dibandingkan jasa pos, gudang pustaka yang bisa mencari lema dan data dalam waktu sesingkat mungkin, transaksi keuangan yang bisa dilakukan secara online, hingga berdakwah pun bisa dilakukan melalui internet. Internet berkembang menjadi komoditas, dan komoditas ini dikemas sedemikian rupa sehingga dapat ditawarkan kepada para pemakai (Hine, 2000:32). Penggunaan internet merambah dari sekadar medium penyampai-penerima pesan menjadi fasilitas untuk membantu pekerjaan, mencari hiburan dan pengisi waktu luang, tempat mencari informasi, serta menjadi sarana untuk melalukan transaksi jual-beli.

Internet juga bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial, baik itu melalui pembacaan terhadap sejarah perkembangan internet maupun kebermaknaan dan kebergunaan internet. Menurut Hine sebagai sebuah sejarah ”internet” merupakan medium yang digunakan oleh pihak militer terutama dalam masa perang dingin, sebagai bentuk ”budaya/culture” internet bisa didekati melalui konteks media massa, sebagai bentuk ”situasional” internet merupakan konteks institusional maupun domestik dimana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri, dan sebagai sebuah bentuk ”metaphorical” yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial. Berbagai bentuk sosial ini memproduksi sebuah objek (budaya) yang dikenal dengan ”Internet”. Artinya, istilah internet tidak hanya sebatas pada pengertian teknologi yang menghubungkan antar komputer semata, melainkan juga terkadang di dalam istilah tersebut adalah fenomena-fenomena sosial sebagaimana yang terjadi dalam interaksi antarindividu secara face-to-face; meski pada beberapa kasus internet memberikan kerumitan dan perbedaan yang menyolok dibandingan fenomena sosial pada umumnya.

Bentuk-bentuk sosial dari objek internet ini berimplikasi pada bagaimana teknologi ini menjadi sebagai bagian akhir dari negosiasi atas proses sosial dimana masing-masing grup yang mengakses internet memiliki pandangan yang berbeda. Di satu sisi beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan keuntungan dan sebaliknya beberapa fenomena yang terjadi di internet malah tidak memberikan apa-apa dari penggunaan teknologi ini (Hine, 2000:33). Pendefinisian ulang terhadap teknologi (internet) yang berdasarkan pada fenomena sosial yang terjadi di dalamnya memberikan makna yang berbeda yang bagi Hine tergantung pada user yang memakai teknologi tersebut; apakah hanya seperangkat mesin komputer atau medium interaksi sosial. Seperti dikutip Hine, Bijker (1987) menjelaskan bahwa ”... that ’artefactual flexibility’ might have captured more explicitly the radical implications of different understanding for what the technology is”.

Internet tidak hanya dihasilkan oleh para produsen perangkat keras komputer semata. (Budaya) internet juga melibatkan internet service providers, pengembang aplikasi perangkat lunak, pengembang situs, kontributor yang terlibat dalam grup diskusi (newsgroup), atau user dari jejaring pertemanan sosial. Bahkan internet bisa dibentuk oleh para biro iklan maupun praktisi pemasaran (Hine, 2000:35). Oleh karena itu, dalam kajian entografi pola-pola pendekatan penelitian terhadap internet bisa dilakukan tergantung dari bagaimana individu memandang ingternet. Dicontohkan Hine, peneliti etnografi bisa melihat bagaimana kebiasaan konsumer perangkat lunak internet yang bermuara pada bagaimana strategi yang dilakukan oleh para produsen perangkat lunak internet itu sendiri. Bahkan menurut Grint dan Woolgar (1997) melihat konstruksi (budaya) komputer melalui produsen perangkat tersebut menjadi jauh lebih mudah untuk memahami etnografi komputer dibandingkan secara langsung melihat perangkat keras itu sendiri. Teknologi sebagai sebuah teks metafora hanya bisa dijangkau secara terbatas dibandingkan menempatkan term teknologi itu sendiri dalam batasan dan sebuah artefak dari teknologi itu sendiri. The technology as text metaphor is therefore less straightforwardly applicable to the Internet than it is to bounded and located technological artefacts”. Dengan demikian (budaya yang terkandung di dalam) internet bisa dieksplorasi dengan menggunakan perspektif etnografi  melalui konstruksi teknologi dan konteks (fenomena sosial-budaya) yang terkandung di dalamnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 

Cyberculture as a Culture

from corbis.com

Internet menurut Hine (2007) bisa didekati dalam dua aspek apabila menggunakan pendekatan etnografi, yakni internet sebagai budaya dan internet sebagai artefak kebudayaan. Perbedaan ini berimplikasi—khususnya untuk para peneliti etnografi—kepada  perbedaan penggunaan metodologi dalam penelitian di satu sisi maupun secara tegas memaparkan keuntungan maupun kelemahan di sisi lain.

Sebagai sebuah budaya (culture),  pada awalnya internet ditenggarai sebagai model komunikasi yang sederhana bila dibandingkan dengan model komunikasi secara langsung atau face-to-face (Baym, 1998). Bahwa interaksi face-to-face tidak hanya melibatkan teks sebagai simbol atau tanda dalam berinteraksi semata. Ekspresi wajah, tekanan suara, cara memandang, posisi tubuh, agama, usia, ras, dan sebagainya merupakan tanda-tanda yang juga berperan dalam interaksi antarindividu. Sedangkan dalam CMC interaksi terjadi berdasarkan teks semata bahkan emosipun ditunjukkan dengan menggunakan teks, yakni dengan simbol-simbol dalam emoticon.

Dengan menggunakan perspektif psikologi sosial, beberapa peneliti seperti Kiesher, Siegel, dan McGuire (1984) maupun Sproull dan Kiesler (1986,1991) mengadakan eksperimen terhadap berkurangnya ikatan sosial yang terjadi antaranggota dalam CMC. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengungkapkan bagaimana perbedaan antara interaksi melalui medium teknologi dan interaksi yang berlangsung secara face-to-face di antara anggota grup dengan memberikan masing-masing grup diberikan tugas. Hasil eksperimen didapat bahwa grup yang mengerjakan tugas melalui medium komputer ternyata memiliki kekurangan dalam ikatan (emosional) sosial dan juga tidak memberikan efek kepada setiap anggota. Teks yang digunakan dalam surat elektonik (electronic mail/e-mail) tidak memberikan tanda-tanda sosial antaranggota seperti jenis kelamin, usia, ras, agama, ekspresi wajah, atau intonation yang pada dasarnya mempunyai pengaruh dalam interaksi secara langsung. Juga, dalam CMC setiap anggota sepertinya tidak memiliki ikatan emosional dan kesadaran bahwa dirinya merupakan anggota kelompok sehingga apa yang mereka lakukan hanya terpaku pada pengerjaan tugas-tugas semata. Berbeda dengan kelompok yang berinteraksi langsung, bahwa setiap anggota tidak hanya memiliki fokus pada pengerjaan tugas semata  melainkan terjadi hubungan atau interaksi antarindividu dalam berbagai topik.

from corbis .com

Namun, penelitian selanjutnya bisa memetakan bahwa meski dalam CMC ikatan emosional sangatlah kabur dibandingkan interaksi lansung, bila dalam kondisi dan situasi  tertentu ternyata melalui CMC tanda-tanda sosial juga memiliki pengaruh. Slaah satunya yang dilakukan oleh Rheingold (1993) melalui eksperimen yang disebut dengan WELL (Whole Eart’Lecctronic Link) yang menggambarkan kondisi dari sekelompok individu yang berinteraksi melalui CMC dalam waktu lama pada akhirnya tetap memunculkan efek terhadap relasi personal antaranggotanya. Virtual communities are social aggregations that emerge from the Net when enough people carry on those public discussions long enough, with sufficient human feeling, to form webs of personal relationships in cyberspace (Rheingold, 1993: 5 sebagaimana dikutip Hine, 2000:17). Begitu juga simpulan yang didapat oleh Curtis (1992) serta Buckman (1992) yang memfokuskan penelitiannya kepada MUDs atau Multi-Usser Dimensions, dimana setiap user atau pengguna internet bisa menjadi siapa saja dan bisa memiliki multi-identitas di internet, menyimpulkan bahwa interaksi melalui CMC pada dasarnya tidaklah berbeda jauh dari konteks sosial yang selama ini dipahami dalam interaksi langsung. Merujuk dari penelitian awal baik dalam WELL maupun MUDs, pada akhirnya linkungan dengan segala fenomena yang ada di internet mengarah pada terbentuknya komunitas virtual, “…that online enviroments can form virtual communities” (Hine, 2000:17).

Selanjutnya penelitian terhadap internet dan penggunanya beralih untuk mengungkapkan persepsi antar anggota sebagaimana yang dilakukan oleh Jones (1995), McLaughlin (1995), maupun Kollock dan Smith (1999). Ada perubahan mendasar tentang konsep relasi yang terjadi melalui CMC, bahwa dalam dunia siber selalu ada relasi sosial yang berarti dan eksis sebagaimana yang terjadi dalam interaksi face-to-face. CMC diposisikan sebagai konteks sosial yang berhubungan dengan interaksi antarindividu dibandingkan hanya sekadar menjadikan CMC sebagai medium untuk menujukkan efek baik-buruk. Perkembangan ini pada akhirnya membawa internet sebagai objek penelitian dari berbagai bidang seperti antropologi, studi media, kajian budaya, ilmu politik, studi komunikasi dan media. Penelitian Mark Smith (1999) yang berhasil memetakan struktur sosial maupun level-level aktivitas yang terjadi di di grup diskusi Usenet. Sedangkan hasil penelitian Reid (1995) menunjukkan bahwa hadirnya budaya melalui MUDs muncul akibat interaksi antaranggota melalui teks bahasa serta setiap anggota membangun caranya sendiri untuk saling berhubungan serta membanguan situasi/lingkungan antaranggota. Pada akhirnya studi terhadap fenomena-fenomena internet, seperti komunitas virtual,  ditenggarai sebagai pendorong untuk melakukan pendefenisian baru terhadap kata komunitas yang selama ini hanya terbatas pada praktik-prakti sosial serta kehadiran fisik semata.

Kritik terhadap studi maupun penelitian terhadap internet bahwa dalam dunia virtual peneliti harus bisa memastikan bahwa sumber-sumber yang didapat memiliki keotentikan dan kredibilitas. Artinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran internet dengan dunia sibernya memungkinkan pengguna atau user bisa menjadi siapa saja dan bisa menjadi berbagai identitas individu. Sebab, bila hanya menyandarkan pada intenet, maka satu-satunya yang menjadi rujukan adalah teks itu sendiri. Teks pria dalam dunis siber ditandai dengak teks P-R-I-A, sementara dalam interaksi face-to-face tanda pria dapat diketahui secara langsung. Inilah yang terjadi dengan Margaret Mead (Freeman, 1996 sebagaimana dikutip Hine, 2000:22) dimana responden di dunia siber yang dipakainya ternyata memberikan keterangan atau informasi palsu. Oleh karena itu, Turkle (1995:324) memberikan penegasan bahwa interaksi yang dilakukan secara online, dalam konteks penelitian, haruslah dapat dipastikan kebenaran identitas responden secara offline atau penelitian telah memastikan bertemu secara face-to-face. Turkle chose not to report on online interactions unless she had also met face-to-face the person involved, considering that for her purposes this level of verification of online identities was required. She acknowledges that this `real-life bias’ is appropriate for her own study, while it may not be so for others (Hine, 2000:22).

 
1 Comment

Posted by on March 3, 2010 in Media Sosial

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.